Selasa 14 MARET 2023
Irmawati
(Aktivis Dakwah Kampus)
Kekerasan banyak terjadi di berbagai wilayah. Media sosial pun banyak diisi dengan berita kekerasan diantaranya seperti kasus penganiayaan anak pejabat pajak Mario terhadap putra petinggi GP Anshor Jonathan.
Selain itu, di daerah yang berbeda terjadi kasus pemerkosaan anak Smp di Kabupaten Bone meninggal dunia. Pemerkosaan itu dilakukan oleh beberapa rekannya.
Awalnya korban menyembunyikan peristiwa ini. Namun karena dibujuk oleh kedua orang tuanya sehingga menceritakan pemerkosaan yang dialami yang dilakukan empat rekannya. (Kompas. Com 24/02//2023)
Tidak hanya itu, Polres Purwakarta juga mengamankan lima orang pemuda karena percobaan pencurian dengan kekerasan ataupun penganiayaan. Diketahui, pelaku masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Purwakarta.
Kapolres Purwakarta, AKBP Edwar Zulkarnain melalui Pelaksana Tugas Kapolsek Pasawahan, IPDA Sulaeman mengatakan kelima pemuda tersebut diamankan lantaran melakukan percobaan pencurian dengan kekerasan (curas).
Pelaku melakukan aksi dengan menyalip korban oleh rombongan pelaku menggunakan sebanyak 2 motor.
Setelah disalip oleh para pelaku , kemudian pelaku memepet korban yang mengendarai motornya sendiri dan salah satu langsung membacok punggung korban dengan sebilah clurit yang telah dipersiapkan para pelaku sebelum melakukan aksinya. ( Jurnal Polri. Com)
Miris melihat kondisi umat saat ini yang semakin hari budaya pada generasi semakin bertambah. Hal ini menunjukan tidak mungkin terjadi secara kebetulan.
Melainkan sudah menjadi budaya yang dilakukan generasi sebelumnya. Adapun penyebab menjamurnya budaya kekerasan pada remaja terdiri atas faktor internal dan juga eksternal.
Faktor internal terkait akar permasalahan yang terjadi secara sistematis yakni sistem sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan yang mampu mengikis jati diri pemuda muslim sebagai hamba.
Sehingga banyaknya remaja yang lupa identitas sebagai muslim. Kehidupan hanya dianggap sebagai tempat untuk bersenang-senang.
Karena akidah sekuler menjauhkan remaja aturan agama dari kehidupan sehingga mengakibatkan banyak remaja tanpa arah , kurang akhlak, dan gemar bermaksiat.
Sedangkan faktor eksternal meliputi : pertama, keluarga. Pada saat ini peran keluarga sangat dibutuhkan untuk membina dan membimbing anak agar berkepribadian Islam.
Tujuannya adalah agar tidak mudah terjerumus dalam pemikiran selain Islam dan terjerumus pada arus liberalisasi yang diagung-agungkan saat ini.
Kedua, Faktor lingkungan memiliki pengaruh terhadap pembentukan kepribadian generasi. Lingkungan yang menjadi tempat generasi menjalani kehidupan sosial adalah rumah dan sekolah.
Kedua lingkungan ini memiliki pengaruh sehingga jika tidak mendukung , bisa menyebabkan berbagai pengaruh negatif pada perkembangan anak-anak. Lingkungan merupakan tempat anak-anak tumbuh dan berkembang. Jika masyarakat hidup dalam lingkungan sekuler, agama tidak lagi menjadi landasan hidup secara mutlak.
Islam tidak lagi menjadi standar dalam menilai perbuatan. Walhasil, , pergaulan remaja menjadi bebas nilai. Gaya hidup liberal dan hedonis telah merusak kehidupan remaja. Bahkan, bisa merenggut masa depan mereka, seperti zina, hamil di luar nikah, hingga ab mereka aborsi.
Ketiga, faktor negara yakni penerapan kurikulum dan sistem pendidikan. Negara bertugas dalam menciptakan suasana takwa pada setiap individu.
Selain itu, negara juga berkewajiban melindungi generasi dari paparan ideologi sekuler kapitalisme yang merusak kepribadian, menyaring dan mencegah tontonan yang tidak mendidik.
Krisis moral yang terjadi pada pemuda merupakan akibat karena tontonan yang tidak menuntun, seperti konten porno atau tayangan yang mengajarkan nilai-nilai liberal.
Oleh karenanya, untuk menghasilkan generasi unggul, cerdas, dan bertakwa, tidak cukup mengurai masalah cabang saja. Sementara, akar masalahnya—kapitalisme—masih diterapkan.
Sudah selayaknya kapitalisme ini dibuang dan diganti dengan sistem mulia yani sistem Islam yang menerapkan islam secara kaffah yang peranh berdiri kokoh selama 14 abad lamanya.
Dengan keberhasilan mampu mencetak generasi tangguh, berakhlak mulia serta berkontibusi untuk kemaslahatan umat dan negara. Wallahu A'lam Bi Showwab