Senin 8 Juli 2024
Penulis: Anggia Widianingrum
Memiliki keluarga ideal adalah dambaan setiap insan manusia. Mencintai keluarga dan ingin memberikan yang terbaik bagi keluarga adalah naluriah yang diberikan oleh sang pencipta manusia sejak awal penciptaannya.

Gambaran keluarga ideal tak hanya terpenuhinya seluruh kebutuhan jasmani mulai dari pemenuhan nutrisi, tempat tinggal yang nyaman, layanan kesehatan yang profesional sampai pendidikan yang berkualitas.
Tapi juga terpenuhinya hak dan kewajiban suami-istri, mempunyai anak yang baik, solih-solihah juga merupakan dambaan setiap keluarga. Keluarga juga memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter seorang anak sebagai generasi penerus keluarga bahkan suatu bangsa.
Ia akan mengambil peran di tengah masyarakat bahkan negara, maka sudah seyogyanya hal ini menjadi perhatian besar bagi semua pihak yang terkait.
Senada yang di sampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy pada pidato mewakili Presiden Jokowi pada puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 tahun 2024 pada Sabtu (29/6/2024) di Semarang yang bertema "Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas."
"Keluarga merupakan penentu dan kunci dari kemajuan suatu negara," ujarnya.
Maka dari itu pemerintah tengah menyiapkan program keluarga berkualitas dimulai sejak prenatal (masa sebelum kehamilan), masa kehamilan, dan masa 1000 hari pertama kehidupan manusia.
Dimulai memberikan tablet tambah darah pada remaja putri guna memastikan mereka betul-betul sehat dan kelak setelah menikah siap hamil, bimbingan bagi calon pengantin, cek kesehatan sebelum menikah, cek HB darah, cek lingkar tangan dan memberikan intervensi gizi bagi ibu hamil dan bayi sampai 1000 hari pertamanya.
Menyiapkan fasilitas pemantauan kesehatan dan gizi ibu dan bayi terstandar di posyandu dan puskesmas mulai dari alat timbang terstandar, alat ukur antropometri, juga petugas penyuluh gizi. Dikutip dari laman kemenkopmk.go.id (30/6/2024)
Dalam acara tersebut hadir pula kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo yang mengajak para orang tua, tokoh masyarakat, pemerintah dan swasta untuk sama-sama membangun negara dimulai dari membangun keluarga.
Ia juga menambahkan agar keluarga ikut serta mencegah terjadinya stunting dengan memperhatikan makanan sehat untuk anak.
"Jangan lupa perhatikan pemenuhan makanan sehat bagi keluarga dan kembalilah ke meja makan agar keluarga bebas stunting", tambahnya. liputan6.com (29/6/2024)
Problematika Kompleks Umat
Tak ada yang salah dengan upaya-upaya pemerintah di atas. Namun perlu menjadi perhatian, apakah pelaksanaan teknis di lapangan sudah betul-betul terlaksana secara konsisten, atau hanya sekadarnya saja.
Mengingat banyaknya keluhan masyarakat atas pelayanan pemerintah di sektor publik maupun kesehatan. Memang betul bahwa seorang ibu memegang peran sentral dalam sebuah keluarga dalam mengatur, mendidik, bahkan mewarnai karakter seorang anak.
Namun apalah jadinya ketika seorang ibu yang memiliki peran penting ini disibukkan dengan berbagai tekanan hidup, bahkan menjadi tulang punggung bagi keluarganya.
Ditambah kebijakan negeri ini tentang pemberdayaan perempuan begitu deras yang mendorong perempuan agar berkiprah di luar rumah sejajar dengan laki-laki.
Bagaimana ia akan mendidik anak-anaknya? Kemudian tingginya angka kemiskinan dan stunting disebabkan sulitnya mengakses bahan makanan bernutrisi akibat mahalnya segala jenis kebutuhan pokok pangan. Belum lagi tingginya angka pengangguran dan PHK, yang memunculkan masalah turunan misal KDRT, jeratan pinjol, judol, perceraian, dan lain sebagainya.
Belum lagi masalah pendidikan sekuler hari ini, tawuran pelajar, bully, pergaulan bebas yang semakin mengkhawatirkan. Kurikulum yang hanya mengacu pada capaian materi semata, alhasil output pendidikan hari ini jauh dari nilai-nilai spiritual dan karakter islami.
Semua itu akibat kebijakan negara yang tidak tepat sehingga memunculkan beragam masalah pada keluarga. Sehingga definisi Generasi Emas yang hendak diwujudkan menjadi tidak jelas seperti apa. Maka sangat tidak berlebihan jika dikatakan bahwa peringatan ini hanya sekedar seremonial saja, karena berbagai faktanya sangat kontradiktif.
Akar Masalah
Peringatan Harganas ke-31 ini hendaknya jadi bahan evaluasi dan mencari solusi fundamental agar generasi emas bukan sebuah ilusi. Akar semua masalah saat ini adalah kebijakan penguasa yang tidak berhukum pada hukum Allah SWT dan memilih sistem kufur Sekuler Kapitalis Demokrasi.
Sistem yang tegak diatas pemisahan agama(Islam) dalam mengatur rakyatnya, sehingga manusia bebas membuat hukum, walhasil yang kuatlah yang bebas membuat hukum sehingga sangat berpeluang berpihak pada diri dan kroninya.
Pejabat dalam Demokrasi ibarat pekerja yang di beri upah dari rakyat. Dengan slogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, pada kenyataannya pejabat bukan bekerja untuk rakyat yang lemah melainkan mengabdi pada yang kuat dalam hal ini pemilik modal.
Sekuler menjadikan pejabat tak takut bahwa amanah yang di pegang akan di mintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT atas rakyat yang ia pimpin.
Solusi Generasi Hanya Islam Kaffah
Islam sebagai Din yang sempurna telah menurunkan berbagai pemecahan masalah kehidupan tak terkecuali masalah generasi. Islam mempunyai pandangan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam mencetak generasi penerus peradaban.
Maka negara dalam Islam akan sungguh-sungguh dalam meri'ayah rakyat dengan Islam agar institusi terkecil bernama keluarga bisa mendidik putra-putrinya dengan Islam pula. Seorang ayah yang paham dengan ke qowamannya akan menjadi menjadi tulang punggung dan pelindung bagi istri dan keluarganya.
Seorang istri pun paham akan kewajibannya memenuhi hak suaminya dan mendidik anak-anaknya dengan menanamkan keimanan yang kokoh. Pendidikan yang berbasis akidah islam menjadikan akhirat sebagai tujuan dengan beramal di dunia untuk kemaslahatan umat.
Jadilah para intelektual yang beriman yang menguasai tsaqofah Islam dan teknologi sehingga tidak menyalah-gunakan keahlian yang dikuasai.
Peran utama negara dalam penerapan ekonomi Islam dengan penguasaan sumber-sumber pendapatan negara maupun harta milik umum. Yang semua itu di alokasikan untuk mencukupi kebutuhan rakyat dan pemenuhan fasilitas-fasilitas umum. Memberantas riba dan menumbuhkan sektor-sektor ril.
Kemudian penerapan Islam dalam negara, akan menjadikan individu-individu masyarakat bertakwa dan tidak segan beramar makruf nahi munkar apabila terdapat pelanggaran syarak di masyarakat. Yang terakhir penerapan sanksi Islam bagi pelanggarnya.
Sanksi Islam yang tegas bersifat menjerakan akan meminimalisir angka kriminalitas yang berdampak pada rasa aman dan tenang dalam masyarakat. Semua itu menjadi tanggungjawab negara dan penguasa, karena di pundak mereka lah urusan umat di serahkan. Termasuk membina keluarga.
Sebagaimana hadis Rasulullah Saw yang artinya: "Sesungguhnya seorang imam (penguasa) itu (bagaikan) perisai. Orang-orang berperang di belakangnya, dan juga berlindung dengannya. Maka jika ia memerintah (berdasarkan) takwa kepada Allah ta'ala dan berlaku adil, maka baginya pahala. Akan tetapi jika ia memerintah tidak dengan (takwa pada Allah ta'ala dan berlaku adil) maka BB ia akan mendapatkan balasannya". [HR. Muslim]
Maka sudah sepatutnya mencampakkan sistem kufur Demokrasi Sekuler Kapitalis dan menegakkan Islam kaffah dalam naungan Khilafah sehingga wujud generasi emas bukan utopis. Wallahu alam bishowwab []