Senin 6 Mei 2024
Oleh: Hafsah
(Pemerhati Masalah Umat)
Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kaltim mengajak seluruh masyarakat Benua Etam, sebutan Kaltim menyadari peran perempuan dalam mewujudkan perempuan yang mandiri secara pemikiran dan tindakan.
Penasehat GPMB Kaltim, Encik Widyani Sjaraddin mengatakan, perjuangan perempuan dimulai dari sadar terhadap pentingnya sebuah literasi. Kartini yang merupakan sosok perempuan, yang memiliki akses pendidikan dan banyak literatur.
"Dengan ilmunya itu, dibagikan kepada perempuan yang tidak mendapatkan akses pendidikan pada masanya. Hal tersebut yang tertuang pada surat-surat Kartini dalam kompilasi buku Habis Gelap Terbitlah Terang,” ungkapnya saat menghadiri Talk show di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (DPKD) Kaltim.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian juga terlihat terlibat dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Beliau berharap perempuan tidak hanya diperkenalkan secara teori namun bisa menjadi inspirasi di Kaltim. (pusaranmedia.com/24/04/2024).
Tokoh Inspirator dalam Pandangan Kaum Feminis
Hingga kini, RA Kartini masih menjadi inspirator wanita pertama di Indonesia atas perjuangannya membela hak-hak perempuan dalam mendapatkan ilmu. Dalam perkembangannya, kemajuan wanita tidak hanya fokus pada tuntutan hak pendidikan, namun lebih berkembang pada semua lini.
Ide ini digawangi oleh kaum feminis yang menuntut kesetaraan. Gerakan emansipasi wanita kemudian menjadi corong atas ketidakpuasan mereka atas hegemoni kaum pria. Perlahan tapi pasti, ide kesetaraan berkembang sangat liar dan diaminkan oleh publik.
Menurutnya, sosok Kartini dijadikan figur kemajuan berfikir dan sangat relevan untuk dijadikan barometer. Sebagai bentuk apresiasi, dalam ranah politik perempuan diberi kesempatan untuk ikut andil.
Tak tanggung-tanggung, perempuan zaman kini punya hak untuk menjadi pemimpin yang akan mengaspirasi suara kaum wanita. Ide ini tidak lahir begitu saja, dalam sistem pemerintahan demokrasi sekuler, kaum perempuan diberi ruang yang luas dalam mengembangkan diri tanpa batas. Gayung bersambut, perlahan perempuan digiring untuk berkarya sebagai ajang eksistensi diri.
Masalahnya, sistem demokrasi kapitalis tidak mempunyai aturan baku tentang hak dan kewajiban yang benar bagi perempuan terutama interaksi dengan lawan jenis dalam wilayah umum. Alhasil, terjadilah pergolakan di tengah masyarakat akibat kebebasan bagi perempuan yang menuntut kesamaan hak.
Inilah hasil dari penerapan sistem sekuler yang memisahkan urusan ibadah dan kehidupan, sehingga mencari figur bukan dari landasan akidahnya tapi semampu apa seorang tokoh menginspirasi untuk pemberdayaan maka ialah yang menjadi idola.
Tokoh Muslimah yang Menginspirasi
Bagaimana Islam memandang hal ini? Pertama, Islam memberikan kesempatan pendidikan pada seluruh manusia. Dalam hadist Rasulullah bersabda: Menuntut ilmu adalah wajib bagi kaum muslim (HR Ibnu Majah dari Anas ra)
Maka apapun caranya, negara wajib memberikan fasilitas, khususnya perempuan. Lalu, bagaimana pendidikan bisa diaplikasikan? tentunya banyak cara namun sarat aturan bagi kaum wanita jika itu dalam wilayah umum.
Mereka bebas menuntut ilmu yang nantinya digunakan untuk mengembangkan diri dan kemaslahatan umat. Islam juga memberi kesempatan kepada kaum wanita untuk berdikari dalam ruang publik, tentunya dengan tidak melalaikan perannya sebagai pengatur rumah tangga. Contoh terbaik bagi inspirasi kaum wanita sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW.
Sejarah Islam telah menorehkan tinta emas dari kejayaannya yang berlangsung hingga ratusan tahun. Selama masa itu, Islam melahirkan peradaban besar yang mampu mengubah dunia. Dari gelap menjadi terang. Dari kejumudan berpikir menjadi abad penemuan ilmu dan teknologi.
Dalam siroh Nabawi, salah satu sosok shahabiyah yang menginspirasi, dikenal berani, kritis, dan piawai dalam berbicara adalah Asma binti Yazid. Beliau mewakili kaum perempuan jika mereka ingin menanyakan sesuatu kepada Nabi Muhammad Saw.
Suatu ketika, Asma binti Yazid mendatangi majelis Nabi Muhammad untuk menanyakan satu hal. Di tengah-tengah acara, Asma binti Yazid mengangkat tangan dan mengungkapkan isi pikirannya. Kepada Nabi Muhammad, dia protes karena merasa kaum laki-laki lebih diutamakan dalam hal beribadah dari pada kaum perempuan.
Mereka shalat berjamaah di masjid, berperang di jalan Allah, menyaksikan jenazah, dan mengerjakan amal lainnya yang tidak dikerjakan perempuan. Sementara perempuan, hanya menjadi penunggu rumah, menjadi pelepas nafsu laki-laki, mendidik anak, dan menjaga harta benda suami. Padahal, bukan kah Nabi Muhammad diutus Allah untuk laki-laki dan perempuan.
"Apakah kami mendapatkan pahala yang sama dengan mereka, wahai Rasulullah?" tanya Asma binti Yazid bertanya kepada Nabi Muhammad. Beliau Saw kagum dengan ucapan, pikiran, dan pertanyaan Asma binti Yazid tersebut. Nabi menilai, apa yang disampaikan Asma itu sangat bagus.
"Kembalilah Asma, katakan kepada wanita-wanita di belakangmu bahwa bergaul baik dengan suami, mencari ridhanya, dan mengikuti petunjuknya setara pahalanya dengan semua yang kau sebutkan tadi," jawab Nabi Muhammad.
Asma menjadi bahagia usai mendengar jawaban Nabi seperti itu. Tidak hanya itu, Asma binti Yazid juga langsung mendatangi Nabi Muhammad manakala ada persoalan keagamaan yang dihadapinya atau kaum perempuan lainnya pada saat itu.
Dia pernah bertanya kepada Nabi Muhammad perihal tata cara bersuci dari dari haid bagi perempuan. Ia tidak malu menanyakan hal itu karena menganggapnya sebagai sebuah hak dan kesucian. Asma binti Yazid juga seorang perempuan yang berani turun ke medan perang.
Tercatat, dia menjadi salah satu shahabiyah yang ikut ambil bagian dalam Perang Yarmuk. Ketika itu, dia diriwayatkan berhasil membunuh sembilan tentara Romawi. Sepanjang hidupnya, dia berhasil meriwayatkan 81 hadits Nabi Muhammad.
Di antara ulama hadits terkemuka yang meriwayatkan hadits dari Asma binti Yazid di antaranya Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Maka sebaik-baik teladan bagi kaum muslimah adalah para istri-istri Rasulullah dan para shohabiyah yang mempunyai karakter kepribadian Islam.
Berpegang teguh pada syariat Allah dan nyata perjuangannya dalam perkembangan Islam Perjuangan para shahabiyah selayaknya menjadi inspirasi bagi kita, muslimah masa kini, untuk turut terlibat dalam perjuangan menegakkan kembali Islam, melangsungkan kembali kehidupan yang berdasarkan aturan-aturan Allah SWT.
Perjuangan ini berlangsung mulai dari rumah sebagai istri dan ibu yang mencetak generasi pengemban dakwah, meluas ke masyarakat dengan membina ilmu dan kesadaran politik para perempuan, serta menyebarkan opini umum di tengah umat.
Begitu juga, mereka harus terus aktif dalam beramar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa, dan melakukan aktivitas politik lainnya dalam rangka menegakkan kembali kemuliaan Islam. (**) Wallahu a'lam bisshowab