Covid-19 Varian Baru, Siapkah Negara Menghadapi?

Jumat 5 MEI 2023

Oleh: Emirza, M.Pd

Varian Covid terbaru, Arcturus sudah terdeteksi di Indonesia. Terbaru, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan sudah ada dua kasus Arcturus di sana. Varian Arcturus ini memiliki gejala yang mirip dengan subvarian sebelumnya.

Namun ada yang bisa dilihat melalui mata, yakni keadaan mata memerah, gatal, dan lengket. Gejala lain yang ditemukan sama seperti sebelumnya.

Mulai dari batuk, demam, nyeri saat menelan, nyeri tenggorokan, sakit di seluruh badan, dan nafsu makan menurun.

Arcturus juga telah ditemukan di sejumlah negara lain. Sejauh ini sudah ada 29 negara yang mengidentifikasi keberadaan varian tersebut, termasuk India, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Thailand dan Australia. Sebagai informasi, Arcturus merupakan nama lain dari sub-varian 1.19. Varian tersebut turunan dari varian BA.2.10.1 dan BA.2.75, serta berbagi mutasi dengan XBB.1.5. Mutasi varian disebut akan membuat peningkatan pada tingkat penularan dan juga infeksi. Namun berdasarkan laporan, belum ada lonjakan kasus rawat inap, masuk ICU, atau kematian akibat Arcturus. (cnbcindonesia.com, 27/4/2023)

Momen Idulfitri bagi kaum muslim di Indonesia digunakan untuk mengunjungi keluarga. Tradisi pulang kampung dan berlebaran menjadi peristiwa yang dinanti.

Karena setelah tiga tahun tidak bisa leluasa pulang akibat pandemi Covid-19. Sehingga, Lebaran kali ini menjadi kesempatan untuk mudik ke kampung halaman. Tetapi, ternyata Covid-19 masih ada di tengah perayaan hari raya.

Masyarakat Indonesia ternyata masih dalam bahaya. Dapatkah pemerintah menghadapi serangan Covid-19 kali ini?

Varian Baru

Pada Jumat (22-4-2023) laman resmi WHO melaporkan bahwa Covid varian Acturust ,yaitu XBB.1.16, telah menjadi varian of interest. Acturust yang diambil dari nama bintang terterang di belahan bumi utara, pertama kali dideteksi di India pada 23-1-2023.

Varian ini dilaporkan Healthline (18-4-2023) sebagai penyebab naiknya kasus Covid di 29 negara. Zubairi Djoerban, seorang peneliti dan dokter spesialis penyakit dalam subspesialisasi⁣ hematologi onkologi medik, melalui akun Twitternya (23-4-2023) mengungkapkan bahwa Acturust lebih menular daripada Omicron dan tidak lebih mematikan dibandingkan varian Delta.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril mengimbau masyarakat berkenaan dengan penyebaran varian Acturust ini. Ia meminta warga untuk kembali mengenakan masker, terutama bagi yang sakit dan mengimbau warga untuk selalu menjaga jarak, serta menghindari kerumunan dan keramaian.

Dari data yang diperoleh, angka kematian naik menjadi 13 kasus dari 12. Kasus aktif pun naik menjadi 10.881 dari sebelumnya 10.448. Pasien yang dirawat selama rata-rata tujuh hari terakhir naik menjadi 1.617 dari 1.573.

Sedangkan kasus baru mengalami penurunan, yakni 1.145 dari 1.242. Walaupun demikian, ternyata kondisi ini belum dianggap serius oleh negara, terlihat dari kebijakan pemerintah yang masih kendor.

Negara hanya memberikan imbauan tanpa ada kebijakan jelas. Rutinitas Lebaran masih berjalan seperti biasa. Maka, meski berita sudah muncul di berbagai media, tidak dianggap serius oleh mayoritas masyarakat, bahkan tidak jarang yang menganggap badai Covid-19 sudah berlalu sepenuhnya.

Butuh Kesigapan

Belajar dari pengalaman, jangan sampai kesalahan yang sama terulang. Penanggulangan Covid-19 beberapa waktu lalu menyisakan duka yang mendalam. Lambatnya pengambilan kebijakan membuat banyak nyawa melayang.

Tidak hanya masyarakat awam, tetapi nakes-nakes terbaik pun ikut menjadi korban keganasan. Jangan sampai serangan varian baru ini menjadi badai pandemi yang sama.

Maka, negara butuh bersikap bijak dalam mengambil keputusan. Tidak cukup sekadar memberi imbauan, melainkan butuh aksi nyata.

Nyawa atau keselamatan satu orang saja itu sangat berharga, apalagi nyawa seluruh penduduk Indonesia. Negara perlu sigap mengambil keputusan.

Seperti, menerapkan karantina daerah atau karantina total sesuai tingkat kepentingan. Negara juga perlu menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat kebijakan karantina diberlakukan.

Ini karena masyarakat tentu akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup selama masa karantina. Sayangnya, berharap pada keuangan negara saat ini tentu sangat mustahil.

Utang sudah menumpuk, APBN juga terancam jadi jaminan utang, bahkan keuangan masih belum stabil. Semua karena penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang kolaps di tengah pandemi.

Solusi Islam

Bagi penyakit yang menular seperti Covid-19 ini memang butuh kebijakan karantina. Keputusan ini perlu dilakukan agar virus tak menyebar dengan cepat. Rasulullah saw. bersabda, “Taun (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Swt. untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia.

Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis ini, Rasulullah menerapkan karantina di daerah yang terkena penyakit itu. Hal senada juga dilakukan oleh Umat bin Khaththab yang tidak jadi mengunjungi Syam ketika terjadi wabah.

Semua dilakukan agar wabah tersebut tidak menjalar ke negeri lain. Sedangkan, penduduk yang berada di daerah karantina butuh asupan logistik karena mereka tidak bisa leluasa memenuhi hajatnya.

Di sinilah peran negara dalam memberikan bantuan, bahkan menjamin semua kebutuhan dasar rakyatnya tercukupi. Maka, walaupun perputaran roda ekonomi berhenti di wilayah karantina, hal itu tidak memengaruhi ekonomi negara karena roda ekonomi terus berputar di wilayah yang tidak kena karantina.

Keuangan negara Islam tidak akan mudah pailit. Pendapatannya berasal dari banyak pos, seperti jizyah, ganimah, fai, kharaj, dan pengelolaan SDA. Dan juga pos zakat untuk orang-orang yang membutuhkan.

Jadi, negara bisa bertahan dan menyelesaikan karantina dengan baik. Maka itu, sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, sudah seharusnya menyiapkan diri untuk menghadapi badai Covid-19, terlebih sudah pernah mengalaminya.

Jika hanya berpatokan pada kapitalisme, dijamin tidak akan bisa bertahan lama sebagaimana sebelumnya. Agar mampu bertahan dari serangan ini, hanya Islam yang menjadi tempat kembali. Wallahualam.