Menikmati Jalan Mulus tanpa Fulus

Jumat 5 MEI 2023

Oleh: Rahmi Surainah, M. Pd,

Alumni Pascasarjana Unlam

Banjarmasin Tarif Tol Balikpapan - Samarinda (Balsam) mengalami penyesuaian sejak Rabu (26/4). Penyesuaian tarif Tol Balsam yang diberlakukan oleh PT Jasamarga Balikpapan Samarinda (JBS) ini sesuai Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Adapun besaran tarif baru Jalan Tol Balikpapan Samarinda Gol I : Rp 146.500, dari sebelumnya Rp 125.500.

Gol II : Rp 219.500, dari sebelumnya Rp 188.000.

Gol III: Rp 219.500, dari sebelumnya Rp 188.000.

Gol IV: Rp 293.000, dari sebelumnya Rp 251.000 Gol V : Rp 293.000, dari sebelumnya Rp 251.000.

Penyesuaian tarif ini mempertimbangkan keseimbangan antara kemampuan membayar pengguna jalan tol dengan pengembalian investasi yang kondusif, pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM) dan peningkatan pelayanan bagi pengguna.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kaltim Mohammad Gobel mengatakan, pihaknya akan melakukan penyesuaian tarif angkutan menyusul kenaikan tarif Tol Balsam.

Sebab, dampak kenaikan tarif tol akan memengaruhi berbagai sektor, termasuk tarif angkutan yang harus menyesuaikan biaya tambahan. ALFI Kaltim menganggap, tingkat pelayanan Tol Balsam saat ini belum sesuai ekspektasi, mengingat tingkat kecelakaan yang masih tinggi. Sehingga perlu dipertanyakan lagi, urgensi kenaikan tarif oleh penyelenggara jalan tol.

(Kaltim.jawapost.co, 1/5/2023) Jalan Berbayar Wajar Demikianlah kenaikan tarif jalan tol yang kemungkinan besar akan berpengaruh pada kenaikan harga dan inflasi.

Apalagi tidak dibarengi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Diketahui jelang Ramadhan kebutuhan sudah naik, tentu membuat masyarakat mengeluarkan dana ekstra saat lebaran dan hilir mudik. Jalan memang kebutuhan urgen masyarakat.

Banyak jalan di Kaltim saat ini yang rusak akibat angkutan berat tambang. Padahal Kaltim kaya akan SDAE, seharusnya jalan bisa dinikmati nyaman tak berbayar.

Jalan tol, jalan bebas hambatan tentu diapresiasi dan urgen untuk mempercepat tujuan.

Tetapi jalan jika berbayar bahkan naik tentu memberatkan masyarakat. Penguasa seharusnya mempermudah urusan rakyat dalam hal jalan.

Semua warga berhak akan jalan yang nyaman tanpa berbayar. Inilah watak kapitalisme sekuler, kebutuhan rakyat jadi komoditi berbayar. Akibatnya yang menikmati jalan nyaman hanya kalangan tertentu.

Jalan merupakan hak warga serta tanggung jawab negara untuk menyediakan dengan nyaman dan aman. Namun sistem Kapitalisme membuat kepemilikan umum berupa jalan dan SDAE dikuasai oleh swasta atau asing. Inilah kenyataan pahit tidak seindah harapan atas nama rakyat.

Cara pandang kapitalisme telah menjadikan pelayanan publik berupa jalan tidak lagi sebagai pengabdian kepada rakyat. Jalan seharusnya milik umum, mulus dan gratis untuk rakyat. Nyatanya diskriminasi, berbayar, dan dimiliki oleh korporasi atas nama investasi.

Jalan tol dalam sistem kapitalisme saat ini hanya jadi pencitraan bukan pengabdian. Jalan rusak menjadi mulus tanpa fulus tentu jadi idaman masyarakat.

Jalan dalam Pandangan Syariat Dalam Islam dalam kitab Sistem Ekonomi Islam karya Syaikh Taqiyuddin an Nabhani disebutkan fasilitas umum tidak boleh dimiliki oleh individu atau siapa pun.

Pemanfaatannya dibolehkan untuk semua orang, bukan dikhususkan pada orang tertentu sementara yang lain tidak boleh. Rasulullah Saw telah menjelaskan ihwal fasilitas umum ini dalam sebuah hadits dari segi sifatnya.

Rasulullah Saw bersabda: Tidak ada penguasaan atas harta milik umum kecuali bagi Allah dan Rasul-Nya." (HR. Abu Daud)

Demikianlah pengelolaan negara berdasarkan syariat dan demi kepentingan rakyat. Jalan merupakan fasilitas umum dalam syariat tidak boleh diproteksi. Dalam urusan jalan, Islam telah memberikan keteladanan.

Bisa dilihat dari kisah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, tentang jalan yang berlubang di Irak. Amirul mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang terkenal tegas dan tegar dalam memimpin kaum muslimin tiba-tiba menangis dan kelihatan sangat terpukul.

Informasi salah seorang ajudannya tentang peristiwa yang terjadi di tanah Irak telah membuatnya sedih dan gelisah. Seekor keledai tergelincir kakinya dan jatuh ke jurang akibat jalan yang dilewati rusak dan berlubang.

Melihat kesedihan Khalifahnya, sang ajudan pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?”

Dengan nada serius dan wajah menahan marah Umar bin Khattab berkata: “Apakah engkau sanggup menjawab dihadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”

Dalam redaksi lain, Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, “Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?”

Kisah tersebut menggambarkan bagaimana tanggung jawab seorang pemimpin atas apa yang ia pimpin. Pemimpin begitu perhatian dan peduli terhadap masyarakat meskipun hanya dalam urusan jalan.

Tentu saja sosok pemimpin yang seperti ini yang kita rindukan. Pemimpin yang mengatur segala urusan karena keimanan dengan sistem Islam. Wallahu a’lam bisshowab