Rabu 11 September 2024
Oleh : Irohima
Di bulan September ini, umat Islam memasuki bulan Rabiul Awal yang merupakan bulan ketiga dalam kalender Hijriyah.
Bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam karena ada tiga peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal yaitu lahirnya Baginda Rasulullah Saw, hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah, dan yang terakhir, adalah tanggal wafatnya beliau.
Meski banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan Rabiul Awal, namun bulan ini lebih identik serta hanya diingat oleh sebagian umat muslim sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw saja, hingga kemudian muncul tradisi peringatan hari lahir Nabi Muhammad Saw yang biasa dikenal dengan Maulid Nabi, yang dilakukan oleh kaum muslim di banyak negara termasuk di Indonesia.
Peringatan Maulid Nabi diyakini oleh beberapa kalangan pertama kali muncul pada zaman Shalahuddin Al-Ayubi di tahun 1193 Masehi, tujuan Shalahuddin mengadakan acara Maulid Nabi untuk membangkitkan semangat jihad kaum muslim yang sedang mengalami penurunan kala itu.
Di Indonesia sendiri, peringatan Maulid Nabi mulai berkembang di masa Wali Songo atau sekitar tahun 1404 Masehi, peringatan Maulid Nabi dilakukan sebagai salah satu syiar agama Islam.
Maulid Nabi dilakukan sebagai bentuk kecintaan umat muslim yang besar kepada Baginda Rasulullah Saw. selain itu, perayaan Maulid juga bertujuan untuk mengingat kembali keteladanan hidup Nabi Muhammad Saw.
Tanggal 12 Rabiul Awal adalah momentum penting untuk mengenang hari lahirnya Rasulullah Saw sebagai manusia paling mulia, penerang langit dan bumi juga kehidupan, serta pembawa rahmat bagi sekalian alam, sayangnya momentum ini masih saja dijadikan nostalgia masa lalu oleh sebagian orang, padahal seharusnya kita jadikan momentum ini untuk memperkuat girah perjuangan dan memperkuat semangat jihad dalam menegakkan kalimat Allah Ta’ala.
Memperingati Maulid harusnya selayaknya bukan sekedar merayakan hari lahir beliau tapi memfokuskan kita pada sosok yang paling berjasa dalam kehidupan dan menjadikan beliau sebagai satu-satunya “Role Model” dalam menjalani setiap aspek kehidupan karena dalam diri Rasulullah Saw terdapat suri teladan yang sempurna dalam berbagai aspek kehidupan.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ahzab [33]:21 yang berbunyi : “ Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) dan (kedatangan) Hari Akhir dan ia banyak menyebut Allah.”
Rasulullah Saw adalah sosok yang sempurna sebagai panutan dalam berbagai hal khususnya dalam hal kepemimpinan.
Dalam krisis kepemimpinan yang telah lama kita alami, kepemimpinan Rasulullah Saw adalah satu-satunya role model terbaik yang mestinya kita ambil dan terapkan dalam kehidupan. Kepiawaian beliau dalam hal kepemimpinan terbukti saat beliau berhasil menyatukan suku-suku, bangsa-bangsa dan meletakkan dasar-dasar kehidupan agama di bawah naungan satu negara yang disebut Daulah Islamiyah.
Dr Michael Hart, seorang tokoh dari dunia barat bahkan mengakui dan menulis dalam bukunya The 100, A Ranking of The Most Influential Person In History bahwa Rasulullah Saw adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang meraih keberhasilan tertinggi dalam bidang agama dan dunia, serta satu-satunya manusia yang menyelesaikan pesan agama secara sempurna, Rasulullah juga orang yang berhasil menggariskan aturan-aturannya dan diimani oleh seluruh bangsa.
Kecerdasan dan kepiawaian Rasulullah Saw membuat Michael Hart tak ragu menempatkan Rasulullah di peringkat pertama sebagai orang yang paling berpengaruh. Michael Hart bukan satu-satunya orang yang dengan jujur mengakui kemampuan Rasulullah Saw, masih banyak tokoh dunia lain yang mengeluarkan pernyataan serupa.
Dan jika orang di luar Islam saja mengakui bahwa kepemimpinan Rasulullah adalah yang terbaik, lantas bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai umatnya ? masihkah kita mempertanyakan akan syariat Islam yang Nabi ajarkan ?
Masihkah kita akan mendebat aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan ? atau masihkah kita akan mengelak dan menolak Islam kaffah yang Nabi bawa ? dan masihkah kita akan mengatakan bahwa Khilafah atau Daulah Islamiyah hanya sekedar romantisme sejarah ?.
sungguh cinta kita kepada Nabi hanya akan menjadi dusta belaka jika kita tak pernah menjalani apa yang diajarkannya. Imam Syafii pernah berkata : “ Jika cintamu benar, tentu engkau akan menaati Baginda Nabi Saw. Sungguh orang yang mencintai akan menaati orang yang dicintai.”
Dalam setiap perayaan Maulid Nabi Saw, kita kerap mendengar para tokoh khususnya penguasa menyeru masyarakat untuk mencintai Nabi Saw, namun realitasnya mereka mengkhianati Nabi Saw dengan tidak menerapkan syariat Islam yang Nabi ajarkan, mereka berlaku zalim dan bersikap lemah lembut kepada musuh Islam sementara dengan saudara seiman bersikap layaknya lawan dalam perang.
Sungguh menakutkan untuk membayangkan jika kelak di hari pembalasan, saat kita meminta syafaat tapi beliau akan diam, dikarenakan diamnya kita akan penderitaan umat. Wallahualam bis shawab