Sabtu, 14 JANUARI 2023
Oleh: Nurlinda
Baru saja memasuki tahun 2023, berbagai macam warna berita telah mewarnai negeri ini. Salah satunya tentang komentar netizen terhadap seorang youtuber terkenal di negeri ini. Netizen ramai menulis tanggapan pada video liburan yang diunggah youtuber tersebut.
Bukan tanpa sebab netizen bereaksi pada kontennya. Dia ditegur bersama suaminya akibat mengajak bayinya yang berusia sekitar 5 bulan untuk naik jetski ke tengah laut.
Netizen semakin mengurut dada saat melihat si bayi digendong dan tanpa pelampung. Kritikan dan pertanyaan netizen tentang dugaan ekploitasi anak mewarnai kolom komentar youtuber.
Tidak hanya netizen Indonesia yang menyoroti perbuatan youtuber tadi, media asing pun ikut memberitakan youtuber dengan follower sekitar 30 juta itu.
Konten ekstrem dan nyeleneh bukan sesuatu yang asing berseliweran di media sosial. Ini semua demi popularitas.
Popularitas telah menjadi salah tujuan yang diinginkan mayoritas manusia saat ini. Demi meraihnya, tidak jarang orang – orang abai terhadap sekitar termasuk hal-hal yang seharusnya mereka jaga.
Demi eksistensi diri, pandangan halal haram, baik buruk, hingga yang membahayakan dirinya dan orang di sekitarnya bukan hal prioritas.
Pandangan hidup atau sistem kapitalisme sekuler yang telah beredar di masyarakat, mengajari mereka jika ketenaran merupakan sumber meraup kekayaan yang menggiurkan.
Walhasil, masyarakat yang sudah terpengaruh gaya hidup materialistis dan hedonis semakin menggebu-gebu untuk menjadi populer.
Penerapan sistem kapitalisme dalam kehidupan masyarakat muslim sungguh berbahaya.
Mereka menghipnotis masyarakat agar meyakini bahwa kebahagiaan manusia ialah saat meraih materi, mendapatkan kesenangan duniawi.
Di bidang pendidikan, mereka membuat peserta didik hanya fokus untuk mendapatkan gelar yang nantinya bermanfaat saat mereka bekerja.
Tsaqofah atau ilmu yang berkaitan untuk membentuk mereka memahami peran dan tanggung jawab mereka sebagai anak, anggota masyarakat, bahkan Orang tua bukanlah hal utama.
Islam yang merupakan pandangan hidup, memandang jika kebahagiaan tertinggi bagi manusia ialah saat mereka mendapat keridhoan Sang Pencitpa, Allah SWT.
Sehingga setiap individu muslim saat ingin bertindak dan memandang sesuatu, harus melihat halal haram yang telah Allah sampaikan melalui Al Qur’an maupun Al Hadits. Lalu bagaimana Islam memandang jika ada youtuber yang menjadi anak sebagai cara untuk menghasilkan popularitas?
Islam sebagai din yang sempurna, memosisikan anak sebagai anugerah dan amanah (titipan) dari Allah. Kelak setiap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban pengurusan buah hatinya. Anak juga merupakan aset berharga untuk oramg tua, negara dan agama di masa mendatang.
Tidak hanya untuk kehidupan dunia, namun juga kehidupan akhirat. Oleh sebab itu, orang tua wajib menjaga tumbuh kembang anak dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Dikarenakan tanggung jawab tersebut, Islam memberikan tuntunan bagaimana menjadi orang tua.
Peran orang tua sebagai pendidik dan menjaga keselamatan anaknya sejak dalam kandungan hingga mereka siap membangun keluarga sendiri.
Tidak hanya orang tua yang dituntun menjaga anak, Islam juga mewajibkan negara untuk melindungi rakyatnya, termasuk anak-anak.
Salah satu yang dilakukan Negara ialah menyelenggarakan pendidikan yang berbasis aqidah islam, dimana setiap peserta didik diajarkan tentang seluk beluk Islam hingga paham tujuan hakiki penciptaan dan keberadaan mereka di dunia.
Saat mereka memahami tujuan tertinggi hidup ialah keridhoan Allah, maka peran yang mereka jalani akan dilakukan sesuai dengan perintah Allah SWT.
Kekayaan dan harta tidak akan menyilaukan mereka hingga melalaikan perkara halal dan haram. Islam mewajibkan Orang tua dan negara juga secara nyata memberikan perlindungan dari berbagai macam ancaman fisik maupun psikis.
Sanksi diberikan negara kepada setiap individu yang mengancam anak, termasuk oleh orang tuanya sendiri. Keamanan anak, kesholihan orang tua, tanggung jawab negara hanya akan terbentuk saat islam diambil menjadi pandangan hidup.
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia." (QS. Al Anbiya: 107). Wallahu a’lam bisshawab