Banjir berulang kesadaran manusia berkurang

Kamis 18 MEI 2023

Oleh: Halimatus sa'diah S.Pd

Bencana banjir menjadi persoalan yang tidak asing lagi terjadi di bumi Indonesia saat ini.Bencana tersebut tidak sedikit mengakibatkan rusaknya sarana prasarana umum, pemukiman warga dan bahkan merenggut jiwa.

Halimatu Sa'diyah

Bencana banjir ini ialah peristiwa yang disebabkan gerak dan reaksi alam atas kerusakannya, terjadinya bencana ini tidaklah lepas dari perbuatan manusia.

Dilansir dari Kaltim Today.co 08 Mei 2023, Kutai Timur - Banjir besar melanda dua desa di Kecamatan Kaubun, Kutai Timur, tepatnya di Desa Bumi Etam SP 1 dan Desa Kadungan Jaya.

Akibat musibah tersebut, satu orang warga dilaporkan meninggal dunia. Salah seorang warga Kecamatan Kaubun Yohanes Richardo Nanga Wara menjelaskan, ini merupakan banjir terparah yang pernah melanda Kecamatan Kaubun.

Selain karena debit air yang cukup tinggi, ada yang sepinggang hingga nyaris menyentuh dada orang dewasa. Banjir ini juga menelan korban jiwa.

Dia mengatakan, korban terseret banjir ketika berkendara melalui salah satu jalan di Kecamatan Kaubun. Korban baru ditemukan pada Senin (8/5/2023) pagi ketika banjir sudah surut. Begitu juga yang terjadi di Samarinda,banjir juga melanda wilayah nya.

Berbagai upaya dilakukan untuk solusi banjir agar tidak terjadi lagi.

Dari Kaltim post, SAMARINDA–Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Samarinda Hendra Kusuma mengatakan, beberapa titik banjir sudah ditangani, namun beberapa belum tuntas.Sebelumnya, curah hujan yang terjadi di ibu kota Kaltim cenderung tinggi, khususnya memasuki Mei–Juni.

Hal itu berdasarkan data hujan dari 1978–2022 yang berkisar 85–100 mm. Konsultan masterplan banjir Samarinda Eko Wahyudi mengatakan, kondisi itu membuat warga perlu kewaspadaan sewaktu-waktu terjadi banjir.

Menurut data yang dihimpunnya pada 2005, ada 32 titik banjir di Kota Tepian, nyatanya tahun ini bahkan sekitar 60-an titik. Parameter banjir ada empat, meliputi lama genangan, luas genangan, kedalaman genangan, dan frekuensi dalam satu tahun berapa kali.

“Kajian menunjukkan bahwa banjir terus berkembang,” tegasnya.

Dia mengingatkan warga turut peduli pengendalian banjir di Samarinda, terlebih mereka yang akan melakukan pematangan lahan untuk perumahan. Pembukaan lahan tanpa diikuti pengendalian limpasan bisa berdampak banjir.

Dia mengatakan Kalau tidak ada pengendalian limpasan dan sedimen, maka air akan langsung masuk ke sungai dan meningkatkan debit air sungai.Saran nya pemkot konsisten merealisasikan masterplan banjir Samarinda yang sudah direvisi 2021 lalu.

Masterplan itu mencakup tiga aspek utama, yaitu peningkatan kapasitas sungai, peningkatan kapasitas drainase, dan peningkatan kapasitas waduk.

Dia menuturkan Masterplan itu sudah ada rencana aksi dan anggarannya. Tinggal bagaimana pemkot mengalokasikan anggarannya secara bertahap dan konsisten. Permasalahan banjir di Indonesia menjadi problematika yang pelik dan memerlukan penyelesaian yang komprehensif.

Negeri ini perlu sistem analisis banjir terpadu agar persoalan tersebut tidak semakin berlarut-larut. Bencana banjir ini dipicu oleh interaksi kompleks atas fenomena alam ekstrim dan aktivitas manusia yang mengenyampingkan karakter dan daya dukung alam lingkungannya.

Hal ini menjadi renungan bagi kita semua sebagai penduduk di negeri kita tercinta ini. Rusaknya tatanan lingkungan, kerakusan manusia untuk memenuhi hawa nafsunya menjadikan nya bertindak tanpa menghiraukan dampak bagi sekitar nya.

Hutan yag menjadi pokok resapan air banyak dibabat habis untuk kepentingan para pemodal demi melancarkan bisnisnya, begitu pula diperkotaan ruang terbuka hijau yang banyak yang dijadikan perumahan-perumahan.

Selain itu Banjir berulang setiap tahun juga lahir dari masalah sistemik dari berlakunya sistem kapitalis.Tata kota dan pembangunan infrastruktur diserahkan pada kemauan kaum kapitalis berorientasi memenangkan para pebisnis dan tidak memperhatikan lingkungan. Dalam sistem kapitalisme tersebut, membuat pengambil alihan fungsi alam sebagai pengatur keseimbangan.

Berbeda dengan Islam sebagai agama rahmatan Lil alamiin Islam memuat seperangkat aturan yang mampu memberikan solusi setiap problematika kehidupan.sebagaimana firman Allah SWT : “Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia, Allah menghendaki supaya mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)

Dari ayat tersebut, penyebab lain yang belum dipahami oleh masyarakat luas, yaitu perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia dan ketidakpatuhannya kepada Sang Pencipta seperti tidak menjadikan aturan Allah sebagai aturan hidup.

Sebagai muslim, kita mengimani bahwa segala yang terjadi adalah atas izin Allah yang maha kuasa. Jika kita diberi musibah, maka kita diperintahkan untuk bersabar.

Namun tentunya tidak cukup hanya bersabar, tetapi musibah tersebut juga disikapi dengan menjadikannya sebagai momen untuk muhasabah diri kita, tentang apa yang telah kita lakukan, sehingga Allah menjadikan hujan sebagai banjir, padahal hujan itu diturunkan seharusnya menjadi rahmat, yang dengannya bumi dihidupkan dari kekeringan.

Maka perlu ada upaya yang ditempuh dengan serius dan sungguh-sungguh baik itu dari rakyat maupun pemerintah terkait bencana banjir ini.

Dalam Islam dalam upaya mengatasi bencana banjir di antaranya dengan membangun sungai buatan dan kanal untuk mengurangi penumpukan volume air dan mengalihkan aliran air, membangun bendungan-bendungan untuk menampung tumpahan air hujan, air sungai, dan yang lainnya, membangun sumur-sumur resapan di daerah tertentu.

Memetakan daerah mana yang termasuk rawan banjir dan melarang penduduk mendirikan bangunan di daerah tersebut. Selain itu, pembentukan badan khusus pun diperlukan untuk penanganan bencana alam, persiapan wilayah-wilayah tertentu untuk cagar alam.

Sosialisasi tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan kewajiban memelihara lingkungan, persyaratan tentang izin pendirian bangunan dan pembukaan pemukiman baru.

Penyediaan daerah serapan air hujan, penggunaan tanah, dan sebagainya. Demikianlah solusi yang ditawarkan Islam dalam mengatasi permasalahan banjir. Hanya Islam yang memberi aturan secara sempurna dalam mengatasi berbagai problematika.

Oleh karena itu, sudah saatnya sistem Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan agar kita semua dapat merasakan Rahmat yang Allah SWT janjikan. Wallahu alam bisshowwab.