Percepatan Penanganan Stunting, Harus Dianggap Penting

Selasa 13 Agustus 2024

Oleh: Annisa Putri, S.Pd

Pendidik

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus berupaya menurunkan tingkat prevalensi stunting melalui berbagai kebijakan dan intervensi. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah penyelenggaraan Rembuk Stunting Tahun 2024 pada akhir Juni lalu.

Annisa Putri

Rembuk Stunting tahun 2024 mengambil tema percepatan penurunan stunting terintegrasi tahun 2024 dan monev pelaksanaan pengukuran dan intervensi serentak pencegahan stunting.(diskominfo.kaltimprov.go.id) Selanjutnya dikutip dari laman kaltimprov.go.id, Dinas Kesehatan Kaltim Akan Gelar Kegiatan “Aksi Bergizi” di 10 Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur.

Kegiatan "Aksi Bergizi" ini, lanjutnya mencakup peningkatan aktivitas fisik seperti senam, minum tablet tambah darah, dan pemberian edukasi.

Harapannya adalah meningkatkan komitmen remaja putri di sekolah secara rutin, menurunkan anemia pada remaja putri usia 13-18 tahun, meningkatkan literasi sekolah tentang pentingnya tablet tambah darah, berolahraga, dan konsumsi gizi yang seimbang untuk mencegah stunting di masa depan. Ucap dr. Resvianur selaku Kepala Seksi Gizi Kesjangor Dinas Provinsi Kaltim, dalam sambutannya di rapat lintas sektor pada 08 Agustus 2024.

Stunting Perkara Penting

Persoalan stunting sebenarnya jika diperhatikan bukan lagi masalah yang menyasar individu per individu atau keluarga per keluarga, sebab yang terkena stunting juga bukan dua atau tiga anak saja akan tetapi hampir dipenjuru wilayah tanah air ada kasus stunting.

Dengan begitu, ada faktor yang mengkondisikan banyak anak-anak akhirnya terkena stunting. Selanjutnya jika kita lihat, terlepas dari pemberian makan yang kurang atau pola asuh yang salah bukan pure kesalahan orang tua.

Tak bisa dipungkiri stunting erat kaitannya dengan masalah ekonomi bahkan bisa dikatakan faktor terbesar munculnya stunting ialah prihal ekonomi, yakni misal tidak adanya biaya sehingga sulit memberi asupan gizi yang maksimal kepada anak-anak.

Ditambah realita hari ini yang serba mahal maka dengan terpaksa memberi makan anak dengan makanan seadanya yang bahkan tak sehat. Ibarat kata boro-boro mikirin gizi, sehari ada yang bisa dimakan saja sudah sangat cukup bagi mereka.

Dengan begitu, wajar banyak anak yang terganggu pertumbuhan dan perkembangannya, bahkan mengalami gizi buruk dan akhirnya lagi-lagi kasus stunting tak pernah berhenti bahkan terus merangkak naik.

Ironinya hal itu terjadi ditengah suburnya Sumber Daya Alam (SDA) di tanah air. Betapa kaya negeri ini, di wilayah Kaltim saja banyaknya perkebunan sawit, tambang batu bara, minyak dsb yang jika dikelola dengan baik hasilnya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga Kaltim.

Namun sayangnya, saat ini nampak kekayaan bumi pertiwi belum banyak dirasakan hasilnya oleh anak-anak negeri, sebaliknya justru yang terlihat hari ini dikuasai oleh asing dan pemilik modal yang sedang asyik menikmatinya.

Oleh karenanya, jika terus menerus begitu kondisi warga pun tak ada perubahan besar, masih sulit mencari kerja juga masih belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga anak-anak tidak mendapat asupan gizi maksimal.

Dengan demikian, jika benar ingin menekan atau menghapus angka stunting, haruslah dianggap perkara yang penting agar dapat penanganan yang serius, stunting persoalan sistemik.

Maka dengan begitu, tentulah nampak tidak bisa diselesaikan hanya dengan progam yang tidak menyentuh akar masalah. belum cukup hanya dengan aksi bergizi dengan berbagai target kegiatannya.

Tetapi perlu juga peran negara dalam hal mengentaskan kemiskinan, memenuhi kebutuhan masyarakat termasuk bidang kesehatan dan pendidikan.

Islam Solusi Hakiki

Dalam paradigma Islam, negara adalah khodim al ummah. Yakni pelayannya umat mengurusi kepentingan dan kemaslahatan umat. Negara bertugas memberi jaminan dan pelayanan, menjamin penghidupan, kesejahteraan, keamanan, serta kebutuhan dasar rakyat.

Islam memenuhi kebutuhan rakyatnya per individu sehingga terpenuhi seluruh yang mereka butuhkan. Perhatian negara akan remaja puteri pun tidak hanya berupa kesehatan stunting tetapi juga kesehatan mental dan kepribadian.

Dalam Islam pula, negara akan menjalankan roda perekonomian sesuai dengan syariah Islam. Mengelola kekayaan alam yang telah Allah berikan untuk rakyat. Kekayaan alam tersebut harus dikelola mandiri oleh negara, tidak dimiliki oleh segelintir individu atau negara asing.

Hasilnya sepenuhnya dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dan sisanya menjadi salah satu pos pemasukan keuangan negara untuk membiayai sejumlah layanan yang dibutuhkan rakyat.

Penguasaan Sumber Daya Alam (SDA) oleh negara tersebut menjadikan perekonomian negara akan stabil. Sehingga negara mampu memenuhi segala kebutuhan pokok warga negaranya, termasuk pekerjaan akan dijamin penuh oleh negara. Alhasil, para suami atau ayah bisa dengan mudah menjalani kewajibannya dalam mencari nafkah.

Dengan begitu, warga negara bisa hidup dengan tenang tanpa rasa takut dan khawatir sebab seluruh kebutuhan pokoknya sudah dipenuhi negara. Anak-anak dapat tumbuh dengan sehat dan kuat serta mendapat pendidikan dengan kualitas terbaik.

Maka, lahirlah generasi emas yang cerdas juga bertakwa kepada Allah membawa manfaat bagi orang lain. Demikianlah, sedikit gambaran jika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan, niscaya keberakahan dan kedamaian akan datang bagi umat manusia. Wallahu’alam bisshawab.