Minggu 15 September 2024
Oleh : Deswayenti, S. T.
Pengamat Pendidikan dan Politik
(Owner Rumah Peradaban SNC)
Masih ingatkah 26 tahun yang lalu? Indonesia bersatu dalam gerakan Reformasi. Semua element masyarakat serentak berteriak "Keluar! " dari cengkeraman rezim Orde Baru yang kala itu berusia 32 tahun.
Gerakan yang dimotori mahasiswa ini sungguh " Ajaib" dalam waktu singkat perubahan politik nasional berubah cepat. 21 Mei 1998, Presiden Soeharto lengser ke prabon. Tapi sungguh di sayangkan, reformasi akhirnya hanya bermakna tumbangnya Soeharto.
Kita tidak mempunyai tokoh sentral yang siap untuk melakukan perubahan yang shahih pada sistem pemerintahan di negeri ini. Perubahan rezim pun beberapa kali terjadi sampai hari ini semuanya "sami mawon,' rakyat tidak merasakan perubahan yang berarti dalam pergantian pucuk pimpinan negara ini. Hanya berganti rezim bukan sistem.
Karena kenyataan sekarang kehidupan tambah sulit dan perhatian pemerintah semakin tipis terhadap kesejahteraan rakyat kecil. Penyakit bangsa ini pun menjalar ke berbagai sendi kehidupan, hampir semua anak bangsa mengidap sakit kronis.
Belum lagi dengan "kejutan" yang menyesakkan dada yang di lakukan pejabat negara. Menaikan harga BBM, sembako semakin mahal, aset negeri di jual belum lagi keadilan "tetap" barang mahal negeri ini terutama bagi rakyat kecil.
Geram sekaligus sedih reformasi hanyalah sepenggal cerita dari irisan peradaban yang ada di bumi pertiwi ini, dan penulis menjadi saksi bisu atas perjalanannya. 22 Agustus 2024, rakyat kembali berteriak untuk sebuah perubahan di negari ini.
Berbagai elemen masyarakat kembali bersatu mulai dari buruh, mahasiswa, artis bahkan komika tidak tinggal diam melihat upaya untuk "membegal MK". Mereka berorasi demo menolak revisi UU Pilkada di kompleks DPR/MPR, senayan Jakarta. (Jakarta (VOA).
Dan massa pun menyuarakan "Jangan mudah percaya !" saat perwakilan DPR mengaku tidak ada pengesahan revisi UU Pilkada kepada demonstran di depan komplek MPR/DPR. Kekhawatiran diatas bukan tanpa alasan, apalagi melihat kelakuan wakil rakyat di DPR yang semakin tidak jelas visi kerjanya.
Rusaknya akhlak dan moral para elit melahirkan ketidakpercayaan rakyat. Kita perlu perubahan, Kita perlu pemimpin yang taat akan aturan-aturan dalam syariat. Jika kita berbicara perubahan, bergeraknya umat dalam bingkai melawan kedzaliman jangan pernah lupa "nawaitunya", innamal a'malu biniyat.
Kita ingin menyelamatkan negeri ini dari sistem sekularisme, kapitalisme, liberalisme, komunisme yang merusak tatanan kehidupan negara dan masyarakat. Dengan cara apa, kita mengambil alih kendali perubahan? Tiada lain dengan menguatkan dakwah ideologis.
Membina umat menuju pemahaman yang benar bahwa Islam adalah mata air perubahan, Islam mengatur semua aspek kehidupan dan akan membawa negeri ini menuju kejayaannya, bahwa persoalan yang ada sekarang bisa kita atasi bila kita mau menjadikan hukum Islam sebagai pegangan Kita akan sama-sama berjuang memberdayakan umat dengan segala potensinya karena yang terjadi sekarang umat Islam benar-benar dilumpuhkan baik dari pemikiran maupun akidah.
Umat di bikin menjadi tidak berdaya menghadapi kekuatan kuffar. Jihad dan dakwah diperlukan untuk membuat perubahan yg shahih. Karena jihad adalah " Ruh "kebangkitan umat, sedangkan dakwah adalah wahana membangkitkan kesadaran umat dari berbagai kekufuran dan demi tegaknya hukum-hukum Allah.
Melalui dakwah ideologis atau dakwah pemikiran maka seluruh potensi dan kekuatan umat bisa meruntuhkan suatu sistem yang kuffur.
Sehingga akan bangkit kekuatan untuk perubahan membangun peradaban yang baru yang memerangi kemungkaran, kebodohan, kemiskinan dan juga ketidakadilan pada seluruh umat tidak hanya yang beragama Islam dan khilafah dengan sendirinya akan bisa di tegakkan.
Allah SWT. berfirman : "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd : 11) Wallahulam bishawab.