Kamis 8 Agustus 2024
Oleh : Khurunninun
Belakangan ini, kita menyaksikan peningkatan jumlah penderita gagal ginjal pada anak-anak. Meskipun tidak ada lonjakan yang signifikan dalam kasus gagal ginjal yang memerlukan cuci darah, keberadaan masalah ini patut menjadi perhatian kita.
Seperti yang dilansir dari Jakarta, CNN Indonesia - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia ( IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso menegaskan tak ada laporan peningkatan kasus gagal ginjal pada anak.
Hal di atas disampaikan Piprim merespons ramainya isu tentang banyaknya anak yang menjalani terapi cuci darah di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) jakarta.
"Secara nasional tidak dilaporkan lonjakan kasus gagal ginjal yang signifikan sebagaimana tahun lalu ada kasus keracunan EG dan DEG [pada obat]," ujar Piprim dalam keterangan videonya, Kamis (26/7).
Berdasarkan kutipan berita tersebut mengenai keberadaan masalah ini patut menjadi perhatian kita. Salah satu penyebab utamanya yang mendominasi adalah pola konsumsi yang salah atau tidak sehat yang sering kali disebabkan oleh konsumsi produk makanan dan minuman yang tidak sesuai takaran gizi yang standar.
Terjadinya polarisasi pola konsumsi, yang mana konsumsi produk yang mengandung gula berlebihan, bahan kimia tambahan, dan bahan pengawet yang tidak sesuai porsi standar gizi. Karena banyak produk makanan dan minuman yang beredar di Indonesia, yang sering kali diproduksi dengan mempertimbangkan keuntungan finansial di atas kesehatan konsumen.
Dalam sistem kapitalis saat ini, fokus utama pada keuntungan sering kali mengabaikan aspek kesehatan dan keamanan pangan.
Sebagai orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga pola makan anak mereka dengan memastikan konsumsi makanan yang bergizi dan sehat. Pendidikan tentang makanan sehat dan pemahaman mengenai dampak negatif dari konsumsi makanan yang tinggi gula dan bahan tambahan lainnya sangat penting.
Namun, tanggung jawab ini tidak dapat sepenuhnya dipikul oleh orang tua saja. Faktor lingkungan, termasuk kualitas produk makanan yang tersedia di pasar, juga mempengaruhi pilihan makanan anak.
Dalam konteks ini, peran negara sangat krusial. Negara harus menjamin bahwa produk pangan yang beredar di pasar memenuhi standar halal dan thayyib, yaitu yang sehat, bersih, dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam.
Sayangnya, dalam sistem kapitalis saat ini, perhatian terhadap aspek kesehatan sering kali diabaikan, dan regulasi mengenai keamanan pangan sering tidak memadai.
Sistem kapitalis, dimana uang menjadi tujuan utama dalam proses produksi. Hal ini menyebabkan seringnya aspek kesehatan dan keamanan pangan diabaikan, terutama untuk anak-anak. Akibatnya, banyak produk makanan yang beredar tidak sesuai dengan konsep makanan halal dan thayyib.
Sistem kapitalisme menempatkan keuntungan di atas segala-galanya, termasuk kesehatan konsumen. Produsen lebih fokus pada peningkatan profitabilitas daripada memastikan produk mereka aman dan berkualitas.
Hal ini sangat memprihatinkan karena anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif dari makanan yang tidak aman.
Keadaan ini diperparah oleh kurangnya pengawasan dan regulasi yang ketat dari negara dalam menetapkan standar keamanan pangan.
Padahal kita sebagai umat muslim meyakini didalam Islam juga mengatur tentang makanan seperti firman Allah : "Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu." (Al- Baqarah: 168).
Ayat ini menegaskan bahwa makanan yang dikonsumsi haruslah halal dan baik agar tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga mendukung kesehatan fisik dan spiritual.
Dalam hadits, Nabi Muhammad SAW juga telaah mengingatkan umatnya tentang pentingnya memilih makanan yang baik dan halal.
Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah, Nabi bersabda : "Hai manusia , Allah adalah Maha Baik dan Dia hanya menerima yang baik. Dan Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin apa yang Dia perintahkan kepada para rasul, karena Allah berfirman : "Hai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." ( HR. Tirmidzi)
Jika kita merujuk menurut pandangan Islam, negara memiliki kewajiban untuk menjamin pemenuhan bahan pangan yang halal dan thayyib sesuai dengan perintah syariat.
Hal ini berarti negara harus aktif mengontrol industri pangan agar memenuhi ketentuan Islam. Untuk mencapai tujuan ini, negara perlu menyediakan tenaga ahli yang kompeten dalam bidang ini, melakukan pengawasan yang ketat, dan memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang melanggar aturan.
Selain pengawasan dan penegakan hukum, edukasi juga memegang peran penting. Negara harus melaksanakan edukasi mengenai makanan halal dan thayyib melalui berbagai mekanisme dan sarana.
Ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilih makanan yang tidak hanya halal, tetapi juga baik dan sehat. Edukasi ini bisa dilakukan melalui kampanye publik, kurikulum pendidikan, serta media massa.
Kesimpulan
Meningkatnya kasus gagal ginjal pada anak-anak adalah cerminan dari kegagalan sistem kapitalisme dalam melindungi kesehatan dan keamanan pangan. Negara harus mengambil peran lebih aktif dalam mengatur dan mengawasi industri pangan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Dengan demikian, negara dapat memastikan setiap warga negara, terutama anak- anak, mendapatkan akses terhadap makanan yang halal dan thayyib, serta terlindungi dari bahaya yang ditimbulkan oleh produk-produk yang tidak aman. Wallahua'lam.