Kamis 27 Juni 2024
Oleh: Sherlina
Maraknya perilaku keji yang terjadi di Indonesia hari ini dan diantaranya dilakukan oleh seorang anak kepada orang tuanya sendiri.
Hal tersebut didasarkan karena ego pelaku dan penyebab-penyebab lainnya yang memantik mereka untuk melakukan perbuatan keji sekalipun itu dengan orang tua mereka sendiri.
Dilansir dari Liputan6.com, viral di sosial media seorang pedagang ditemukan tewas di sebuah toko perabot kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Hasil penyelidikan polisi, pelaku nyatanya dua anak kandungnya sendiri. Modusnya karena sakit hati terhadap korban karena pelaku dimarahin oleh korban.
Mereka sakit hati karena dimarahi ayahnya, karena mereka mencuri uang ayahnya. Kemudian terdapat kasus serupa yaitu Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak di Pesisir Barat, Lampung, terhadap orangtuanya ternyata berawal dari permintaan korban untuk dibantu diantarkan ke kamar mandi.
Kesal Diminta Antarkan ke Kamar Mandi serta masih banyak perbuatan keji lainnya yang dilakukan anak terhadap orang tuanya sendiri.
Sungguh Miris setega itu membunuh orang tua sendiri padahal mencuri uang sekalipun milik orang tua sendiri adalah suatu kesalahan lantas ayah mereka memang sepatutnya memarahi mereka karena itu adalah perbuatan yang salah. Kemudian, seorang anak yang membunuh orang tuanya karena kesal dengan memintanya untuk diantar ke kamar mandi.
Entah bagaimana pikiran sang anak hingga tega melihat orang tua yang sakit stroke dan tidak mampu untuk ke kamar mandi sendiri dan malah membunuhnya. Perlakuan yang buruk bukan tanpa sebab lahir begitu saja.
Penyebab dari perbuatan buruk adalah dari faktor internal dan eksternal. Mulai dari faktor internal atau dalam diri seseorang adalah berdasarkan keimanan mereka.
Bagaimana iman sangat mempengaruhi manusia untuk menentukan mana yang baik dan buruk sesuai syariat Islam dan pastinya bisa menahan hawa nafsu untuk melakukan perbuatan yang keji. Sebenarnya faktor internal ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Faktor eksternal berasal dari sistem hidup yang diterapkan saat ini. Penerapan sistem hidup kapitalisme gagal memanusiakan manusia. Sistem Sekularisme-kapitalisme telah merusak dan merobohkan pandangan mengenai keluarga.
Sekularisme melahirkan manusia-manusia miskin iman yang tidak mampu mengontrol emosinya, rapuh dan kosong jiwanya.
Begitupun kapitalisme menjadikan materi sebagai tujuan, abai pada keharusan untuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Semua perbuatan tidak didasarkan oleh syariat islam karena penerapan sistem Kapitalisme-sekulerisme yang memisahkan agama dalam kehidupan.
Kemudian, dalam sistem pendidikan sekuler tidak mendidik agar memahami birul walidain karena mereka hanya disibukkan dengan banyaknya tugas dan agenda-agenda sekolah sehingga hanya disibukkan dengan ilmu dunia saja.
Sistem sekuler menjadikan fitrah dan akal tidak terpelihara, menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya yaitu sebagai hamba dan khalifah pembawa rahmat bagi alam semesta.
Maka lahirlah generasi rusak dan merusak. Berbeda dengan sistem Islam yang mendidik generasi menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam, yang akan berbakti dan hormat pada orang tuanya, dan memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi.
Islam memiliki mekanisme dalam menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal, juga menegakkan sistem sanksi yang menjerakan sehingga dapat mencegah semua bentuk kejahatan termasuk kekerasan anak pada orang tua.
Semua sudah diatur dalam syariat islam kita hanya perlu menerapkannya saja dan diperlukannya pemimpin yang nantinya bisa menerapkan syariat Islam yaitu seorang khalifah yang dibutuhkan umat saat ini.
Maka sebagai umat Islam hendaklah kita berupaya menegakkan kebangkitan Islam untuk penerapan sistem Islam ini. (**)