Masih Pening Karena Stunting

Kamis 18 MEI 2023

Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd.

Pemerhati Masalah Sosial dan Politik

Kepala Puskesmas Sempaja Kota Samarinda, Irama Fitamina, menyebutkan bahwa kasus stunting merupakan hal yang sangat kompleks.

Dian Indriwati Thamrin

Hal tersebut disampaikan dalam rapat persiapan rembuk stunting yang dilaksanakan di Gedung Bapedalitbang (Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan) Balai Kota Samarinda pada Kamis (4/5/2023).

Lebih lanjut, ia menyebutkan salah satu contoh kasus stunting yang terjadi di wilayah Sempaja Samarinda.

“Beberapa waktu lalu kami kesulitan mencari yang tidak mampu, karena rata-rata mereka semua mampu. Tapi kenapa ada kasus stunting, tentu kemiskinan belum tentu alasan yang tepat,” jelasnya.

Menurutnya, kasus stunting yang terjadi di wilayah Sempaja dikarenakan adanya pola asuh yang tidak tepat.

“Ternyata bukan persoalan kemiskinan, ini persoalan pola asuh yang tidak baik. Misalnya, orang tua mereka sibuk bekerja sehingga kebutuhan protein dan gizi mereka tidak diperhatikan. Itulah yang menyebabkan stunting,” tuturnya.

Irama mengatakan perlu adanya pemahaman dan pengetahuan yang baik bagi para orang tua. “Sebanyak apapun kita beri bantuan seperti PMT (Pemberian Makanan Tambahan) misalnya, kalau tidak betul caranya, itu tidak akan berhasil,” tutur Irama.

“Kasus ini terjadi karena ketidaktahuan, dan ini menjadi PR kita untuk terus berupaya memberikan pendampingan dan penyuluhan, maka mereka akan paham dan kita bisa mengatasi ini,” tambahnya. https://kaltim.tribunnews.com/2023/05/04/kasus-stunting-dianggap-kompleks-kepala-puskesmas-sempaja-samarinda-sebut-pola-asuh-itu-penting Betul jika dikatakan kasus stunting merupakan hal yang sangat kompleks.

Namun sulit untuk tidak disimpulkan, penanganan stunting belum membuahkan hasil yang berarti karena sememangnya tidak menyentuh akar masalah.

Kesalahan pola asuh hanyalah dampak ikutan dari pemahaman yang seharusnya didapat dari sistem pendidikan yang menyiapkan generasi sebagai calon orang tua.

Orang tua dinilai secara ekonomi mampu, latar belakang akademis cukup memadai, kog anaknya stunting? Lagi-lagi ini kembali kepada sistem pendidikan yang diadopsi negeri ini.

Mau dibantah sedemikian rupa, sistem pendidikan berbasis kapitalisme menjadikan standar kemajuan adalah cuan, jauh dari membentuk generasi siap menjadi orang tua. Lulus sekolah atau kuliah, yang diimpikan adalah mendapat pekerjaan dengan gaji yang tinggi, bukan jadi orang tua yang mumpuni.

Kalau pun ada yang bercita-cita menjadi orang tua yang handal, ia hanya jadi salah satu keinginan yang kesekian, bukan yang utama. Orang tua dikatakan sibuk bekerja sehingga kebutuhan protein dan gizi anak tidak diperhatikan.

Bagaimana tidak sibuk bekerja, harga kebutuhan pokok yang terus melejit, aneka rupa pajak yang harus dibayar, pencabutan subsidi, membuat orang tua bekerja banting tulang peras keringat siang malam mencukupi hajat hidup keluarga.

Jadi jelas sibuk bekerja dan tidak perhatian tetap bukan akar masalah terjadinya stunting. Sistem kapitalisme yang diterapkan di segala bidang kehidupan, tidak hanya pada bidang pendidikan, berkait berkelindan dengan tak kunjung hilangnya stunting di tengah masyarakat.

Mengapa? Karena sistem kapitalisme tidak memformat negara untuk menjadi penanggung jawab utama dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Stunting bukan persoalan individu, ianya butuh peran negara dalam mengatasinya.

Tentu tidak ada maksud mengecilkan upaya pembuat kebijakan dalam menangani stunting.

Tetapi solusi pemberian makanan tambahan sayang sekali belum menyentuh akar persoalan sesungguhnya. Karena penyebab utama stunting tetaplah kemiskinan bukan pola asuh. Kalau pun ditemukan tersebab kesalahan pola asuh, skalanya tetap lebih kecil daripada kemiskinan.

Islam punya solusi yang aplikatif dan komprehensif dalam mengentaskan kemiskinan. Tak perlulah harus jadi sarjana ekonomi syariah dulu dalam memahaminya. Islam mewajibkan SDA hanya boleh dikelola oleh negara yang hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan pokok rakyat.

Beberapa waktu lalu, beredar di media sosial pernyataan salah satu pejabat tinggi di provinsi Kalimantan Timur, bahwa hasil tambang provinsi ini telah menembus angka Rp 400 triliun. Semestinya sangatlah cukup untuk memberantas kemiskinan.

Tetapi apa mau dikata, lagi-lagi sistem kapitalisme menjadikan SDA justru dikuasai kaum ber cuan. Merekalah yang berlimpah harta, sementara rakyat hanya bisa berurai air mata karena sudahlah tidak menikmati hasilnya, yang didapat adalah dampak kerusakan lingkungan, seperti banjir, tanah longsor, pencemaran air dan udara, dan serupanya.

Yang makin menambah keruh keadaan, makian intoleransi, terorisme, pemecah belah persatuan kuat disemburkan kepada seruan/ajakan/ceramah penerapan Islam dalam semua level kehidupan.

Padahal sejarah telah membuktikan ketika Islam diterapkan dalam bingkai negara, baik kaum muslimin maupun non-muslim sama-sama mendapatkan kebaikan dan kemuliaan.

Peradaban manusia maju pesat yang bahkan diakui tidak ada peradaban lain yang mampu menyamai apalagi mengungguli peradaban Islam.

Semoga segera timbul kesadaran dan tuntutan di tengah masyarakat bahwa hanya Islam yang mampu menyelesaikan segala macam persoalan kehidupan. Mereka tak lagi percaya kampanye hitam atas syariat Islam yang diserukan para pembenci agama Allah SWT. Wallahualam.