Senin, 13 PEBRUARI 2023
Oleh: Murni Arpani
(Aktivis Literasi, Pengamat Sosial Politik, warga Penajam Paser Utara)
Setiap perempuan pada fitrahnya pasti akan menjadi seorang ibu. Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, atau sering juga disebut “Al Ummu Madrasah Al Ula."
Dimana ibulah sebagai sosok pertama yang akan menanamkan norma-norma kebaikan sekaligus menjadi teladan. Ibu merupakan seorang figur yang akan menjadi contoh bagi penerus keluarganya.
Di sisi lain, perempuan juga disebut sebagai tiang utama sebuah peradaban. Bila para perempuannya baik, maka baiklah peradaban itu, dan sebaliknya.
Maraknya berita yang melibatkan perempuan sebagai pelaku utama kejahatan menambah panjang daftar hitam peradaban saat ini.
Belum lama ini, terungkap seorang ibu muda di Jambi telah melecehkan 17 orang anak. Yang mana korban-korbannya tidak semua anak laki-laki, tetapi ada juga anak perempuan yang sama-sama masih di bawah umur.
Kasus ini benar-benar membuktikan betapa rusaknya sistem kehidupan yang berlandaskan kepada sekulerisme kapitalisme. Dimana kehidupan yang dijalani oleh masyarakat saat ini begitu jauh dari agama.
Agama tampak hanya simbol dan ritual saja, sementara budaya sekuler ala Barat yang menjadi kiblatnya. Fitrah keibuan pun menjadi rusak, dan ini adalah bukti nyata bobroknya sistem Kapitalisme Sekuler.
Perempuan hanya dinilai dari kecantikannya, dan kecerdasannya digiring sebagai mesin produksi para kapitalis. Banyak perempuan-perempuan cerdas tapi justru mengagungkan pendidikan liberal gaya Barat.
Mereka kemudian menganut ide feminisme yang bertentangan dengan Islam. Bahkan ide tersebut menganggap bahwa aturan agama mengekang kebebasan kaum muslim, akhirnya syariat Islam pun mereka gugat.
Akibatnya banyak wanita muslim meremehkan dan menanggalkan hijabnya. Pergi ke klub-klub malam, mengkonsumsi pornografi, terjerat narkoba, dan tak sedikit pula yang melakukan aborsi setelah berzina. Dari sinilah instistusi keluarga akan goyah apabila para perempuan keluar dari peran dan tugas utamanya sebagai ibu dan pendidik generasi.
Perempuan yang selama ini dianggap sebagai korban, ternyata bisa menjadi pelaku, bahkan dalam perbuatan yang sangat keji. Bila sudah begini, mereka tidak akan bisa menjadi teladan dan mendidik generasi.
Karena itu, tidak sepantasnya umat berharap kebaikan dalam sistem Kapitalisme Sekuler ini. Islam memiliki aturan kehidupan yang sempurna dan menyeluruh, untuk mengatur kehidupan dunia, dan menetapkan adanya pertanggungjawaban di akhirat. Dengan demikian manusia terjaga tetap dalam fitrahnya sebagai manusia yang merupakan sebaik-baik ciptaan.
Islam pun mengatur bahwa ada delapan fungsi keluarga yang meliputi fungsi edukatif, rekreatif, ekonomi, reproduktif, sosialisasi, protektif, afektif, dan religius.
Delapan fungsi ini akan dapat terlaksana jika Syariat Islam diterapkan dalam setiap aspek kehidupan, baik itu individu, masyarakat maupun bernegara. Islam telah menetapkan bahwa pendidikan dalam rangka mewujudkan kepribadian dan berkarakter Islami adalah kurikulum yang tepat bagi generasi.
Remaja yang memiliki kepribadian Islam akan senantiasa berada dalam celupan taqwa. Ia juga tidak hanya berada dalam celupan taqwa sendirian, ia akan berupaya untuk mencelup setiap orang yang berinteraksi dengannya dengan ketaqwaan. Ketaqwaan yang ada dalam dirinya akan mendorongnya untuk melakukan arus perubahan di tengah-tengah masyarakat.
Sehingga ketika ia memimpin, kepemimpinannya akan melahirkan ketaqwaan komunal. Terakhir tidak kalah penting adalah bagaimana negara selayaknya menata media sehingga tidak kontraproduktif terhadap pembinaan generasi.
Keberadaan media selama ini tidak tegas membatasi konten meskipun ada aturan UU Penyiaran. Namun aturan tersebut bersifat lentur, mudah disiasati tulisan dan tayangan yang merusak aqidah, menyebarkan paham kebebasan, pornografi dan kekerasan masih mendominasi. Kondisi ini harus diakhiri dengan mengambil Islam dan mengembalikan Khilafah.
Dalam pandangan Islam, peran media akan berorientasi pada edukasi, informasi, amar ma’ruf nahi munkar dan muhasabah hukkam. Maka media Islam akan mencerdaskan dan mendorong ketaqwaan, karena ia adalah sebagai sarana untuk menjelaskan semua tuntunan hidup dari syariat berupa nilai-nilai dan panduan bersikap hingga peningkatan kualitas hidup dengan pemanfaatan IPTEK.
Tak ayal lagi kelak bilamana kehidupan manusia sepenuhnya berlandaskan Syariat Islam dan yang diterapkan adalah hukum-hukum Islam, maka dunia akan sepenuhnya pula membaik.
Setiap perempuan akan dengan mudah dan bahagia melaksanakan perannya sebagai ibu dan pendidik generasi. (**)