Eksploitasi Alam Besar- Besaran Masyarakat Buntung Malah Mengundang Bencana

Rabu, 8 MARET 2023

Oleh : Perwita Sari,S.Si

(Pegiat Literasi)

"Air mengalir sampai jauh ". Kutipan lagu bengawan solo mengingatkan kita bahwa air merupakan sumber kehidupan. Terbayang jika tidak ada air, pastinya alam akan mengalami kekeringan. Namun,apa jadinya jika banjir terjadi di mana-mana mana.

Sebut saja banjir terjadi di wilayah Kaltim cukup merata antara lain wilayah berau maupun Kutai Kartanegara serta daerah Bontang. Terutama daerah Bontang,banjir merata di daerah pesisir Bontang.

Jumlah sementara warga terdampak banjir rob di Kelurahan Bontang Kuala sebanyak 800 warga, Kelurahan Tanjung Laut Indah sekitar 900 orang, Kelurahan Berbas Pantai sekitar 850 orang, serta kelurahan Api-api sekitar 100 orang (klik.kaltim,(21/2/2023).

Diprediksi sebanyak 2.650 yang terdapat banjir empat kelurahan kemungkinan bertambah. Tidak hanya Bontang, Di Berau kondisi semakin heboh ketika ada buaya yang merupakan binatang buas, berkeliaran di sekitar perumahan warga yang terendam banjir yaitu di Kampung Tumbit Melayu.

Jika kita telisik, terjadinya banjir di berbagai wilayah apakah karena curah hujan yang tinggi,menjadi permasalahan mendasar? , apalagi banjir terjadi pada setiap tahunnya.

Padahal umat Islam tentunya mengetahui al Qur'an menyatakan bahwa turunnya hujan adalah rahmat serta merupakan keberkahan bagi alam.

Bahkan tanah yang kering menjadi subur mampu menumbuhkan tumbuhan tersebut. Sehingga tumbuhan itu menjadi bahan pangan bagi manusia. Eksistensi sebuah sistem ikut terlibat dalam kasus banjir yang terus berulang. Ideologi Kapitalisme telah memimpin pemikiran masyarakat.

Sehingga hari ini lahirlah para kapital atau orang yang berduit mengeksploitasi alam secara besar-besaran. Demi keuntungan segelintir orang akhirnya rakyat dikorbankan.

Sedikit demi sedikit kekayaaan alam direnggut dan hanya dinikmati orang yang mempunyai modal. Penebangan pohon besar-besaran dan alih fungsi hutan menjadi lahan sawit, serta penambangan perut bumi yang tidak terkendali.

Akhirnya rakyat hanya mendapatkan kerugian dari efek alam yang ditimbulkan salah satunya banjir. Tidak sedikit alam menjadi rusak hingga menimbulkan korban.

Tentunya kerugian tersebut dirasakan bagi seluruh masyarakat, karena banjir tidak hanya menyebabkan korban jiwa namun kerugian materi. Ditambah lagi meninggalkan beban psikologis, karena masyarakat merasakan lingkungan baik rumah serta infrastruktur jalan terendam banjir.

Tidak jarang banjir tersebut membawa lumpur tebal yang mengotori rumah dan jalanan. Sudah saatnya permasalahan banjir harus diselesaikan jangan sampai solusi hanya sebatas tambal sulam.

Jika kita mengharapkan Sistem Demokrasi yang mampu menuntaskan permasalahan pastinya akan kecewa. Faktanya dari tahun ke tahun banjir terus kian datang.

Dalam Islam pengurusan urusan umat akan dilaksanakan oleh pemegang kekuasaan yaitu negara. Negara bertanggung jawab penuh memastikan rakyat aman dan terjaga dari bencana. Karena kekayaan alam merupakan harta kepemilikan umum, maka negaralah yang mengatur serta mengelola.

Negara harus mengambil keputusannya secara bijak terhadap pengelolaan kekayaan alam dan jangan sampai merusak alam.

Rasulullah Saw pernah bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang artinya : " Manusia itu memiliki hak bersama (bersekutu) dalam tiga hal yaitu air , rumput liar dan api." Kata an - Nar atau api disini memiliki makna yang luas yaitu sumber daya alam yang merupakan kekayaan alam yang ada di perut bumi.

Contohnya minyak, gas dan batu bara. Sehingga negara tidak boleh memberikan kuasa pada pemodal untuk mengelola, baik kepada individu masyarakat, warga negara asing maupun aseng.

Agar harta tersebut tidak kuasai oleh individu dan bisa dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan serta kebutuhan lainnya di dalam negara.

Hingga harapannya dengan adanya sistem Islam yang mengatur rakyat selamat dan sejahtera, terjaga aman dari bencana. Wallahu'alam bis Showab