Jumat 24 MARET 2023
Oleh : Yunita
TBC (Tuberkulosis), adalah penyakit menular, akibat infeksi bakteri, yang disebut Mycobacterium tuberculosis, TBC umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ lain, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.
Penularan tuberkulosis (TBC) terjadi ketika seseorang tidak sengaja menghirup ludah (droplet), disaat seseorang yang terinfeksi TBC bersin dan batuk.
Di Cimahi, sepanjang tahun 2022, kasus TBC ditemukan sebanyak 4.294 kasus. Angka ini meningkat 106 persen di bandingkan tahun sebelumnya.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes), merilis data Indonesia menempati peringkat kedua di dunia, dengan kasus TBC terbanyak di dunia setelah India. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Kemenkes Imran Parabudi pada konferensi pers daring "Hari Tuberkulosis Sedunia 2023", Jumat (17/3/23).
Menyampaikan laporan berdasarkan data Global TB Report (GTR) tahun 2022, di perkirakan kasus TBC sebanyak 969.000 dengan incidence rate, atau temuan kasus sebanyak 354 per 100.000 penduduk.
Imran menyampaikan bahwa kasus TBC di Indonesia mengalami kenaikan signifikan. Pada tahun 2021, ada 443.235 kasus TBC, dan meningkatkan menjadi 717.941 kasus TBC pada 2022, hingga Maret 2023 ada 118.438 kasus TBC.
Kasus TBC anak juga mengalami kenaikan signifikan, dari 42.187 kasus pada 2021 naik menjadi 100.726 kasus pada 2022, hingga pada tahun 2023 ada 18.144 terinfeksi penyakit menular ini. Jadi ini naik lebih dari 200 persen, kata Imran dikutip cnnindonesia.com (17/3/23).
Faktor penyebab
Kasus TBC bukanlah kasus baru, kasus ini telah lama terjadi di Indonesia. Namun hanya saja peningkatan kasus TBC saat ini, sungguh mencengangkan. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi kasus TBC di Indonesia.
Pertama, Faktor Lingkungan tempat tinggal, atau pemukiman penduduk, dapat mempengaruhi tingginya kasus TBC. Lingkungan rumah yang tidak sehat, tak terawat dan kumuh, menjadi faktor penyebaran tuberkulosis.
Kurangnya pengawasan orang tua, terhadap seseorang yang terinfeksi TBC, menjadikan anak-anak terjangkit penyakit menular ini, TBC juga dapat menyerang anak-anak yang gizi buruk.
Kedua, faktor kemiskinan (ekonomi) Tingginya angka kemiskinan, yang disebabkan kurangnya pendapatan atau banyaknya pengangguran, menjadikan masyarakat sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok, terutama untuk kebutuhan gizi.
Harga kebutuhan pokok yang meningkat, cermin dari sulitnya memenuhi kebutuhan gizi, menjadikan seseorang rentan untuk terjangkit penyakit menular.
Ketiga, terbatasnya akses dan sarana Daya tahan tubuh yang lemah, menjadikan masyarakat rentan tertular penyakit. Ditambah sulitnya akses untuk fasilitas kesehatan, membuat masyarakat miskin susah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal.
Pada tahun 2021 lalu, pemerintah telah meluncurkan Perpres nomor 67 tahun 2021, tentang penanggulangan TBC, dalam rangka mempercepat penanggulangan TBC, dan sebagai wujud nyata komitmen untuk mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.
Tak hanya itu, pemerintah juga telah mengundang Ormas hingga kerjasama dengan Negara lain seperti Amerika, Uni Emirat Arab, bahkan WHO.
Namun semua itu tidak membuahkan hasil, terbukti dengan kasus TBC yang semakin meningkat. Ini menunjukkan lemah dan jahatnya sistem sekuler kapitalis, yang menjadi asas pengaturan urusan negara saat ini, termasuk kesehatan.
Sistem ini telah menjadikan orang sakit sebagai komoditas untuk dikapitalisasi. Oleh karena itu, kasus TBC tidak akan pernah usai selama negara masih menggunakan sistem kapitalisme ini.
Solusi Islam
Islam adalah sebagai sistem hidup yang sempurna, dan berasal dari Allah sang pencipta, yang menyelesaikan berbagai persoalan hidup manusia termasuk kesehatan. Dalam Islam negara adalah pengurus rakyat, termasuk menanggulangi penyakit menular seperti TBC.
Negara berkewajiban melakukan upaya yang komprehensif, untuk mengatasi akar masalah secara tuntas. Dalam Islam, negara bertanggung jawab melakukan pencegahan atas bahaya apapun termasuk penyakit menular.
Negara menyediakan fasilitas kesehatan pendidikan terbaik, dengan memadai dan mudah di akses, setiap individu maupun masyarakat, kapan pun dan dimana pun, disertai dengan kelengkapan alat kedokteran dan obat-obatan, terbaik bagi masyarakat,dengan pelayanan kesehatan diberikan secara gratis.
Negara akan memberikan pemukiman penduduk yang nyaman, sanitasi lingkungan, air yang bersih, dan memenuhi kebutuhan pokok, sandang, pangan, dan papan, serta pemberian nutrisi untuk mengatasi masalah gizi buruk. Karena Islam Rahmat bagi seluruh alam. WalLaahu a'lam bishawab.