Sabtu, 7 JANUARI 2023
Oleh: Wiwik Dwi Ismiati
(Pemerhati Ekonomi)
Sampai saat ini masyarakat capek bahkan merasa harus muak dan pasrah dengan keadaan. Semua itu disebabkan harga beberapa jenis bahan pangan terpantau melonjak menjelang Natal dan Tahun Baru 2023.
Pedagang pasar tradisional mendesak pemerintah segera turun tangan untuk menekan laju kenaikan harga pangan tersebut. Diantaranya harga cabai, bawang merah, beras,minyak goreng.
Kenaikan harga tersebut mengikuti wilayah penghasil maupun wilayah konsumtif. Sampai saat ini belum ada upaya antisipasi serius dari pemerintah. Lantas bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tersebut?
Dan adakah solusi terkait kenaikan harga bahan bahan pokok tersebut. Dimana komoditi tanaman pertanian itu biasanya dari pasokan pertanian, tidak terpengaruh dari BBM naik, melainkan jika pasokan banyak harga turun, sedangkan akan naik jika pasokan kurang.
Itulah realita yang masyarakat alami saat ini yang sudah menjadi tradisi melambungnya harga pangan mengiringi hari hari besar keagamaan dan menjelang awal tahun.
Seolah sudah dapat ditebak dan dipastikan oleh para masyarakat terutama kaum ibu yang bertugas mengatur keuangan pembelanjaan dalam rumah tangga.
Hampir selalu, menjelang Natal dan Tahun Baru harga melonjak. Kondisi ini jelas menyusahkan rakyat.
Sedangkan rakyat tidak hanya memenuhi kebutuhan pokok. Biaya pendidikan pun menjadi semakin mahal, sementara rakyat sulit untuk mendapatkan lapangan pekerjaan yang layak dan dapat memenuhi semua kebutuhannya.
Harusnya pemerintah bisa mengantisipasi,dan menjaga rantai stok dan mencegah praktek yang berdampak pada kenaikan harga, seperti menimbun atau monopoli.
Dimana pemilik modal banyak memanfaatkan keadaan tersebut dan meraup keuntungan sebesar besarnya. Hingga masyarakatlah yang menjadi korban dari kecurangan tersebut.
Terlebih miris jika kita melihat masyarakat kalangan menengah kebawah merasakan dampak tersebut. Itulah buah dari sistem kapitalis sekuler yakni sistem yang berasaskan asas manfaat yang mana hanya menguntungkan segelintir orang atau pemilik modal saja.
Sedangkan sebagian besar masyarakat terkena dampak negatif dan memunculkan kesusahan atau kesulitan hingga dapat menimbulkan masalah baru. Sistem ekonomi islam memiliki cara jitu untuk menjaga distribusi pangan dan menjaga gejolak harga.Ini sejalan dengan pendapat ekonomi muslim, Ibnu Taimiyah.
Dia pernah mengatakan, "Mekanisme harga adalah proses yang berjalan atas dasar gaya tarik menarik antara konsumen dan produsen. Baik dari pasar output (barang) ataupun input (faktor faktor produksi).
Sedangkan harga adalah sejumlah uang yang menyatakan nilai tukar suatu unit benda tersebut.
Rasulullah SAW juga pernah bersabda dalam hadist yang diriwayatkan Anas. Suatu ketika Anas berkata: "Wahai Rasulullah tentukanlah harga untuk kita !
"Beliau menjawab," Allah itu sesungguhnya adalah penentu harga. Penahan, pencurah, serta pemberi rizki. Aku mengharapkan dapat menemui tuhanku dimana salah seorang dari kalian tidak menuntunku karena kezaliman dalam hal darah dan harta."
Karena islam melarang adanya intervasi harga, maka menurut Ibnu Taimiyah, jika ingin menstabilkan harga dipasar, pemerintah harus memasok barang atau mengurangi pasokan barang ke pasar.
Selain itu juga, pemerintah harus menjamin bahwa transaksi perdagangan di pasar harus bebas dari spekulasi kecurangan.
Namun pada kenyataannya fakta yang kita dapatkan saat ini justru setiap tahun harga-harga bahan pokok selalu naik yang mengakibatkan rakyat menjerit untuk memperolehnya.
Maka selama sistem Kapitalisme dianut oleh Negara maka selama itu pula kenaikan harga dalam permainan pasar akan melonjak naik dari tahun ke tahun. Wallahua’lam Bishowab