Kamis 5 September 2024
Oleh : Julia Handayani
Mahasiswi UMN Al Washliyah Medan
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) kembali mengabarkan perkembangan terkini di Gaza, Palestina, setelah wilayah itu masih terus menjadi sasaran serangan Israel.
Pembaruan kembali disampaikan pada Kamis (CNBC 22/8/2024) Pasukan Israel mengubah “zona kemanusiaan aman” di Jalur Gaza menjadi tumpukan puing-puing dan abu. Per Agustus 2024, entitas Zion*s Yahudi hanya menyisakan 9,5% wilayah yang disebut “zona aman” bagi warga sipil yang mengungsi. Saat invasi darat Israel ke Gaza awal November 2023, pasukan Israel mengusir ratusan ribu warga sipil dari Gaza utara ke Gaza selatan dan mengeklaim area tersebut sebagai “zona kemanusiaan yang aman."
Meski krisis di Gaza sudah demikian buruk, Israel bersikukuh menolak gencatan senjata. Kebijakan PM Benjamin Netanyahu pun berubah-ubah kendati ultimatum gencatan senjata sudah datang dari pendukung terkuat Israel selama ini, yakni AS.
Sikap Israel ini tentu saja berpotensi memperbesar jumlah korban. Sementara itu, sikap abai dunia Islam terhadap Gaza kian membuat miris.
Negara tetangga sekaligus yang terbesar di kawasan jazirah, yakni Arab Saudi, diketahui tengah membangun 15 stadion megah untuk persiapan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 tanpa sedikit pun peduli dengan tumpahnya darah saudara sesama muslim di Gaza.
Ini semua menunjukkan bahwa sikap abai dunia Islam terhadap Gaza adalah akibat sentimen kebangsaan. Ikatan akidah sesama muslim tidak tampil terdepan dalam menyikapi krisis kemanusiaan besar-besaran di Gaza.
Sebaliknya, ide nasionalisme yang telanjur mengakar di negeri-negeri muslim telah menjadi racun politik yang menyebabkan negeri-negeri muslim tidak berkutik untuk membela saudaranya di Palestina.
Semestinya, para penguasa negeri muslim bisa berbuat lebih banyak dari sekadar mengecam dan mengutuk kebrutalan Israel.
Selain pengiriman militer sebagai langkah strategis, langkah lain yang bisa diambil oleh para penguasa muslim adalah menelurkan kebijakan pemboikotan terhadap produk-produk Israel beserta negara-negara pendukungnya. Namun, langkah-langkah itu tidak diambil.
Ini adalah bukti nyata rusaknya kepemimpinan para penguasa di negeri-negeri muslim.
Rasulullah saw. telah mengingatkan kita dalam sabdanya, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari dan Muslim).
Sungguh, tegaknya sistem jahat kapitalisme telah membuat negeri-negeri Islam mati rasa. Ketakpedulian mereka pada Gaza menegaskan sikap individualistis, padahal Gaza membutuhkan perkara yang lebih tinggi dari sekadar kepedulian mereka. Ini karena krisis di Gaza bukanlah serangan biasa.
Krisis Gaza adalah genosida sebagai konsekuensi brutalnya sistem kapitalisme yang selama ini melahirkan dan mengasuh Israel. Namun miris, para pemimpin muslim lebih sibuk dengan politik sekuler, bahkan lebih rela menjadi antek musuh Islam.
Ini mencerminkan rusaknya kepemimpinan dunia Islam. Lebih dari itu, krisis Gaza tidak hanya berupa krisis kemanusiaan. Krisis Gaza adalah wujud perang ideologi. Di sana terjadi pertarungan antara ideologi kufur kapitalisme dan ideologi sahih, yakni Islam.
Israel yang sangat jemawa dengan dukungan negara adidaya AS merasa aman-aman saja meski selalu menjadi sorotan dan kecaman masyarakat internasional. Sayang, ideologi Islam sebagai lawan yang sepadan bagi kapitalisme, baru diemban oleh individu dan belum diemban oleh negara.
Berhubung Israel adalah negara kafir harbi fi’lan (negara kafir yang sedang memerangi umat Islam secara riil), maka lawan yang seimbang adalah negara yang menerapkan sistem Islam secara keseluruhan di segala lini kehidupan yaitu daulah Islam.
Dalam menghadapi entitas Zionis Yahudi, daulah Islam memiliki kebijakan politik luar negeri berupa dakwah dan jihad. Serangan Israel yang telah menumpahkan darah kaum muslim Palestina, khususnya di Gaza saat ini, membuatnya halal untuk diperangi.
Atas dasar ini, satu-satunya solusi bagi krisis Gaza dan Palestina adalah dengan tegaknya daulah islam. Dengan politik luar negerinya, daulah Islam akan berperan menjadi perisai bagi kaum muslim.
Ini sebagaimana tercantum dalam sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu junnah (perisai) yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ‘alaih).
Rasulullah saw. menyifati bahwa seorang imam (khalifah) adalah junnah (perisai), dan artinya mengandung pujian atas keberadaan imam (khalifah) dan bermakna adanya tuntutan karena informasinya dari Allah dan Rasul-Nya.
Hadis ini mengandung tuntutan dan konsekuensi terhadap tegaknya hukum syariat. Selain itu, pengabaiannya juga mengandung konsekuensi terhadap terabaikannya hukum syariat. Dengan begitu, tuntutan atas keberadaan khalifah tersebut bersifat tegas.
Pemimpin ini yang nantinya akan mengatur segala urusan rakyatnya dimanapun mereka berada dengan dibantu para pembantunya yang juga harus memiliki kepribadian Islam yang kuat dalam dirinya.
Dan hal tersebut hanya dapat terjadi jika diterapkannya aturan-aturan Islam dalam kehidupan. Aturan yang diadopsi dari wahyu illahi rabbi, maka begitu pentingnya dakwah Islam saat ini untuk terus disebarkan ke segala lini kehidupan agar kaum muslimin kembali pada peradaban yang sesungguhnya yakni peradaban Islam. Wallahu a’lam.