Selasa, 17 JANUARI 2023
Oleh : Nurfia S.Sos
(Aktivis Dakwah Kampus)
Kasus disawernya seorang qariah yang sedang membaca Al-Qur’an adalah bentuk pelecehan dan desakralisasi terhadap Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan sudah hilangnya adab terhadap kitab suci yang seharusnya di junjung tinggi.
Baru-baru ini umat Islam dihebohkan dengan video viral nyawer saat tilawatil Qur’an yang dibacakan seorang muslimah. Dua orang pria memberikan sejumlah uang kertas, bahkan salah satu diantara mereka sempat menyelipkannya di kerudung sang muslimah.
Bila ditelusuri di media sosial aksi sawer ternyata bukan kali ini terjadi. Nyawer dilakukan dalam berbagai kesempatan, kepada para pembaca Al-Qur’an (qari dan qariah).
Bahkan ada seorang qari yang penutup kepalanya terselip banyak uang saweran. Sang qari diam saja saat hadirin menyelipkan uang-uang tersebut dan melanjutkan bacaan Al-Qur’an.
Sayangnya, praktik ini jamak dilakukan di tengah masyarakat. Dalam berbagai pergelaran musik seperti dangdut dan campursari, saweran seakan hal biasa. Bahkan ada yang dari kalangan santri, tokoh masyarakat, tokoh agama ikut meramaikan dengan nyawer.
Apalagi menyangkut dengan tilawah Al-Qur’an. Perbuatan tidak terpuji tersebut jangan dijadikan tradisi dan harus dihentikan. Sebab aksi sawer terhadap qariah merupakan cara keliru, tidak menghormati majelis dan tidak beradab terhadap ayat-ayat suci Al-Qur’an yang tengah dibacakan.
Persoalan lainnya juga terkait penyelipan sawer dikerudung qariah merupakan bentuk pelecehan kehormatan dan merendahkan marwah Muslimah, maka sudah seharusnya menghentikan kebiasaan perbuatan seperti ini. Masyarakat tidak boleh menganggap perihal tersebut sebagai tradisi baik hingga tidak berlangsung terus menerus.
Aksi niradab ini tentu mengundang keprihatinan, karena menganggap bacaan Al-Qur’an seperti tak ada bedanya dengan nyanyian lagu dangdut. Ini mencerminkan bobroknya akhlak umat Islam yang nyata kemaksiatan dipertontonkan di depan mata, namun masyarakat setempat membisu seolah mewajari perbuatan tersebut.
Bila seperti ini, perkataan buya hamka sangat tepat disematkan “ Jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan."
Jauhnya Umat Islam terhadap Agamanya
Bobroknya akhlak hari ini terjadi karena jauhnya dari pemahaman agama Islam yang benar. Semestinya Muslim memahami bahwa amal terbaik itu terwujud dari niat ikhlas dan cara sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya, meski berdalih mengapresiasi, menghargai, menghadiai, tetap saja tidak akan merubah syarat diterimahnya suatu amal sholeh.
Selain itu perbuatan seperti ini tak ubahnya karena pengaruh liberalisasi akut yang mencongkol dalam diri kaum muslimin.
Hingga percampuran antara hak dan batil sudah membudaya di tengah masyarakat. Hasilnya bermunculanlah tindakan tak beradab pada acara keagamaan yang di campur adukan dengan perilaku konyol tanpa memperhatikan lagi hukum syariat yang seharusnya menjadi pijakan.
Sistem hidup sekulerisme liberalistik yang di adopsi dan diterapkan oleh Negara berhasil menjauhkan penduduknya yang mayoritas muslim jauh dari ajaran agamanya.
Efeknya mereka membuat hukum sendiri dan cenderung mengikuti hawa nafsu masing-masing. Itulah sebabnya tindakan sawer kepada qariah menjadi hal lumrah, begitupun jenis kemaksiatan lainnya semakin merajalela.
Ternyata penyebabnya kompleks dan berujung pada tidak diterapkannya aturan Allah SWT dalam berbagai ranah kehidupan. Ketika marwah Islam tak terjaga. Secara umum agama Islam tak lagi dihormati.
Umat Islam pun terjebak pada acara seremonial tanpa makna. Agama justru dirusak dalam acara keagamaan. Miris, yang menjadi perusak itu justru Muslim itu sendiri.
Agar berefek jera Negara harus bersikap tegas terhadap para pelaku dekralisasi Al-Qur’an. Tindakan ini bisa mengehentikan agar tidak ada lagi pelaku yang serupa.
Namun,sayangnya tindakan ini akan bisa terwujud dengan sempurna apabila umat memiliki Negara yang memuliakan A-qur’an.
Al-Qur’an Harus di Junjung Tinggi
Tindakan sawer yang dilakukan terhadap qariah tilawatil Qur’an jelas sangat mencoreng sakralitas Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam.
Al-Qur’an seharusnya didengarkan dengan penuh penghayatan. Walaupun, kita belum mampu memahami makna Al-Qur’an setidaknya.kita dapat lakukan menyimak dengan penuh adab lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Sebagaimana perkataan Imam al- Suyuthi, seorang ahli hadits menjelaskan bahwa saat bacaan Al-Qur’an sedang dilakukan, hendaknya orang yang hadir di situ mendengarkan dengan seksama dan penuh hormat.
Dengan meneladani Rasulullah Saw, beliau sangat menghargai pembaca Al-Qur’an bersuaara merdu. Itu sebabnya beliau menjuluki Abu Musa al-Asy’ari seorang qari bersuara indah sebagai “diantara seruling Nabi Daud."
Begitupun keagungan Al-Qur’an pun sangat berpengaruh dalam kepribadian salafuna ash-shalih. Mereka menggariskan keteladanan terbaik dalam memelihara Al-Qur’an. Mereka membaca men tadaburi, mengamalkan dan mendakwahkan Al-Qur’an. Waullahu’alam