Beratnya Peran Ibu Dalam Sistem Sekuler Kapitalis

Kamis 5 September 2024

Oleh: Nor Hamidah

(Pemerhati Sosial)

Nasib pilu dialami seorang remaja perempuan di Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Dia dicabuli kepala sekolahnya yang berinisial J (41) yang juga seorang PNS.

Nor Hamidah

Mirisnya pencabulan ini disetujui dan diketahui ibu kandungnya yang juga seorang PNS berinisial E. Ibu korban menyetujui pencabulan itu dengan alasan untuk ritual penyucian diri. Tak dijelaskan ritual apa yang mereka jalani.

Peran Ibu Tergerus

Miris! Ibu yang seharusnya menjadi pendidik utama justru melakukan kekejian luar biasa. Matinya naluri keibuan dalam sistem Sekuler Kapitalis merupakan fenomena yang terjadi akibat pengaruh mendalam dari Ideologi tersebut.

Naluri keibuan yang dalam Islam dianggap sebagai fitrah atau sifat alami seorang ibu yang mencintai, merawat dan melindungi anak-anaknya, semakin tergerus.

Pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme) mengajarkan tidak ada aturan Ilahi dalam urusan publik, termasuk dalam kehidupan keluarga.

Nilai-nilai agama yang biasanya menempatkan ibu dalam posisi penting sebagai pendidik utama untuk anak-anak mulai terpinggirkan.

Sehingga naluri keibuan yang seharusnya dijaga dan dipelihara oleh agama menjadi lemah. Ibu yang hidup dalam masyarakat Sekuler mungkin tidak lagi merasa bahwa mendidik dan mengasuh anak adalah tanggung jawab seorang ibu yang Allah amanahkan kepadanya.

Anak-anak yang tumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang yang cukup bisa mengalami berbagai masalah emosional dan psikologis. Ini bisa meningkatkan masalah sosial seperti kenakalan remaja, kriminalitas dan penurunan kualitas moral dalam masyarakat.

Peran Ibu Dalam Islam

Peran ibu dalam Islam sangatlah mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi. Bahkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya sangat dipuji dan disebut di dalam Al-Qur’an, seperti Firman Allah:

وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: ”Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjuki lah aku untuk mensyukuri nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang sholeh yang Engkau ridhoi,berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QTS Al-ahqaf ayat :15)

Betapa besarnya kasih sayang seorang ibu, bahkan ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Melalui didikan ibu anak-anak belajar tentang akhlak, ibadah, dan bagaimana menjalankan kehidupan sesuai dengan Syariat Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari, ibu menjadi contoh dan panutan dalam menjalankan dan menerapkan ajaran Islam yang kemudian akan diikuti oleh anak-anak mereka. Kesempurnaan sistem Islam tampak dari sistem pendidikan yang membentuk kepribadian Islam.

Sistem sanksi dan sistem lain yang mampu menjaga setiap individu dalam kebaikan, ketaatan dan keberkahan Allah. Islam juga mewajibkan negara agar mampu menjaga fitrah ibu dan anak juga seluruh umat manusia.

Peran ibu sangat penting untuk menjaga kelangsungan nilai-nilai Islam dan membentuk generasi yang beriman dan bertakwa. Wallahu a’lam bishawab