Peningkatan Penyakit Kronis, Butuh Solusi Sistemis

Sabtu 1 APRIL 2023

Oleh: Astina

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan terjadi kenaikan sangat signifikan atas temuan kasus tuberkulosis (TBC) pada anak di Indonesia. Kenaikan itu bahkan melebihi 200 persen.

ASTINA

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes Imran Pambudi menilai kenaikan ini terjadi lantaran banyak orang tua yang tidak menyadari gejala TBC atau tidak segera mengobati penyakitnya sehingga berimbas penularan pada kelompok rentan seperti anak-anak.

Berdasarkan data Global TB Report 2022, Indonesia berada pada peringkat kedua dengan beban kasus TBC terbanyak di dunia setelah India, dengan perkiraan kasus baru sebanyak 969 ribu. (CNN Indonesia, 18/3).

Peningkatan kasus TB Indonesia menunjukkan kurangnya peran negara dalam hal preventif yaitu mencegah terjadinya penularan penyakit, sehingga Indonesia menjadi peringkat 2 kasus TB terbanyak di dunia.

Penyakit TB termasuk penyakit kronis, karena menyebabkan penderitanya harus mengkonsumsi obat-obat khusus TB selama 6-9 bulan tanpa henti. Karena jika dalam proses pengobatan terputus, maka penderita akan mengulang mengonsumsi obat-obat tersebut dan akan semakin lama untuk bisa sembuh.

Dibutuhkan kedisiplinan untuk minum obat agar pengidap bisa sembuh. Selain itu penyakit TB juga menular, berbagai faktor risiko dapat menyebabkan penularan penyakit ini, seperti rumah yang tidak memiliki ventilasi, kontak langsung dengan berbicara tanpa menggunakan masker juga menjadi faktor penyebab penularan, terlebih lagi penyakit ini sangat rentan tertular pada keluarga, karena keluarga yang paling sering kontak dengan penderita TB.

Sistem kapitalis yang sedang berjalan saat ini menunjukkan kelemahannya ketika menjadi asas pengaturan urusan. Fakta lain menunjukkan lemahnya berbagai upaya yang dilakukan meski sudah menggandeng ormas, bahkan kerja sama dengan LN bahkan WHO.

Program TB di Indonesia juga telah dilakukan seperti adanya kegiatan puskesmas untuk melakukan pemantauan terhadap pasien TB, melakukan pelacakan kontak serumah untuk mengetahui seberapa besar faktor risiko yang mempengaruhi penularan tersebut.

Tetapi, pada kenyataannya program ini tidak berjalan dengan baik, mengingat program ini memiliki anggaran dari pemerintah dan harus berfokus pada pelaporan yang baik, maka beberapa pelaksana program akan memilih untuk memperbaiki laporan yang dibuat diatas meja dibandingkan melakukan pelaksanaan program sebaik mungkin.

Jika tidak ada anggaran untuk kegiatan itu, maka kegiatan tersebut tidak akan dilakukan. Begitulah sistem kapitalis bekerja, melakukan sesuatu harus dengan asas manfaat. Islam menetapkan negara adalah pengurus rakyat, termasuk dalam penanggulangan penyakit menular ini.

Negara berkewajiban melaksanakan berbagai upaya dan langkah yang komprehensif untuk menanggulangi akar masalah secara tuntas, melalui sistem kesehatan yang handal yang ditopang oleh sistem politik dan ekonomi berdasarkan Islam.

Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar umat. Nabi saw. bersabda:

اْلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

 Imam (Khalifah) laksana penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya (HR al-Bukhari).

Kebijakan kesehatan dalam Khilafah akan memperhatikan terealisasinya beberapa prinsip. Pertama: pola baku sikap dan perilaku sehat. Kedua: Lingkungan sehat dan kondusif.

Ketiga: pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau. Keempat: kontrol efektif terhadap patologi sosial. Pembangunan kesehatan tersebut meliputi keseimbangan aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Promotif ditujukan untuk mendorong sikap dan perilaku sehat. Preventif diprioritaskan pada pencegahan perilaku distortif dan munculnya gangguan kesehatan.

Kuratif ditujukan untuk menanggulangi kondisi patologis akibat penyimpangan perilaku dan munculnya gangguan kesehatan. Rehabilitatif diarahkan agar predikat sebagai makhluk bermartabat tetap melekat.

Demikianlah Islam memberikan solusi atas problematika umat, maka menjadi penting bagi kita untuk sadar akan penerapannya dalam seluruh sendi kehidupan sebab sistem ini telah terbukti mampu menyejahterakan umat.