Minggu 11 Agustus 2024
Oleh: Hasriyana, S. Pd
(Pemerhati Sosial Asal Konawe)
Kasus pergaulan remaja hari ini begitu sangat memprihatikan. Bagaimana tidak, perilaku seks bebas yang dahulunya hanya remaja yang banyak tersandung, namun kini anak-anak bahkan usia TK sudah ada yang tahu bahkan melakukan perbuatan ala orang dewasa khususnya suami istri.
Jika sudah begitu faktanya, lalu mengapa pemerintah justru akan memberikan alat kontrasepsi aman buat anak sekolah dan remaja? Bukankah hal ini justru membuat generasi akan lebih rusak hidupnya. Sebagaimana yang dikutip dari Tempo, 01-08-2024, Presiden Joko Widodo atau Jokowi melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan (UU Kesehatan) resmi mengatur penyediaan alat kontrasepsi bagi anak usia sekolah dan remaja.
Dalam Pasal 103 PP yang ditandatangani pada Jumat, 26 Juli 2024 itu, disebutkan bahwa upaya kesehatan sistem reproduksi usia sekolah dan remaja paling sedikit berupa pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi, serta pelayanan kesehatan reproduksi.
Untuk pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi setidaknya berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi; menjaga kesehatan alat reproduksi; perilaku seksual berisiko dan akibatnya; keluarga berencana (KB); melindungi diri dan mampu menolak hubungan seksual; serta pemilihan media hiburan sesuai usia anak.
Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (kesehatan sistem reproduksi) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan melalui bahan ajar atau kegiatan belajar mengajar di satuan pendidikan serta kegiatan lain di luar sekolah,” tulis Pasal 103 ayat (3).
Kewajiban menyediakan layanan reproduksi salah satunya dengan menyediakan alat kontrasepsi bagi anak sekolah dan remaja atas nama seks aman justru akan menjadikan semakin bebasnya anak bergaul bebas. Hal ini justru akan membawa masyarakat pada tatanan yang rusak moral dan akhlak.
Jika kebanyakan remaja kita hari ini menjadi rusak, lalu bagaimana kondisi negara kita kedepannya? Pun, hal ini seolah menggampangkan bahwa perzinaan atas dasar suka sama suka dengan menggunakan alat kontrasepsi sah-sah saja dilakukan meski itu mendobrak aturan agama.
Padahal menilik lebih jauh, kebebasan melakukan seks yang hari ini saja sudah begitu mudah dilakukan telah banyak menghancurkan masa depan anak, keluarga, masyarakat dan negara.
Apalagi ada isu oleh pemerintah dengan terbitnya PP baru bahwa korban pemerkosaan atau semacamnya boleh melakukan aborsi. Ini justru semakin membuka luas lebarnya perzinahan terjadi. Tidak bisa dibayangkan jika nanti akan ada banyak pembuangan bayi yang tidak diinginkan.
Belum lagi resiko besar bagi perempuan yang melakukan aborsi hingga bisa menghilangkan nyawanya sendiri. Nauzubillah! Hal ini justru berbeda jauh dengan sistem Islam, di mana penyediaan alat kontrasepsi jikapun ada hanya diberikan oleh pasangan yang sudah sah menurut agama.
Tentunya penjualannya tidak akan bebas seperti saat ini. Negara akan mengontrol penuh dan mengawasi penjualan alat kontrasepsi untuk sesuai peruntukannya. Sehingga tidak akan kita temukan kebijakan sistem Islam dalam menyediakan alat kontrasepsi aman untuk anak sekolah dan remaja yang notabene mereka masih fokus sekolah.
Bahkan pengadaannya berbau kepentingan cuan. Di sisi lain negara juga akan menutup keran yang membuka luas perzinahan.
Menanamkan pemahaman islam agar masyarakat takut melakukan kemaksiatan, mengatur/memisahkan pergaulan pria dan wanita kecuali yang dibenarkan syariat, mewajibkan wanita maupun pria menutup aurat sesuai dengan hukum syariat, hingga memfilter tayangan yang bisa membangkitkan syahwat.
Begitu pula halnya dalam kasus aborsi, negara membolehkan jika itu membahayakan nyawa ibu, jika tidak maka aborsi tetap haram dilakukan. Oleh karena itu, kita tidak bisa berharap banyak pada sistem hari ini yang mindset-nya lebih cenderung kepada materi, tanpa mempertimbangkan bagaimana padangan dalam norma agama.
Pun kondisi yang ada saat ini begitu banyak memberi celah kepada kemaksiatan. Untuk itu, kita hanya bisa berharap pada sistem buatan Pencipta, yaitu Allah Swt. yang diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan dan jelas membawa maslahat bagi umat manusia. Wallahu a’lam. (**)