Tragedi Halloween di Korea Selatan Memakan Banyak Korban

Kamis, 10 NOPEMBER 2022

Unie Khansa

 (Praktisi Pendidikan)

Halloween adalah suatu perayaan yang dapat dijumpai di sejumlah negara pada tanggal 31 Oktober, yaitu malam Hari Raya Semua Orang Kudus (All Hallows' Day) di Kekristenan Barat. Kata haloween itu sendiri bermakna “malam yang dikuduskan" atau "malam suci."

Kegiatan saat Halloween meliputi Trick or treat (atau hal terkait penyamaran dengan kostum seram); menghadiri pesta kostum Halloween; mendekorasi; mengukir waluh menjadi Jack-o'-lantern; menyalakan api unggun besar; permainan ramalan atau penenungan; apple bobbin;, bermain lelucon praktis; mengunjungi atraksi berhantu; menceritakan dongeng menakutkan; dan menonton film horor. Kalau kita amati, tidak ada satu pun kegiatan haloween ini yang mendatangkan manfaat apa lagi meningkatkan kualitas hidup seseorang terutama pemuda.

Alih-alih bermanfaat malah banyak mendatangkan mudarat. Beberapa mudarat dari kegiatan haloween terutama untuk muslim antara lain: karena kegiatan ini berkaitan erat dengan kegiatan keagamaan, Kristen, maka akan mengganggu keimanan muslim tersebut; akan membuat seseorang menjadi penakut; atau membuat seseorang menjadi beringas akibat kegiatan/tampilan/tontonan horor selama haloween; dan akan mendatangkan malapetaka, seperti yang terjadi di Korsel.

Peristiwa Haloween di Itaewon, Korea Selatan itu menelan korban jiwa 151 orang tewas dan 82 orang luka-luka. Dari 151 korban tewas 19 orang adalah warga asing. (Liputan6, 30 Oktober 2022) Peristiwa tersebut mengguncang dunia sehingga banyak pejabat mengungkapkan belasungkawa.

Salah satu ungkapan belasungkawa disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, Jokowi. Dalam akun Twiter-nya, beliau menyatakan Indonesia bersama rakyat Korea Selatan sangat berduka. Ia pun berharap korban yang terluka bisa segera pulih.(Kompas.com, 30 Oktober 2022) Tragedi haloween di Korsel jelas membuat kita prihatin.

Namun di sisi lain, kita lebih prihatin dengan sikap pemerintah/penguasa dalam menyikapi tragedi tersebut. Kepeduliaan pemerintah/penguasa rasanya lebih besar kepada rakyat negara lain dibandingkan terhadap nasib rakyat sendiri terbukti dengan adanya ungkapan belasungkawa.

Sementara, terhadap tragedi yang terjadi di negeri sendiri yang menimpa rakyat sendiri, misalnya pada tragedi Kanjuruhan yang juga memakan korban meninggal dalam jumlah yang besar, pemerintah/penguasa tak mengucapkan satu patah kata pun yang menunjukkan belasungkawa atau keprihatinan.

Tidak ada pernyataan “pemerintah bersama korban Kanjuruhan." Sungguh sangat miris dan menyakitkan.

Keprihatinan lain, adalah adanya pembiaran perayaan serupa di Indonesia, padahal perayaan tersebut adalah budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, bahkan bisa dikatakan tidak memberi manfaat terhadap pembangunan karakter pemuda masa depan.

Seolah-olah pemerintah/penguasa membiarkan pemudanya tidak berkarakter atau memiliki karakter yang lemah. Hal ini menunjukkan potret penguasa yang abai akan proses pembinaan karakter pemuda.

Padahal, pemuda adalah harapan bangsa yang akan membangun peradaban bangsa pada masa yang akan datang. Bagaimana bangsa ini ke depannya tergantung pada kondisi pemuda saat ini. Maju atau mundurnya bangsa ini tergantung pada kondisi pemuda saat ini.

Demikianlah potret sistem pemerintahan saat ini. Hal ini sangat jauh berbeda dengan sistem pemerintahan Islam. Dalam Islam, penguasa juga bertanggung jawab atas pembentukan kepribadian generasi melalui berbagai mekanisme, baik dalam dunia pendidikan maupun luar pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, Islam pemerintah/penguasa dengan jelas menentukan tujuan pendidikan yaitu membentuk manusia yang sempurna, ialah; pertama, jasmaninya sehat serta kuat; kedua, akalnya cerdas dan pandai; ketiga, hatinya takwa kepada Allah SWT.

Manusia yang sempurna demikian akan menjadi manusia-manusia yang mampu membangun bangsa dan negaranya menjadi bangsa yang besar yang mampu berdiri sendiri tidak bergantung pada bangsa lain; dengan ketakwaannya mampu membangun masyarakat yang makmur, bukan memakmurkan diri pribadi.

Adapun pembentukan kepribadian di luar pendidikan dengan pembinaan keluarga dan lingkungan yang keduanya sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian/karakter generasi. Wallahualam bissawab.