Standar IKU di Kejar, UHO Gelar Raker

Senin, 6 PEBRUARI 2023

Oleh : Risnawati

(Pegiat Opini Muslimah Sultra)

Dunia kerja masa depan akan sangat berbeda dari segi struktur, teknologi dan konsep aktualisasi diri, termasuk dalam perguruan tinggi akan diarahkan untuk memiliki tujuan utama untuk bisa mencetak “pekerja” sesuai dengan keinginan industri.

Risnawati

Seperti dilansir dari laman Dinamika Sultra.Com, Kendari – Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), menggelar rapat kerja (Raker) tahun 2023 dengan mengusung tema mewujudkan UHO Kendari yang adaptif inovatif, partisipatif dan kolaboratif.

Itu dilakukan sebagai upaya mematangkan konsep kerja dalam menentukan arah dan perjalanan kampus selama setahun mendatang. Raker tersebut dilaksanakan di salah satu hotel di Kota Kendari selama dua hari dari 24 Januari hingga 25 Januari 2023. Rektor UHO Kendari, Prof. Dr. Muhammad Zamrun Firihu, S.Si., M.Si., M.Sc., mengatakan, raker tersebut untuk membahas rencana kegiatan di tahun 2023.

Prof Zamrun, menjelaskan Universitas Halu Oleo Kendari mempunyai indikator kinerja utama (IKU) yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi UHO Kendari menggelar rapat kerja pada Tahun 2023.(Humas-UHO) .

Prof Zamrun mengungkapkan, indikator kinerja utama tersebut yakni lulusan mendapat pekerjaan yang layak, mahasiswa mendapat pengalaman di luar lampus, dosen berkegiatan di luar kampus, praktisi mengajar di dalam kampus, hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat, program studi bekerjasama dengan mitra kelas dunia, kelas yang kolaboratif dan partisipatif dan program studi berstandar internasional.

“Sekarang kan di universitas itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menetapkan indikator kinerja utama perguruan tinggi yang berimplikasi pada kualitas perguruan tinggi. Makanya semua kegiatan atau program kerja yang dilakukan oleh fakultas dan unit itu harus mendukung pencapaian indikator kinerja utama yang sudah ditetapkan,” kata rektor.

Sehingga, untuk mencapai hal tersebut semua unit atau pun fakultas diarahkan untuk menyusun program kerja yang direncanakan agar bisa menunjang ketercapaian indikator kinerja utama tersebut.

“Bagaimana untuk mencapai perjanjian kinerja tersebut berarti kita Universitas Halu Oleo harus menyusun rencana kerja. Nah hari ini kita raker-kan untuk melihat program-program di semua unit agar bisa menunjang keberhasilan kinerja tersebut,” ungkap Prof Zamrun.

Alumnus Jepang ini menambahkan, kinerja tersebut telah tercapai akan memberikan dampak positif untuk Universitas Halu Oleo.

“Kalau misalnya indikator kinerja utama itu semua sudah tercapai InsyaAllah nanti komoditas universitas itu bisa lebih bagus baik kualitas kampusnya, kualitas mahasiswanya kualitas alumninya kemudian sistem pembelajaran,” pungkasnya.

Telaah Akar Masalah Raker ini mengambil tema wujudkan UHO yang adaptif, inovatif, partisipatif dan kolaboratif. Hal ini untuk matangkan konsep arah dan perjalanan kampus 1 tahun mendatang untuk mencapai indikator kerja utama (IKU) yang sudah ditetapkan Kemenristek.

Dengan demikian para investor bisa menanamkan modalnya disektor pendidikan (terutama untuk pendidikan tinggi). Pada akhirnya semakin melegitimasi adanya komersialisasi pendidikan tinggi, pelepasan tanggung jawab negara dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi dan berdampak pada semakin rendahnya akses pendidikan tinggi yang mampu dinikmati oleh rakyat Indonesia.

Sesungguhnya, Indonesia Pun telah mengadopsi KBE (Knowledge Based Economy, Ekonomi Berbasis Pengetahuan). Indikator IKU sendiri merupakan lulusan mendapat pekerjaan yang layak, mahasiswa mendapat pengalaman diluar kampus, dosen berkegiatan diluar kampus, praktisi mengajar dalam kampus, hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat, prodi kerjasama dengan mitra kelas dunia, kelas yang kolaboratif dan partisipatif dan prodi berstandar internasional.

Dengan adanya IKU, aktualisasi keilmuan para intelektual bukan lagi untuk kemaslahatan umat, tetapi untuk aspek ekonomi. Bahkan secara tidak sadar, mereka dijadikan alat oleh penjajah.

Sehingga, kaum intelektual seakan dituntut menguasai pengetahuan dan kemampuan yang dapat digunakan sebagai modal utama memasuki ekonomi pasar bebas, tujuannya agar dapat berkompetisi dan memenangkan kompetisi global itu.

Sebagai konsekuensi diterapkannya sistem ekonomi liberal kapitalis, menjadikan negeri-negeri Muslim ramai-ramai melakukan privatisasi pendidikan demi tujuan komersil, termasuk di Indonesia. Sebab, globalisasi kapitalisme mengharuskan: Pertama, Semua negara harus mengadopsi sistem ekonomi liberal, dengan slogan perdagangan bebasnya. Kedua, Privatisasi dalam semua sektor publik.

Ketiga, Menempatkan negara sebagai penjamin bagi kelangsungan sistem ekonomi pasar. Sehingga berimbas pada mahalnya biaya pendidikan dan pendidikan bukan lagi milik rakyat tapi milik lapisan sosial kaya tertentu didalam masyarakat.

Semuanya mengarahkan makin liberalnya dunia pendidikan dan adaptif terhadap apa saja juga inovatif, tentu saja ini sangat membahayakn masa depan pendidikan dan generasi termasuk praktisi pendidikan dan kaum muslim secara umum, sementara penjajahan makin kokoh.

Maka, yang dibutuhkan oleh perguruan tinggi sesungguhnya adalah mengharap hadirnya negara, bukan justru negara lepas tangan. Namun, Negara ini telah mengkomersilkan semua layanan publik yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Dan kini pendidikan pun harus terpasung dengan liberalisasi yang semakin mencekik. Karena, jika kita masih memegang erat sistem kapitalisme sekuler ini, sampai kapanpun pendidikan tinggi akan terus terjajah dan tidak akan pernah mampu mencetak ilmuwan yang bermanfaat bagi umat.

Walhasil, sudah saatnyalah kita meninggalkan sistem kapitalisme sekular yang telah nyata menjadikan pendidikan hanya sebagai pabrik pencetak ‘pekerja’ untuk korporasi. Wallahu a’lam.