Generasi Rusak Kian Parah, Tuntaskan Dengan Islam Kaffah

Minggu 7 Juli 2024

Oleh: Lisa Oka Rina

Pemerhati Kebijakan Publik

Seorang pemuda tega menganiaya ayahnya sendiri yang sedang sakit stroke hingga meninggal dunia. Peristiwa miris itu terjadi di Pekon Padang Rindu, Kecamatan Pesisir Utara, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.

Lisa Oka Rina

Pelaku berinisial S (20) akhirnya ditangkap polisi saat bersembunyi di rumah kosong dekat kediamanya. Penangkapannya dua jam setelah ibunya melaporkan kejadian itu ke Mapolsek Pesisir Utara.

Tersangka diketahui memukul kepala ayah kandungnya berinisial SY (59) berkali-kali hingga korban yang sedang stroke meninggal dunia. Kejadian bermula ketika S sedang makan lalu dimintai tolong oleh sang ayah yang sakit stroke untuk diantar ke kamar mandi.

Namun tersangka menolak dan terjadilah cekcok. Anak durhaka itu lalu memukul ayahnya berulang kali di bagian kepala hingga tak sadarkan diri. Korban sempat mendapat perawatan di Puskesmas setempat, namun nyawanya tak tertolong.

Kepada polisi, S mengaku sering terlibat cekcok dengan ayahnya. Menurut warga sekitar, pelaku diketahui sering menghisap lem untuk mabuk. (Okezone.com 14 Juni 2024)

Begitu sedih dan tidak habis pikir, kejadian-kejadian rusak ini semakin parah dan menjadi-jadi. Inilah akibat penerapan kehidupan yang sekularis-kapitalis di tengah kehidupan kita meskipun negeri ini mayoritas muslim.

Pandangan sekuler telah nyata merusak dan merobohkan pandangan mengenai keluarga. Sekularisme melahirkan manusia-manusia miskin iman yang tidak mampu mengontrol emosinya, rapuh dan kosong jiwanya.

Karena watak asli kehidupan sekuler adalah menyingkirkan nilai agama dalam setiap tindak tanduknya.  Kapitalisme pula yang menjadi sumber malapetaka karena menjadikan materi sebagai tujuan, yakni kebahagiaan di ukur dan disandarkan kepada materi yang melimpah, rumah mewah, kehidupan flexing dan sebagainya, yang akhirnya membuat muslim tadi abai pada keharusan untuk birrul walidain kepada orang tuanya.

Sistem pendidikan sekuler tidak mampu bahkan gagal, mendidik generasi agar memahami birul walidain, memahami agamanya dengan mendalam bahkan pendidikan sekuleris gagal menyelamatkan keberadaan manusia.

Yang terjadi malah melahirkan generasi rusak antar sesama manusia, dan rusak pula hubungannya dengan Allah Sang Pencipta dirinya. Penerapan sistem hidup kapitalisme yang berorientasi kepada materi dan bahagia karena banyak materi, kapitalisme ini juga yang telah gagal memanusiakan manusia.

Fitrah dan akal manusia tidak terpelihara, malah menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya yaitu sebagai hamba dan khalifah pembawa rahmat bagi alam semesta.

Maka lahirlah generasi rusak dan merusak. Dan hal ini tidak akan muncul ketika menjadikan dan menggunakan islam  dalam sistem kehidupan, karena menjadi sebuah konsekuensi mutlak, bagi setiap muslim, untuk mengatur kehidupannya berdasarkan aturan-aturan islam, sebagaimana Nabi Muhammad SAW tegaskan "Aku telah tinggalkan kepada kamu umat islam, kalau kamu berpegang teguh padanya, kamu tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya" (HR. Imam Malik dalam kitab Al-Muwatho').

Sistem pendidikan islam sudah memuat berbagai rincian dalam mendidik generasi agar mereka menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam, karena agama yang menjadi asas kurikulum pendidikannya.

Sehingga perbuatan berbakti dan hormat pada orang tuanya, menyayangi kepada yang lebih muda, memiliki adab dan akhlak islam, bahkan membentuk dan memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi, itu pun berasaskan agama, yakni prinsip pahala dan dosa.

Sistem media juga memiliki andil besar untuk menjaga suasana keimanan di tengah-tengah masyarakat. Sistem media diatur dengan basis agama, yakni segala informasi, tayangan, film dan sebagainya, layak dan baik disebarkan adalah karena akan berkolerasi meningkatkan ketaqwaan dan keimanan masyarakat.

Hal ini pasti bisa menekan bahkan menutup celah keburukan yang bisa mempengaruhi masyarakat. Dan kesemua hal tersebut, akan sungguh-sungguh dilaksanakan oleh penguasa/negara yang tunduk di bawah aturan-aturan islam, karena tanggung jawab itu sudah diamanatķan langsung dari Allah SWT, "Imam adalah Raa'in (pengurus rakyat) dan dia bertanggungjawab atas pengurusan rakyatnya" (HR. Al-Bukhari). Wallahu'alam bishowwab