Senin, 27 PEBRUARI 2023
Oleh: Rina Rusaeny
(Aktivis Mahasiswa)
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim berkomitmen menghapus 'tiga dosa besar' di dunia pendidikan sejak pertama kali dilantik.
Ketiga hal tersebut antara lain intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual. Berbagai sosialisasi pun masif dilakukan, tepatnya pada hari Minggu, 29 Januari 2023.
Mahasiswa Penggerak MBKM Universitas Mulawarman mengadakan sosialisasi terkait 3 dosa besar pendidikan dengan tema "Reformasi Pendidikan Nasional Melawan Intoleransi, Kekerasan Seksual, dan Perundungan di Era Society 5.0."
Selain di Unmul pembahasan 3 dosa besar juga di kaji di Fakultas Hukum Universitas Medan Area mengadakan kegiatan Talk Show dengan tema “Kenali dan Sikapi 3 Dosa Dalam Dunia Pendidikan” yang dilaksanakan pada Rabu, 22 Juni 2022 di Conference Room Gedung Rektorat Universitas Medan Area.
Jika ditelisik benarkah ketiga isu tersebut merupakan bahaya dan dosa besar pendidikan? sebenarnya ketiga isu dosa besar pendidikan tersebut bukan akar masalah dari carut marutnya sistem pendidikan hari ini.
Hal ini dikarenakan ketiga hal tersebut merupakan masalah cabang yang diakibatkan oleh sistem pendidikan dan sistem sosial yang tidak tepat.
Pertama, intoleransi adalah isu yang dibuat justru untuk menuduh kelompok tertentu yaitu Islam sebagai pihak yang tidak toleran.
Walaupun tanpa bukti dan standar yang jelas bagaimana gambaran toleran yang dimaksud. Bahkan sampai hari ini sangat minim terjadi konflik di tengah masyarakat karena intoleransi.
Kedua, isu kekerasan seksual yang marak terjadi sesungguhnya karena tidak ada perlindungan terhadap perempuan, baik negara, masyarakat, maupun keluarga akibat minimnya pemahaman tentang kewajiban masing-masing, serta tidak berlakunya aturan baku di tengah masyarakat ditambah umat hari ini berada di cengkraman sistem sekuler kapitalisme.
Sistem yang memberikan kebebasan berperilaku. Belum lagi peran media yang banyak merangsang pemenuhan naluri seksual secara liar. Ketiga, perundungan yang banyak dialami pelajar atau mahasiswa disebabkan hilangnya jati diri mereka berawal dari tidak ditanamkannya visi misi hidup sebagai seorang muslim.
Sistem pendidikan yang sekuler hanya mementingkan kecerdasan duniawi tapi tidak didukung kecerdasan emosi dan spiritual serta tidak diasah kemampuan menghubungkan keimanan dan tingkah laku mereka.
Sejatinya ketiga dosa besar tersebut merupakan dampak dari penerapan sistem pendidikan sekuler yang meniadakan peran agama dalam kehidupan sehingga menjadi begitu penting akan hadirnya sistem pendidikan alternatif agar para pemuda terbebas dari bahaya dan dosa besar tersebut.
Solusi untuk segala problematika yang ada yaitu diterapkan sistem pendidikan Islam yang didukung oleh negara dengan menerapkan Islam secara kaffah.
Hal ini disebabkan: Pertama, sistem pendidikan Islam menerapkan aqidah Islam dengan cara penerapan secara praktis. Sehingga pelajar atau mahasiswa tergambar bagaimana menjalani kehidupan yang bermakna dan bermanfaat bagi umat sesuai tuntunan Allah dan Rasul SAW.
Kedua, sistem pendidikan yang tidak hanya mengedukasi sekolah formal tetapi juga mengedukasi keluarga dan masyarakat untuk menerapkan Islam dalam kehidupan sosial mereka.
Sehingga mereka pelajar atau mahasiswa bisa mengkorelasikan ide Islam dengan penerapan di lingkungan sosial. Hal ini menciptakan lingkungan yang kondusif dari sisi adab, akhlak dan pembentukan kepribadian Islam.
Ketiga, negara yang menerapkan Islam secara kaffah merupakan pintu utama diterapkannya sistem pendidikan secara keseluruhan salah satunya sistem pendidikan.
Hal ini disebabkan sistem pemerintahan dan politik Islam melahirkan peraturan-peraturan yang mendukung dan mencetak generasi terbaik yang faqih dalam agama dan mumpuni dalam pengetahuan untuk kesejahteraan umat dan keberlangsungan kehidupan Islam.
Sebagaimana lahirnya generasi terbaik di Baghdad dan Andalusia yang menjadi saksi kegemilangan Islam pada masa kekhilafahan Abbasiyah yang menjadi rujukan bagi seluruh dunia Karna menjadi pusat peradaban Dunia pada masa tersebut.
Masa ini pun telah mencetak tokoh-tokoh seperti Ibnu sina, Ibn Khaldun, Ibn khaitam, Imam Al Ghazali serta tokoh lainnya yang tidak hanya ahli di ilmu pengetahuan tapi juga agama.
Kota tersebut menjadi saksi suksesnya pendidikan Islam, yg mana para intelektual dari negeri manapun datang kesana berbondong bondong untuk belajar dan bahasa arab dijadikan perantara untuk menyatukan berbagai Latar belakang yg berbeda.
Hanya sistem Khilafah yang mampu berdiri secara independen, menjaga melindungi dan memfasilitasi umat semata-mata karena ketaatan kepada Allah SWT bukan untuk memenuhi permintaan dan standar-standar yang dibuat oleh negara sekuler. Wallahu a’lam bisshawwab. (**)