Senin 29 Juli 2024
Ummu Hawwa
Muslimah Koltim
Adanya peringatan Hari Anak Nasional. Tahun ini merupakan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang ke-40. Melansir dari situs resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA), tema Hari Anak Nasional 2024 ini sama dengan tahun lalu yakni "Anak Terlindungi, Indonesia Maju". (Kompas.com, 23 Juli 2024)
Anak adalah anugrah dari pencipta kepada seseorang yang telah di takdirkan untuk mendapat amanah, dan HAN merupakan bentuk kepedulian terhadap anak-anak namun hanya sebatas Peringatan seremonial, sebab HAN dari tahun ke tahun diselenggarakan tapi tidak ada perubahan bermakna.
Sebab pada faktanya kondisi anak-anak sekarang makin memprihatinkan. Akar permasalahan Hari ini problem anak makin bertambah seperti banyaknya anak menjadi pelaku judol, juga menjadi korban bahkan menjadi pelaku kekerasan.
Stunting juga masih tetap genting, mirisnya pemerintah klaim bahwa angka stunting mengalami penurunan namun nyatanya stunting masih terus ada, terlebih yang berada di daerah pelosok, dan seharusnya ini menjadi perhatian serius pemerintah untuk menjamin kebutuhan rakyatnya dalam hal pemenuhan gizi anak, sebab jika anak tidak terpenuhi kebutuhan gizi sebagaimana seharusnya, maka sulit untuk mewujudkan generasi yang berkualitas.
Kemudian ada fakta yang menunjukkan bahwa sebagian dari pelaku judi online itu adalah anak-anak yang membuat orang tua semakin khawatir, apalagi budaya generasi sekarang itu adalah kebiasaan yang selalu ingin mencoba hal-hal baru namun tidak mampu memfilter apa-apa saja yang bisa ditiru atau dicoba dan apa-apa saja yang seharusnya tidak ditiru, dan ini bentuk dari kerusakan masyarakat hari ini, dimana menganut kehidupan yang bebas, melakukan apapun yang membuat Meraka senang, tanpa menghiraukan baik buruknya suatu tindakan.
Kemudian di sisi lain berbagai macam kejahatan dihadapi oleh anak-anak mulai dari kekerasan seksual korban dari pedofil, bullying, bahkan sampai pada korban atas ketidak harmonisan yang terjadi di dalam keluarga menjadikan anak rapuh, sehingga mudah terlibat dalam pergaulan bebas, tawuran sampai pada penggunaan narkotika.
Belum lagi yang bikin miris di mana anak-anak sudah tidak bisa dijamin 100% aman, bahkan yang namanya sekolah pun bisa menjadi tempat terjadinya kriminalitas terhadap anak seperti menjadi korban sodomi, dan kekerasan seksual lainnya, inilah bukti kegagalan pemerintah dalam memenuhi keamanan anak, walaupun pemerintah sudah membentuk komisi perlindungan anak, namun nyatanya itu tidak membuahkan hasil yang signifikan dalam menjaga anak.
Solusi yang dilakukan pemerintah tidak menyentuh akar masalah, dimana masalah yang di hadapi anak begtu kompleks, dilingkungan keluarga kadang mendapati ketidak harmonisan keluarga, yang mampu mempengaruhi mental anak, kemudian lingkungan masyarakat yang tidak ada kontrol terhadap perilaku-perilaku yang mampu mengancam keamanan anak, serta kurangnya perhatian pemerintah terdapat memenuhi hajat dari tiap anak dan individu secara keseluruhan.
Inilah berbagai fakta yang terjadi di negeri ini yang membuktikan bahwa pemerintah tidak becus dalam mengurusi rakyat, dan ini adalah keniscayaan dalam sistem demokrasi -sekularisme dimana aturannya berasal dari manusia, yang dimana manusia itu sifatnya terbatas, tidak mampu mengatur diri sendiri, akhirnya berbagai macam problem yang ditimbulkan,termasuk keluarga yang tidak harmonis yang berdampak pada anak, dimana Peran keluarga dalam mendidik anak makin lemah, sementara sistem Pendidikan hari ini justru membentuk generasi sekuler dan sistem ekonomi gagal membuat sejahtera.
Islam menjaga anak Islam memandang penting keberadaan anak sebagai generasi penerus peradaban, karena itu kewajiban negara adalah menjamin pemenuhan kebutuhan anak, dalam berbagai aspek seperti menjamin kebutuhan gizi anak agar mampu tumbuh dan berkembang menjadi generasi emas, yang mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, dan mendukung potensi tiap anak dengan menyediakan sarana untuk memaksimalkan potensi setiap anak.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. " (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 233)
Ini menunjukkan bahwa keluarga memang betugas untuk memenuhi kebutuhan anak dan melindungi anak, yang bukan hanya memenuhi kebutuhan dalam bentuk sandang tapi yang tak kalah penting memenuhi kebutuhan kasih sayang setiap anak, sehingga anak merasa tenang dan nyaman ketika bersama keluarganya, sehingga anak pun jadi anak yang berprestasi serta memiliki kepribadian Islam.
Kemudian di dalam Islam keluarga dituntut untuk mengoptimalkan fungsinya sebagai tempat pendidikan awal anak, bahkan memberikan edukasi pranikah kepada masyarakat yang akan menikah, sehingga ketika berkeluarga sudah mengetahui secara keseluruhan seperti apa tugas dari keluarga itu sendiri dan mampu mencetak generasi yang cemerlang, sesuai dengan kaidah Islam serta mempunyai syaksiyah Islam.
Dan di luar lingkungan keluarga pun negara telah menjamin keamanan anak, dengan cara menumbuhkan aqidah yang kuat di setiap individu sehingga akan tercipta masyarakat yang mempunyai kepribadian Islam.
Dengan demikian anak akan terhindar dari berbagai macam contoh kerusakan akhlak pada masyarakat, bahkan jauh dari tindak kriminalitas. Islam pun menjaga anak, baik dari segi mental maupun fisik dan itu memang merupakan tugas negara.
Sebab hanya negara lah yang mampu menjaga secara keseluruhan, dan ini hanya bisa terlaksana tatkala adanya negara yang menerapkan seluruh aturan Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-sunah. Wallahu 'alam bissowab