Sabtu 13 Juli 2024
Oleh : Perwita Sari
(Aktivis Muslimah)
Akhir-akhir ini marak pemberitaan kasus bunuh diri menghiasi negeri tercinta yakni Indonesia. kasusnya pun menimpa dari kalangan remaja, mahasiswa maupun orang tua.
Rupanya kesehatan mental masyarakat tidak baik-baik saja. Bukan tanpa sebab, pemicunya beragam baik depresi tekanan psikologi, lilitan ekonomi, ditinggal orang yang dicintai, hingga kesehatan karena penyakit kronis yang tidak kunjung sembuh.
Di lansir dari cnn.Indonesia,com (2/7/2024), Terdata dalam Pusat Informasi Kriminal Indonesia (Pusiknas) Polri, menyatakan kasus bunuh diri paling tinggi di Indonesia angkanya mencapai 3,07.
Angka ini adalah rata-rata berdasarkan jumlah bunuh diri di Bali kemudian dibandingkan jumlah penduduk yang berkisar 4,3 juta jiwa. Dihitung mencapai 135 kasus, maka angka ini tergolong tinggi.
Sedangkan kasus di Yogyakarta menempati peringkat kedua kasus bunuh diri dengan angka rata-rata sebesar 1,58, kemudian peringkat ketiga di susul wilayah Bengkulu dengan angka sebesar 1,53.
Kemudian di susul aceh dengan angka sebesar 0,02. Jika dulu kesehatan mental ini hanya di pandang sebelah mata kini justru menjadi permasalahan utama, karena semakin hari peningkatan kasus meningkat tajam.
Tidak dipungkiri penyebab orang depresi memang banyak, apalagi di tengah pergolakan ekonomi saat ini yang liar tidak menentu. Kenaikan barang pokok beras, tepung, minyak goreng, dan kebutuhan pangan lainnya meroket tajam.
Sedangkan ruang pekerjaan tidak banyak tersedia, jika pun tersedia hanya sedikit yang bisa mendapatkannya sesuai jenjang pendidikan tertinggi tentunya. Tidak dapat dipungkiri pemenuhan kebutuhan nafkah hingga hari ini terasa sulit.
Masyarakat kecil harus terseok-seok demi memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Rela mengontrak rumah kontrakan yang sempit asalkan keluarga bisa bernaung di saat panas dan hujan menerpa.
Bahkan biaya pendidikan pun mahal banyak peserta didik harus berhenti melanjutkan kuliah ketika UKT sudah terlampau mahal. Ditambah lagi penerapan kehidupan kapitalistik cara pandang kehidupan hanya di nilai dengan materi.
Semua mencoba untuk mencari peruntungan dengan membuat konten yang menampilkan budaya flexing (pamer kekayaan).
Terkadang konten yang di tampilkan mengandung unsur porno, terlihatnya aurat sehingga membangunkan syahwat laki-laki untuk melakukan kejahatan maupun hal-hal yang di larang agama.
Efek dari penerapan sistem kapitalis menjadikan kesejahteraan masyarakat harus tergadaikan. Terutama dalam hal ekonomi, ekonomi kapitalis telah menjadikan orang kaya menjadi semakin kaya, sedangkan orang miskin menjadi miskin. Karena orang miskin tidak memiliki harta yang cukup untuk melakukan usaha.
Disisi lain kesehatan yang tidak bisa diakses secara cuma-cuma. Meskipun menggunakan nama BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, tetap saja kesehatan tetap tidak di jamin sepenuhnya oleh negara.
Sehingga masyarakat harus menanggung biaya kesehatan mandiri. Tawaran-tawaran dan iklan pinjaman online terus menggempur menghiasi ruang-ruang media sosial.
Menjanjikan pembiayaan hutang yang berbunga kecil serta kemudahan-kemudahan yang lain. Walhasil masyarakat tergiur hingga lupa, hutang dengan penambahan riba atau bunga itu merupakan tindakan salah yang akan menghantarkan bagi para peminjam menjadi depresi, dan bingung untuk mengembalikan pinjaman yang semakin besar kelipatannya.
Apalagi riba atau bunga merupakan hal yang di larang dalam agama Islam. Kesehatan fisik saja tidak terjaga apalagi kesehatan mental.
Wajar saja jika peraturan yang tidak berdasar pada hukum Allah SWT diterapkan akan membuat masyarakat kecewa. Karena sistem ini telah menjadikan individu pemegang kekuasaan hanya mementingkan isi perutnya.
Rakyat tidak lagi menjadi utama. Sehingga jelas dapat dinyatakan sistem kapitalisme dengan wujud pemerintahan demokrasinya ketika diterapkan di negeri ini, telah gagal menjaga kesehatan mental. Kesehatan mental akan terjaga hanya dengan Islam.
Karena Islam menjamin rakyatnya dari kebutuhan pokoknya baik pangan, sandang, papan ,pendidikan, dan kesehatan. Rakyat akan di berikan fasilitas-fasilitas yang memadai dan akses-akses pelayanan publik yang terbaik untuk keberlangsungan pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Permasalahan kehidupan akan diselesaikan dengan asas keadilan. Perekonomian berjalan dengan prinsip menjaga distribusi ditengah-tengah masyarakat agar rakyat sejahtera.
Jika pelayanan negara kepada rakyat benar-benar maksimal dan mudah di akses serta diberikan secara gratis pastilah mampu menjaga kesehatan mental masyarakat. Wallahu’alam bishowab