Generasi Serba Bebas, Cerminan Budaya Asing

Senin 20 MARET 2023

Oleh : Milda, S.Pd

(Aktivis Muslimah)

Kepolisian Daerah Metro Jaya mengerahkan 1.022 personel untuk mengamankan konser hari kedua grup vokal wanita asal Korea Selatan, Blackpink di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Minggu (12/3/2023). “Total 1.022 personel pengamanan konser Blackpink," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko, dilansir dari Antara, Minggu.

Ribuan personel tersebut merupakan gabungan dari berbagai unsur yang terdiri dari 932 personel Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Pusat, 30 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta 60 personel dari pemerintah daerah (pemda).

Adapun Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya meminta masyarakat untuk menghindari Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan Gerbang Pemuda untuk mencegah kepadatan lalu lintas. https://megapolitan.kompas.com/read/2023/03/12/15112061/konser-hari-kedua-blackpink-polda-metro-jaya-kembali-terjunkan-1022

Sungguh miris, di tengah persoalan generasi, dalam segala aspek negara justru memfasilitasi konser yang berakar dari budaya luar yang berpotensi menambah rusak generasi. Sungguh berbeda sikap terhadap berbagai kebaikan yang ditampilkan pemuda yang membaca Al Qur’an di sepanjang Malioboro,  aktivis rohis bahkan dicap teroris.

Dan makin miris di tengah kemiskinan yang ekstrim, sebagian anak muda dengan mudah mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk hiburan. Terlihat negara tanpa visi yang jelas terhadap generasi. Nyata juga dampak sekulerisme kapitalisme yang diterapkan, sehingga salah meletakkan prioritas dan dikuasai hedonisme.

Masyarakat ikut antusias menonton konser Blackpink yang merupakan artis luar negeri yang tentunya memberikan pengaruh budaya luar, ini merupakan cerminan generasi hari ini khususnya para muslimah yang mudah terbawa arus.

Tidak hanya itu, para muslimah dengan asyik berjoget dengan busana yang mengumbar aurat serta kecantikannya terlebih idola mereka nonmuslim sehingga berpakaian seksi hal yang biasa-biasa saja.

Jika negara terus menerus membiarkan hal semacam ini apalagi yang berasal dari luar, maka sungguh generasi benar-benar digiring untuk hidup serba bebas, ajaran agama tidak lagi menjadi dasar dalam mengatur kehidupan masyarakat maupun generasi, khususnya para muslimah yang harusnya menjaga harga diri dan kehormatannya.

Tetapi budaya luar justru membuat para muslimah menghilangkan rasa malunya dan ikut serta berjoget dengan riang gembira. Umat Islam yang terus mengikuti arus yang ada dengan berbagai tren yang terus membawa umat pada kehancuran.

Mestinya menjadi renungan betapa generasi di barat yang rusak akibat gaya hidup bebas yang tidak memiliki panduan dalam mengatur kehidupannya seperti kekerasan yang ditampakkan, aborsi, hingga hilangnya nyawa. Sungguh umat jauh dari predikat khairu ummat (umat terbaik).

Umat tidak terbentuk dari generasi yang mengikuti berbagai gaya hidup barat sebab panduan hidup saja mereka tidak ada, sehingga umat saat ini pun tidak memiliki visi yang jelas.

Kemunduran generasi bukan tanpa sebab, negara memberi fasilitas terjadinya serangan gaya hidup asing seperti halnya konser blackpink, namun di sisi lain pemuda muslim yang belajar Islam justru dicurigai biang teroris, radikal, dan lain sebagainya.

Menjadi pertanyaan dikalangan masyarakat, mengapa negara begitu memfasilitasi konser Blackpink yang jelas-jelas membawa dampak buruk bagi generasi sedangkan kajian Islam dicurigai dan distigma negatif? Terlihat negara di bawah sistem kapitalisme hari ini seolah tidak ada visi misi bagi pendidikan generasi sehingga negara salah memiliki prioritas dan kebijakannya yang semakin menyuburkan hedonisme.

Jika sistem kapitalisme masih bertahan di negeri ini maka, umat akan jauh dari Islam serta kemaksiatan makin merajalela seperti saat ini generasi seolah tidak adanya rasa takut terhadap Allah Swt dengan berbagai kemaksiatan yang mengundang murka-Nya.

Berbagai kerusakan terus dipertontonkan generasi yakni, tindak kriminal, pelecehan seksual, narkoba, tauran, pembunuhan serta berbagai perbuatan yang tidak hanya merugikan mereka tetapi jug orang lain dan semua itu mudah termaafkan jika terus menerus terulang maka negara tidak ada masa depan.

Berbeda dengan Islam menjadikan negara sebagai pihak yang akan mewujudkannya, mengintegrasikan visi misi mencetak generasi bersyakhshiyah Islam dalam seluruh bidang kehidupan hingga mencetak generasi khoiru ummat seperti dalam firman Allah Subhana Hu Wata'ala, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Sekiranya ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali 'Imran Ayat 110).

Dengan memiliki visi misi yang mampu menjadi khairu ummah menjadikan pola pikir dan pola sikap Islam sesuai dengan akidah Islam.

Sistem pemerintahan Islam akan melindungi generasi dari paparan budaya asing seperti konser, tayangan yang tidak mendidik maupun hal-hal yang mengundang murka Allah Swt. Dalam sistem Islam generasi akan diberi fasilitas sarana dan prasarana dalam menuntut ilmu serta beribadah hanya pada Allah SWT.

Sehingga mampu mencetak para ulama-ulama yang unggul dalam berbagai ilmu pengetahuan Islam maupun umum. Seperti sosok pemuda dalam sejarah Islam yakni, Muhammad Al-Fatih dan Al-Ayyubi menjadi bukti bahwa generasi terbentuk bukan hanya ketakwaan individu melainkan dukungan oleh sistem Islam.

Sudah saatnya para pemuda kembali kepada aturan Islam sebagai landasan hidup dalam mengatur segala aspek kehidupan.

Tidak hanya hura-hura dengan berbagai tingkah laku sebagai sebuah penyimpangan yang membawa petaka dikemudian hari.  Wallahu a’lam bishawab.