Marak Anak Durhaka, Bukti Rusaknya Generasi

Sabtu 6 Juli 2024

Nurdianti Jahidin, S.Km

(Muslimah Koltim)

Fenomena malin kundang modern atau anak yang durhaka terhadap kedua orang tuanya semakin meresahkan bahkan membuat elus dada.

Pasalnya, bukan saja membantah orang tua tetapi sampai melakukan pembunuhan kepada orang tuanya sendiri. Baru-baru ini viral di media sosial seorang pedagang ditemukan tidak bernyawa di sebuah toko perabot kawasan duren sawit, jakarta Timur.

Hasil dari penyelidikan polisi, pelaku pembunuhan adalah dua anak perempuan korban sendiri yang masing-masing masih berusia 17 dan 16 tahun. Kedua pelaku menusuk ayahnya sendiri menggunakan pisau. Modusnya karena merasa sakit hati setelah dimarahi ayahnya karena mencuri uang ayahnya. (Liputan 6, 23-6-2024)

Kasus serupa juga terjadi beberapa hari yang lalu. SPA (19), yang merupakan warga Pesisir Barat, Lampung, melakukan penganiayaan terhadap ayah kandungnya sendiri yang menderita stroke.

Korban dianiaya hingga tidak sadarkan diri dengan kondisi penuh darah. Korban sempat dilarikan ke puskesmas terdekat dan sempat dirawat inap, namun keesokan harinya korban menghembuskan napas terakhirnya.

Modus pelaku menganiaya korban karena tersulut emosi saat diminta korban untuk mengantarnya ke toilet. (Tribun Lampung, 13-6-2024)

Generasi Malin Kundang

Peribahasa "air susu dibalas dengan air tuba" mungkin bisa menggambarkan fenomena "malin kundang modern" diatas. Orang tua yang senantiasa menyayangi anaknya, merawat hingga rela berkorban demi anak yang dicintainya, ditimang-timang, digendong-gendong dan diayun-ayun tetapi malah membalas kasih sayang itu dengan merenggut nyawa orang tuanya sendiri.

Hanya karena sakit hati dan emosi sesaat, lalu hilang segala kebaikan orang tua. Naudzubillah min dzalik. Dua kasus diatas hanya mewakili dari sekian banyak kasus anak durhaka yang membunuh orang tuanya.

Hal ini menjadi bukti bahwa generasi hari ini telah tumbuh menjadi generasi yang sadis. Sudah tidak terhitung begitu banyak tindakan sadis yang dilakukan generasi hari ini mulai dari pembulyan, penganiayaan hingga pembunuhan yang rata-rata pelakunya itu anak dengan umur belasan tahun bahkan ada yang masih dibawa umur.

Selain itu, generasi muda hari ini sangat arogan. Mereka tidak mampu mengontrol emosinya. Apapun akan dilakukan ketika merasa marah. Bahkan membunuh orang-orang terdekatnya termasuk orang tua.

Jika kita telisik lebih jauh, generasi hari ini hidup di dalam lingkaran kehidupan yang rusak. Kehidupan yang berasaskan materialis menjadikan generasi muda dipenuhi dengan tuntutan materi.

Demi memenuhi gaya hidup yang hedonis, mereka rela melakukan apa saja. Mulai dari mencuri sampai kepada menghilangkan nyawa asalkan mereka mendapatkan keinginannya. Budaya flexing barang-barang mewah di sosial media juga semakin memicu nafsu mereka untuk memiliki barang-barang mewah tersebut.

Tidak jarang kasus anak meminta kepada orang tuanya namun karena keinginannya tidak bisa di wujudkan orang tua, akhirnya mereka mencuri uang orang tua atau membunuh orang tuanya.

Generasi muda hari ini juga dengan sangat mudah meniru segala hal yang ada di media sosial termasuk konten-konten yang merusak seperti kekerasan. Mereka terbiasa melihat adegan kekerasan dan pembunuhan sehingga merasa membunuh adalah hal yang biasa, sekaan dapat memuaskan dan menyelesaikan masalahnya.

Sumber Malasah Generasi

Sistem kapitalis sekuler adalah sumber masalah bagi generasi hari ini. Sistem yang menjauhkan generasi dari agama, menghilangkan peran agama dalam kehidupan dan segala tindakan.

Menjadikan generasi hanya berpandangan kepada dunia dan meninggalkan akhirat jauh dibelakang. Maka tidak heran jika lahirlah generasi yang rusak serta merusak.

Sistem kapitalis sekuler juga mengaburkan peran keluarga yang seharusnya memiliki kedekatan secara emosional, bisa saling menyayangi dan mencintai hanya menyisakan hubungan anak-orang tua yang berdasarkan manfaat semata.

Begitu pula dengan kurikulum pendidikannya yang gagal mewujudkan generasi yang berkualitas dan berkepribadian Islam. Lagi-lagi hanya mewujudkan generasi yang egois, emosional yang harus mendapatkan apapun dengan cara apapun.

Hubungan anak-orang tua dalam Islam

Orang tua merupakan sosok yang sangat dimuliakan dalam Islam. Islam memerintahkan kita untuk birrul waalidain yaitu berbakti serta mentaati perintah orang tua selama tidak bermaksiat kepada Allah.

Allah menempatkan ketaatan kepada orang tua setelah Allah dan Rasulnya. Allah Taala berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Luqman [31]: 14—15).

Allah Taala berfirman dalam ayat yang lain “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (QS Al-Isra’ [17]: 23—24).

Sistem Islam Solusi Generasi

Islam sangat menjaga generasinya dari segala bentuk kerusakan. Generasi adalah aset berharga dalam membangun peradaban yang gemilang. Negara Islam akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk mendukung lahirnya generasi yang berkualitas.

Tidak heran jika pada masa kejayaan Islam begitu banyak generasi yang berhasil menorehkan karyanya dalam tinta emas peradaban dunia. Sistem Islam mampu melahirkan generasi berkepribadian Islam serta taat terhadap syariat dengan memperkokoh peran tiga pilar penting dalam Islam.

Pertama pendidikan keluarga, orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak harus mampu mendidik dan mengasuh anaknya berdasarkan akidah Islam. Hal itu akan membentuk karakter iman dan ketakwaan individu yang dapat mencegah dari perbuatan maksiat. Kedua, adanya kontrol masyarakat melalui aktivitas amar makruf nahi munkar.

Budaya saling menasehati akan mencegah seseorang berbuat maksiat dan kerusakan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga peran masyarakat sebagai kontrol sosial berjalan dengan baik. Ketiga, peran Negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah di segala aspek kehidupan.

Negara harus memastikan terselenggaranya pendidikan dengan kurikulum berbasis akidah Islam agar yang terbentuk adalah generasi berkualitas yang memiliki kepribadian Islam. Negara juga harus memastikan segala kebutuhan rakyatnya terpenuhi agar terhindar dari berbagai kejahatan.

Negara juga wajib menghilangkan segala hal yang dapat merusak generasi seperti konten-konten porno dan konten kekerasan.

Negara harus mengawasi setiap konten dan pergerakan di sosial media. Sehingga, generasi tidak serampangan mengambil bahkan meniru perbuatan yang melanggar syariat.

Ketiga pilar ini hanya bisa dilaksanakan secara optimal jika sistem islam diterapkan dalam negara Islam yaitu khilafah. Yang akan menjaga generasi dan melahirkan generasi yang berkualitas.

Sehingga, malin kundang modern hanya akan menjadi kisah nyata di dalam sistem kapitalis sekuler. Wallahu 'alam bissawab. (*)