Moderasi Beragama Terus Digencarkan, Benarkah Untuk Kedamaian?

Jumat, 20 JANUARI 2023

Oleh: Annisa Putriawantiko, S.Pd

(Aktivis Muslimah)

Kementerian Agama menggelar Jalan Sehat Kerukunan dan Deklarasi Damai Umat Beragama serentak di seluruh Kantor Wilayah Kemenag Provinsi di Indonesia.

Jalan Sehat Kerukunan ini digelar sebagai rangkaian dari peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-77 Kementerian Agama. Jalan sehat ini turut dihadiri tokoh agama dan tokoh pemuda dari berbagai majelis agama serta ormas keagamaan.

Annisa Putriawantiko

Ketua Panitia HAB ke-77 Kemenag Faesal Musaad menjelaskan maksud Deklarasi Damai Umat Beragama antara lain akan menyampaikan pesan tentang pentingnya upaya bersama dalam penguatan moderasi beragama dalam rangka meningkatkan kerukunan umat beragama.

Juga komitmen menghindari hoaks dan tindakan intoleransi.(kemenag.go.id)

Termasuk wilayah Kalimantan Timur pun tak ketinggalan memeriahkan agenda tersebut, kurang lebih 2000 peserta jalan sehat tampak memadati halaman Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur sejak awal acara.

Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, H. Hadi Mulyadi berkesempatan hadir sekaligus membuka event tersebut, Ia pun berpesan kiranya selalu menjaga kerukunan, karena menjaga kerukunan adalah tugas semua agar dapat membangun daerah dan bangsa menjadi lebih baik.(kaltim.kemenag.go.id)

Selanjutnya, dikutip dari lama yang sama sebanyak kurang lebih lima ribu warga Balikpapan mengikuti kegiatan Jalan Sehat Kerukunan yang dilaksanakan oleh Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan di Lapangan Merdeka Balikpapan.

Kegiatan Jalan Sehat Kerukunan juga dirangkai dengan Deklarasi Damai Umat Beragama yang dipimpin oleh Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, S.E., M.E. Deklarasi berisi komitmen bersama untuk merawat kebhinekaan, mengukuhkan moderasi beragama, menghindari segala bentuk ujaran kebencian, serta tidak menggunakan rumah ibadah untuk kegiatan politik praktis.

Melihat fakta diatas, belakangan ini memang isu agama-keagamaan menjadi topik yang terus dibincangkan,banyaknya kampanye akan kerukunan beragama dan toleransi ini nampaknya akan bermuara pada program moderasi beragama yang sedang digencarkan pemerintah.

Apa sebenarnya moderasi itu ?

Kata moderasi sendiri berasal dari bahasa Latin moderâtio, yang berarti ke-sedang-an, tidak kelebihan, dan tidak kekurangan, alias seimbang .

Menurut KBBI moderasi berarti (1)Pengurangan Kekerasan (2) Penghindaran Keekstreman. Maka, ketika kata moderasi disandingkan dengan kata beragama, menjadi moderasi beragama, istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam cara pandang, sikap, dan praktik beragama. (Detik.com)

maka dapat disimpulkan adanya moderasi beragama ini katanya untuk menciptakan kerukunan, harmoni sosial, sekaligus menjaga kebebasan dalam menjalankan kehidupan beragama, menghargai keragaman tafsir dan perbedaan pandangan, serta tidak terjebak pada ekstremisme, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama.

Benarkah Untuk Kedamaian?

Perlu kita ketahui dahulu, bahwa pada dasarnya ide moderasi tentu bukanlah berasal dari Islam bukan pula murni dari ulama nusantara, melainkan ide ini merupakan propaganda kaum kafir barat yang tak suka Islam dan kaum muslimin, merekalah yang mengkotak-kotakkan Islam beberapa golongan seperti ekstrimis, liberal, moderat dan lainnya semua ini adalah desain Kafir Barat.

Sesuai dengan tabiatnya, kafir Barat dalam setiap agendanya pasti memiliki visi untuk menjauhkan Islam dari kehidupan kaum muslimin, juga ingin menghentikan laju gerak kebangkitan Islam yang mereka tahu betul hal itu akan terjadi, maka tak heran dewasa ini mereka semakin getol menyerang dan memusuhi Islam dengan berbagai upayanya termasuk moderasi beragama yang telah dikemas cantik namun membahayakan kaum muslimin.

Sekilas mata memandang, program moderasi beragama terlihat memiliki tujuan yang baik yaitu menciptakan kerukunan, kedamaian, keharmonisan antar umat beragama dan sebagainya. Namun benarkah itu akan terjadi?

Terlihat dari beberapa tahun sejak munculnya program ini, beberapa konflik agama masih terjadi.

Juga, bukankah di tanah air selama ini mayoritas masyarakatnya sudah cukup damai berdampingan antar agama bahkan sebelum ada program moderasi. Maka, keberadaan moderasi benarkah kedamaian yang hendak dicapai atau ada hal lain?

Jika kita telisik lebih dalam, dibalik balutan apik moderasi beragama ada bahaya yang mengancam kaum muslimin. Sebab, sampai sini dapat kita tarik bahwa goals dari moderasi beragama adalah membentuk prilaku yang ‘biasa’ aja terhadap agama, tidak ekstrimis juga tidak liberal.

Islam ekstrimis dinarasikan mereka yang getol taat syariat secara totalitas tanpa kompromi, sekali haram ya haram. Berbalik pada liberal yang hidup semaunya bebas tanpa diatur agama.

Itulah scenario Barat untuk menjauhkan Islam dari umatnya, hal ini bisa mengaburkan syariat Islam yang sesungguhnya, membuat kaum muslimin pilah pilih dalam mentaati perintah Allah SWT, memberi kelonggaran pada kemaksiatan dengan dalih kemaslahatan, ikut dalam perayaan agama lain atas nama toleransi, bahkan berpotensi menghalalkan apa yang diharamkan Allah atas nama kesepakatan bersama, na’udzubillahi min dzalik.

Islam Sempurna dan Paripurna

Sejatinya umat Islam tidak perlu adanya moderasi beragama. Sebab Islam memiliki sistem yang komperhensif dan tidak adalagi yang lebih tinggi darinya, maka tak ada hak bagi manusia untuk mengotak-atik syariatnya dengan mengurangi atau menambahi.

Juga tak ada istilah muslim biasa, sebab menjadi muslim berarti taat kepada Allah SWT secara totalitas, tidak pilah pilih dan kompromi jika dikatakan haram maka tinggalkan. Seperti firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 85 : “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain?

Tidaklah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah: 85)

Selanjutnya, hendaknya kaum muslim menyadari dan memperhatikan bahaya dari ide-ide barat yang tak terlihat. Serta tidak mengambil apapun dari program yang mereka buat, Jangan sampai terikut dan terpengaruh dalam pengotak-ngotakkan yang mereka desain.

Sebaliknya, tetap istiqomah menjalani Islam secara kaffah dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, tak perlu melihat pada yang selain dari Islam, sebab Islam sudah sempurna dan paripurna untuk mengatur kehidupan manusia. Allah SWT Berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

..."Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]