Jumat 13 September 2024
Emirza Erbayanthi, M.Pd
(Pemerhati Masalah Sosial)
Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak mempermasalahkan Azan Maghrib di Stasiun Televisi (TV) diganti oleh Running Text (teks berjalan) saat misa yang dipimpin Paus Fransiskus di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta.
Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Ni'am Sholeh menyampaikan dari aspek syariat Islam, penggantian tayangan Azan Maghrib di televisi menjadi teks berjalan, tidak ada yang dilanggar.(antaranews.com, 4/9/2024)
Toleransi Kebablasan
Penggantian tayangan Azan Maghrib di televisi menjadi teks berjalan adalah masuknya paham moderasi beragama. Tidak ada kebenaran mutlak, semua agama dianggap benar. Lalu, terwujudlah toleransi kebablasan, seperti kumandang azan di televisi yang diganti dengan running text agar tidak menggangu misa akbar.
Miris, toleransi kebablasan, pluralisme, bahkan mengarah ke sinkretisme agama telah nyata dalam moderasi beragama. Kedatangan Paus Fransiskus membawa pesan moderasi beragama di balik kata “perdamaian dan kerukunan” menjadi pemantik penggiringan opini publik, baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini menjadi legitimasi bahwa Indonesia negeri berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia sukses menerapkan moderasi beragama.
Akibatnya, negeri-negeri Islam yang lain akan mengikuti arus moderasi ini. Proyek moderasi beragama masuk melalui banyak jalur.
Diantaranya adalah kumandang azan di televisi yang diganti dengan running text agar tidak menggangu misa akbar. Moderasi ini melemahkan ajaran Islam dan melestarikan penjajahan.
Kumandang azan di televisi yang diganti dengan running text agar tidak menggangu misa akbar melemahkan ajaran Islam dengan menuduh agama sebagai sumber konflik. Imbasnya, penyelesaian masalah tidak lagi bertumpu pada pandangan agama (Islam), tetapi cara pandang sekuler yang mengedepankan pandangan manusia. Moderasi beragama berkontribusi melestarikan penjajahan.
Paus Fransiskus mengatakan, “Jika sungguh benar bahwa Indonesia adalah rumah bagi tambang emas terbesar di dunia, ketahuilah bahwa harta yang paling berharga adalah harmonisasi.”
Pernyataan tersebut meredam potensi Indonesia, seakan tambang emas yang dimiliki tidak lebih berharga dibanding harmonisasi antar umat beragama.
Akibatnya, rakyat harus mencukupkan dan berpuas diri melihat kekayaan alam, seperti tambang emas, dikuasai kapitalis. Yang penting harmonis dan duduk manis meski emasnya dikeruk habis.
Rakyat mana bisa hidup rukun dan harmonis ketika kekayaan alamnya hanya dikuasai segelintir orang. Maka, yang terjadi adalah ketimpangan dan kesenjangan yang memicu konflik sosial berkepanjangan.
Sudah banyak kasus konflik sosial dipicu sengketa lahan dan penguasaan SDA oleh korporasi/swasta. Moderasi beragama hanyalah satu pemikiran cabang dari ideologi sekuler kapitalisme. Sistem ini mengubah negeri-negeri muslim kehilangan arah pandang dalam kehidupan. Islam tidak lagi menjadi tolok ukur perbuatan.
Ketaatan umat Islam terhadap Islam perlahan hilang karena arus moderasi agama. Moderasi agama telah menggerus akidah umat sampai pada tahap mengaburkan ajaran Islam yang benar. Umat mengalami kebingungan dalam beragama.
Toleransi bukan kolaborasi, partisipasi, unifikasi. Toleransi Kebablasan buah moderasi merusak akidah umat. Azan di televisi yang diganti dengan running text agar tidak menggangu misa akbar jelas-jelas mengampanyekan toleransi ala Barat yang selama ini selalu dipromosikan kepada umat Islam agar diadopsi.
Toleransi yang dimaksud bukanlah konsep “lakum dinukum waliyadin” menurut Islam. Tetapi semangat moderasi agar umat Islam tidak kafah dalam menjalankan agamanya dan justru berbelok menjadi muslim moderat. Moderasi beragama tidak menginginkan umat Islam terlalu fundamental meyakini dan menerapkan ajaran Islam.
Umat Islam tidak boleh menjalankan syariat Islam kafah karena dianggap tidak moderat. Jika tidak toleran dan moderat, umat Islam akan dicap radikal dan termasuk fundamentalis. Ini bertujuan menjauhkan umat dari Islam kafah.
Promosi toleransi dan pluralisme oleh Paus Fransiskus merupakan bagian dari moderasi yang diaruskan Barat di Dunia Islam untuk mencegah munculnya Islam ideologis yang mereka sebut sebagai Islam radikal. Kampanye ini penting bagi Barat untuk menjaga eksistensi hegemoninya di dunia Islam.
Tujuannya adalah agar penjajahan Barat atas dunia Islam tetap eksis dan tidak mendapatkan perlawanan dari umat Islam. Umat Islam dikondisikan agar jauh dari agamanya sehingga jauh dari kebangkitan.
Harus Waspada
Umat Islam harus memiliki kewaspadaan pada setiap kata dan pengarusan opini yang berkembang dalam kunjungan Paus Fransiskus beberapa waktu lalu. Umat harus memahami Islam secara menyeluruh agar tidak terjadi salah tafsir atau salah memahami maksud terselubung dalam membaca setiap peristiwa yang berkaitan dengan Islam.
Di antara upaya yang bisa dilakukan adalah: Pertama, memahami Islam kafah sesuai panduan Al-Qur’an dan Sunah. Umat muslim akan memiliki pemahaman yang benar seputar Islam dan ajarannya.
Kedua, kritis terhadap peristiwa apa pun, tidak mudah menelan informasi yang diopinikan media massa ataupun media sosial dengan melakukan pendalaman fakta atas berita yang dipublikasikan ke masyarakat.
Ketiga, memahami makna toleransi yang sesungguhnya dalam Islam. Toleransi dalam Islam adalah membiarkan dan menghormati ibadah nonmuslim tanpa turut campur di dalamnya, baik sekadar mengucap, berpartisipasi (menghadiri), apalagi berkolaborasi dalam perayaan dan ibadah mereka.
Karena Islam mengajarkan prinsip,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
"Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (QS Al–Kafirun: 6).
Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak pernah mencontohkan bentuk toleransi ala moderasi. Saat memasuki Palestina setelah ditaklukkan, Khalifah Umar bin Khaththab ra. enggan memasuki gereja ketika waktu salat tiba.
Ia tidak melakukan itu karena khawatir kalau seandainya dia salat di gereja, kelak umat Islam akan mengubah gereja ini menjadi masjid dengan dalih Umar pernah salat di situ sehingga menzalimi hak umat Nasrani. Inilah toleransi yang sesungguhnya.
Tidak mencampuradukkan akidah dan ajaran Islam, tetapi tetap menunjukkan kemuliaan dan kewibawaan Islam yang memberi rahmat bagi semesta alam dan umat manusia. Keempat, memahami bahaya moderasi beragama adalah pengaburan ajaran Islam, semisal mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan dengan dalih toleransi dan kerukunan.
Islam adalah agama sekaligus sistem yang memiliki paket lengkap dalam menyelesaikan berbagai persoalan manusia, tidak terkecuali dalam aspek berbangsa, menyikapi perbedaan, keberagaman, dan toleransi. Islam tidak membutuhkan tambahan dan definisi lain menurut cara pandang manusia. Islam sudah sempurna dengan syariat berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah.
Islam sebagai ajaran yang dibawa Rasulullah tidak tercampur kapitalisme dan sekularisme. Sudah seharusnya umat Islam menyerukan Islam kafah sebagai pandangan hidup yang khas dan diterapkan dalam setiap aspek kehidupan.
Dengan demikian, sikap toleransi dalam Islam adalah sebatas menghormati, menghargai, dan membiarkan umat agama lain meyakini dan beribadah menurut agamanya. Toleransi dalam Islam bukan dengan bekerja sama (kolaborasi), menghadiri (berpartisipasi), atau bahkan penyatuan (unifikasi) dengan keyakinan dan ibadah mereka.
Kumandang azan di televisi yang diganti dengan running text agar tidak menggangu misa akbar menjadi perkara yang berbahaya karena melemahkan umat Islam, membuat mereka ragu dengan ajaran Islam, sekaligus melanggengkan penjajahan Barat atas umat Islam.
Umat Islam tidak boleh terjebak dalam narasi-narasi yang dibangun oleh Barat, seperti toleransi, moderasi, dan dialog antaragama. Respons atas kezaliman sistem dan penguasa hari ini terhadap umat Islam, umat seharusnya marah dan tidak rida, bukan diam saja saat dizalimi.
Wala’ (loyalitas) umat Islam hanya layak kepada akidah Islam dan bara’ (berlepas diri) dari orang kafir. Umat Islam harus menyadari bahwa saat ini posisinya terjajah oleh orang-orang kafir.
Negara-negara dan orang-orang kafir tidak akan rida hingga umat Islam mengikuti millah (ideologi) mereka.
Dengan demikian, umat Islam harus kembali pada syariat Islam kafah. Islam kafah akan menjadi pembebas umat Islam dari penjajahan dan melindungi mereka dari kezaliman musuh. Wallahualam.