Pembunuhan untuk Jual Organ, Potret Buram Digitalisasi

Rabu, 25 JANUARI 2023

Oleh: Nadia Kurnia Insyra

 (Aktivis Muslimah)

Kasus jual organ seperti jual ginjal merupakan hal yang sudah simpang siur di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Sedangkan kasus orang yang hendak menjual organ orang lain dengan cara membunuh biasanya hanya kita dapati di drama bergendre psikopat.

Nadia Kurnia Insyra

Namun ternyata kasus tersebut benar-benar terjadi di tengah masyarakat, parahnya dilakukan oleh remaja. Seorang anak berusia 11 tahun di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), bernama Muhammad Fadli Sadewa tewas dibunuh dua remaja inisial AR (17) dan AF (14).

Kedua pelaku melakukan aksinya dengan niat menjual organ korban melalui internet.

Polisi mengatakan dua pelaku tersebut sudah satu tahun belakangan terobsesi untuk menjual organ tubuh dengan membuka situs website jual beli organ manusia secara otodidak. Dengan motif ingin cepat kaya (detiksulsel, 11/01/2023).

Walaupun pada kasus ini pelaku tidak sampai menjual organ sikorban dan berujung ditangkap karena ditemukannya bukti pembunuhan. Namun kasus ini tentu masih menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat.

Berdasarkan fakta di atas, kita mendapati bahwa hal ini terjadi karena keinginan menjadi kaya yang merupakan standar kesuksesan hari ini.

Selain itu, mudahnya situs wibesite yang bersifat negatif untuk diakses, memberikan beragam konten cara mendapatkan uang cepat dan banyak.

Tanpa memperhatikan baik buruknya apalagi halal haramnya, salah satunya dengan mengakses situs jual organ online yang terkesan mudah tanpa melihat kembali apakah tindakan mereka termasuk tercela atau tidak.

Sangat disayangnya transformasi digital yang sangat pesat di negeri ini tidak mampu diimbangi dengan literasi digital yang baik bagi masyarakat.

Rentannya pengamanan digital yang diterapkan oleh negara menjadikan setiap masyarakat mudah untuk mengakses situs yang bisa mengganggu akal sehat sehingga berujung terjadinya tindakan kriminal pembunuhan karena buruknya tontonan ataupun media yang menjadi sumber informasi mereka.

Seperti inilah gambaran dari sistem kapitalisme yang berstandarkan sekularisme. Sistem ini membentuk arah tujuan hidup manusia hanya untuk memperoleh materi sebanyak banyaknya dengan cara yang mudah.

Sehingga individu yang dibentuk adalah mereka yang rela menyerap informasi dan melakukan apa saja asalkan bisa mendatangkan materi bagi mereka.

Dilain sisi juga melahirkan para pejabat negeri yang abai terhadap urusan rakyatnya, sebagaimana ditunjukkan dengan tidak mampunya sebuah institusi negara untuk memfilter konten/ situs negatif yang dapat merusak pola pikir masyarakat.

Hal ini karena di bawah sistem kapitalisme, peran negara hanya menjadi kaki tangan dari para elit global dalam menanamkan standar materi pada rakyatnya serta menjauhkan mereka dari pemikiran yang benar berstandarkan islam.

Sistem ini juga membentuk masyarakat yang individualis dan hedon sehingga mereka hanya disibukkan mengejar materi yang menjadi standar kesuksesan dari sistem ini dan cenderung apatis terhadap kedzoliman yang terjadi di tengah-tengah mereka.

Berbeda ketika Islam menjadi sistem yang diterapkan dalam sebuah negara. Sistem Islam menjadikan standar kebahagiaan tertinggi adalah mencapai ridho Allah SWT sehingga seluruh sendi kehidupan baik negara, masyarakat, maupun individu terikat dengan syariat islam.

Hal tersebut tercermin dari tiap-tiap individu di masa Islam tegak, mereka disibukkan dengan perkara-perkara yang dapat menjadikan mereka sebagai hamba terbaik dihadapan Allah SWT.

Seperti berbondong-bondong berjihad dijalan Allah SWT, menggali berbagai macam ilmu Allah SWT, dan perkara-perkara lainnya yang mendatangkan pujian dihadapan Allah SWT. Sehingga mereka tidak akan mudah tergiur untuk mengakses tontonan atau informasi yang buruk baginya karena sejatinya mereka mengetahui peran mereka dihidupkan di dunia Allah SWT.

Masyarakat yang dibentuk juga masyarakat yang senantiasa ber’amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab mereka memahami peran terbaik sebagai umat manusia adalah yang senantisa mengajak manusia untuk taat kepada Allah SWT.

Negara yang lahir darinya adalah negara independent yang senantiasa mengurusi kemaslahatan rakyatnya baik itu dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya.

Penyebaran informasi di media massa terfilter, sehingga setiap tindakan kriminal karena mengkonsumsi informasi yang buruk bisa diminimalisir dengan lengkapnya kebijakan syariat islam. Islam mampu mengatasi kriminalitas tersebut karena lengkapnya aturan yang diterapkan.

Keseluruhan dapat diatasi, baik sebelum tindakan kriminal terjadi maupun setelah terjadi dengan memberikan sanksi tegas yang bersifat zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa) terhadap para pelaku tindakan kriminal.

Fenomena ini bukanlah hal yang mustahil terjadi karena peran pemimpin dalam negara Islam adalah sebagai tangan kanan dari Allah SWT sehingga mereka yang terpilih menjadi pemimpin haruslah menetapkan segala kebijakan sesuai standar syariat islam.

Syariat islam telah terbukti mampu mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia kurang lebih selama 13 abad. Syariat islam adalah satu-satunya aturan lengkap yang berasal dari tuhan sehingga mampu mengatur segala bentuk kemaslahatan manusia dengan baik dan sesuai dengan fitrah mereka.

Maka dari itu dalam menyelesaikan segala problematika manusia terkhususnya tindakan kriminal yang terjadi karena tontonan yang buruk dan berstandar materi bisa diatasi secara tuntas dengan diterapkannya syariat islam dimuka bumi Allah dalam naungan Khilafah. Wallahu 'alam.