Rabu 4 September 2024
Nurdianti
(Muslimah Koltim)
Keluarga adalah tempat untuk saling berbagi kasih sayang dan cinta serta saling melindungi. Tapi apa jadinya jika keluarga yang kita anggap sebagai tempat berlindung malah saling menyakiti sampai berujung kepada pembunuhan.
Baru-baru ini, Jumat (23/8/2024) sekitar pukul 21.13 Wita, warga di Kecamatan Balikpapan Barat di gegerkan dengan kasus pembunuhan.
Seorang ibu bernama Hj RK meninggal secara tragis dibunuh oleh anak kandungnya sendiri bernama AR. Pelaku diduga mengalami gangguan jiwa, sehingga menebas leher ibunya menggunakan parang (prokal.co, 24-8-2024).
Dihari yang sama, yakni Jumat (23/8/2024), K (22) warga Desa Kasugengan Kidul Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon, tega menghabisi nyawa ayah kandungnya, yaitu Jana (52).
Bukan hanya itu, K juga melukai adik perempuannya. Sebelumnya, K menganiaya adiknya lalu sang ayah melerainya namun nahasnya sang ayah juga malah dianiaya dan ditusuk dengan pisau dapur sebanyak 3 tusukan di tubuh bagian kiri (metrotvnews.com, 24-8-2024).
Selain itu dikutip dari sindonews.com (24-8-2024), kasus pembunuhan Nizam Ahmad Alfahri (6), oleh ibu tirinya, IF (24) di sebuah rumah kawasan Pontianak, Kalimantan Barat sudah masuk pada proses prarekonstruksi dan terungkap jika korban sudah sering mengalami penyiksaan berupa tindak kekerasan dari pelaku.
Korban yang sempat dilaporkan hilang ditemukan dalam kondisi mengenaskan terbungkus dalam karung pada Kamis malam (22/8/2024). Banyaknya kasus pembunuhan yang dilakukan oleh keluarga terdekat.
Orang tua membunuh anaknya, istri membunuh suami dan sebaliknya, anak membunuh orang tuanya, juga kakak yang membunuh adiknya dan sebaliknya. Jelas, menggambarkan betapa rusaknya bangunan keluarga saat ini.
Kasus di atas hanya segelintir dari banyaknya kasus serupa. Hal ini juga menunjukkan betapa keadaan masyarakat saat ini tengah sakit dan sekarat.
Akar Masalah
Kehidupan sekuler saat ini telah merusak bangunan keluarga. Keluarga yang seharusnya saling menyayangi dan mencintai, orang tua yang seharusnya melindungi anaknya serta anak yang seharusnya menghormati orang tuanya telah berubah menjadi predator yang siap menerkam mangsanya.
Kehidupan sekuler telah menghilangkan naluri berkasih sayang antar keluarga. Kehidupan sekuler telah memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga, masyarakat maupun keluarga yang merupakan institusi terkecil dalam masyarakat telah menjauhkan agama dalam menjalani kehidupannya.
Alhasil, kehidupan tanpa aturan agama akan menjadikan manusia kehilangan arah dan tujuannya, hidup dalam kebingungan serta sulit mengendalikan fitrah gharizah dalam dirinya.
Tanpa aturan agama manusia akan sulit mengendalikan hawa nafsunya. Sehingga, emosi tidak akan terkendali dan bebas melakukan apa saja. Pada akhirnya saling menyakiti satu sama lain dan berakhir merusak hubungan antar manusia.
Memang benar, melemahkan umat dan menghancurkan peradabannya dapat dilakukan dengan cara menghancurkan benteng terakhirnya yaitu bangunan keluarga.
Karena pola asuh dalam keluarga serta relasinya jika disandarkan pada syariat islam maka dapat membentengi keluarga muslim dari kerusakan. Itulah yang tidak diinginkan oleh barat. Sehingga, barat menanamkan akar sekularisme kapitalisme dalam diri umat melalui bangunan keluarga.
Akar sekularisme kapitalisme menumbuhkan hedonisme, konsumerisme, materialisme, individualisme, kesetaraan gender yang membuat bangunan keluarga hancur.
Ayah yang bekerja keras dengan gaji seadanya, ibu yang bekerja membantu perekonomian keluarga serta tidak sedikit demi memenuhi gaya hidup yang hedon pada akhirnya anak kehilangan perhatian yang membuat antara orang tua dan anak terasa seperti orang asing.
Inilah buah busuk dari penerapan sistem sekuler kapitalisme. Lantas siapakah yang harus bertanggung jawab atas rusaknya bangunan keluarga akibat sekularisme kapitalisme?
Tentunya hal ini terjadi secara sistemik. Sehingga, jika berbicara masalah sistem maka negaralah yang harusnya bertanggung jawab.
Tanggung Jawab Negara
Negara bertanggung jawab atas rusaknya bangunan keluarga karena negaralah yang mewujudkan penerapan ide sekularisme kapitalisme dalam sistem kenegaraan dan serta Ideologi yang mengatur kehidupan.
Hal ini tercermin dari absennya negara dari tugas mengurus urusan rakyatnya, dengan kata lain negara abai terhadap masalah umat. Sistem Pendidikan serta kurikulumnya yang sekuler, menempatkan Pendidikan agama hanya sebagai Pelajaran tambahan bahkan diwacanakan akan dihilangkan.
Menjadikan generasi yang lahir dari Pendidikan sekuler menjadi generasi yang hanya memikirkan materi. Kesuksesan hidup hanyalah materi.
Bahkan rela melakukan apa saja demi materi. Bahkan, menganggap orang tua hanya sekedar hubungan timbal balik.
sehingga, merasa tidak perlu untuk berbakti dan hormat kepada orang tua Sistem perekonomian kapitalisme dengan kebijakan-kebijakannya yang berpihak kepada pemilik modal serta menyebabkan kemiskinan ekstrim, memaksa ayah serta ibu harus bekerja lebih keras di luar rumah demi memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandan, pangan, papan, serta Pendidikan dan Kesehatan yang kian mahal.
Hal ini tak ayal membuat anak terabaikan dan kekurangan kasih sayang serta kehilangan peran sosok ayah dan ibu. Sistem hukum atau sanksi dalam peradilan yang tidak bisa memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan.
Pelaku pembunuhan hanya diberikan hukuman penjara beberapa tahun. Sehingga, tidak sedikit dari pelaku kejahatan tersebut Ketika keluar dari penjara malah mengulang kejahatannya Kembali.
Selain itu, hukuman penjara pun ada batas usia. Ketika yang melakukan kejahatan anak yang dikategorikan sebagai anak yang dibawah umur walaupun telah balig Sebagian besar akan lolos dari jeratan hukum.
Solusi Islam
Sangat berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam keluarga adalah benteng yang sangat kuat dalam menjaga penerapkan syariat Islam dalam kehidupan. Keluarga muslim memiliki pola asuh yang sesuai syariat.
Orang tua sebagai madrasah pertama anak akan mengajarkan dan mendidik anak dengan akidah Islam. Sehingga, anak akan tumbuh dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam keluarga juga akan tumbuh rasa saling menyayangi dan mencintai karena Allah. Saling menjaga dan menasehati serta bersama-sama melakukan ibadah serta ketaatan kepada Allah.
Negara khilafah akan menjaga dan melindungi umat dari segala bentuk pemikiran, sistem, dan ideologi yang merusak seperti sekularisme.
Negara akan menjamin terjaganya suasana keimanan dan ketakwaan di tengah-tengah umat dengan memperhatikan berbagai komponennya. Pertama, sistem Pendidikan dalam Islam memiliki visi yang jelas yaitu membentuk generasi yang berkepribadian Islam.
Kurikulum Pendidikan didasarkan pada Akidah dan syariat Islam. Anak-anak akan dididik dan dimotivasi untuk bisa bermanfaat bagi keluarganya berbakti kepada kedua orang tuanya, bermanfaat untuk masyarakat, negara dan tentunya bermanfaat bagi peradaban agung Islam.
Kedua, sistem ekonomi dalam negara khilafah akan memastikan setiap keluarga hidup dalam kesejahteraan. Tugas dan tanggung jawab ditengah keluarga akan berjalan secara optimal.
Ayah akan bekerja sesuai tugasnya, ibu akan fokus menjadi ummun warobatul bait (sebagai ibu dan pengatur rumah tangga) sehingga anak tidak akan kekurangan kasih sayang serta didikan dari orang tuanya terutama ibu.
Ketiga, sistem sanksi dalam Islam bersifat menjerakan. Dalam Islam kaus pembunuhan akan di berlakukan hukum qisas yaitu pembalasan hukuman yang serupa.
Sehingga, pelaku pembunuhan akan di hukum dengan hukuman mati. Selain itu, tidak ada batasan usia dalam pemberlakuan hukum. Karena dalam Islam Ketika anak sudah memasuki masa baliqh maka dia sudah terkena beban hukum.
Itulah Solusi Islam yang komprehensif dalam menyelesaikan segala permasalahan kehidupan termasuk dalam menjaga bangunan keluarga akan senantiasa utuh serta senantiasa terikat dengan aturan Allah SWT.
Sangat jelas, negara sebagai pelaksana atau yang menerapkan sistem bertanggung jawab karena sistem sekularisme kapitalisme yang di terapkan telah merusak bangunan keluarga. Maka tidak ada jalan mengembalikan kembali keutuhan bangunan keluarga selain penerapan sistem Islam yaitu Khilafah. Wallahu ‘alam bissawab