Kamis, 10 NOPEMBER 2022
Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
Dilansir Radar Jatim.id, 17 Oktober 2022, sekitar 160 CGP (Calon Guru Penggerak) Kabupaten Sidoarjo, mulai jenjang TK, SD, SMP, SMA termasuk juga SLB negeri dan swasta yang telah melakukan aktivitas pembelajaran. Melakukan aksi nyata, pameran program pembelajarannya mulai dari modul 1.3 hingga modul 3.3 yang sudah terselesaikan hampir setahun.
Kegiatan yang dikemas dalam Lokakarya 7 Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 4 Bagi Wilayah Mitra Provinsi Jawa Timur ini dibuka oleh Kepala Dinas Dikbud Sidoarjo Dr Tirto Adi MPd didampingi Slamet Supriyadi sebagai Koordinator Pendidikan dan Pelatihan dari Widyaiswara Jatim, pada Senin, 17 Oktober 2022, di Aula SMA Negeri 4 Sidoarjo.
Ketua Panitia Adik Nuswantoro Hamid menjelaskan kegiatan ini juga sebagai Festival atau Panen Karya hasil karya CGP Angkatan 4, karena diikuti oleh 160 guru penggerak dimana setiap kelompoknya terdiri dari 10-14 CGP dan pendamping. Kegiatan ini diharapkan merubah mindset kita, bisa mewujudkan anak-anak lebih cerdas, lebih kreatif dan inovatif.
Termasuk salah satunya yang ada adalah penerapan P5 (Project Penguatan Profil Pejalar Pancasila). Guru-guru penggerak inilah yang akan mengeksekusi kurikulum merdeka di lembaganya masing-masing. Dra Deni Agutin Suliantini, ST M.Pd, salah satu CGP menjelaskan, pameran ini adalah hasil karya yang ada di program guru penggerak.
Mulai dari Loka 1 hingga Loka 6 yang terkait dengan program berbudaya positif, program untuk kepemimpinan pembelajaran. CGP juga dituntut bisa membuat proram yang inovatif dan kreatif untuk sekolah.
Deni, yang juga guru SMAN 4 Sidoarjo Mengatakan panen hasil yang dijalankan setahun ini adalah program yang berdampak pada murid terhadap pengembangan entrepreneur.
Para siswa yang punya usaha diberi wadah dalam e-maketplace BELKI (Berkah Edukasi Lugas Kreatif dan Inovatif) For You. ini sebuah wujud apresiasi kepada siswa yang dilakukan secara online, tidak menghitung untung/rugi terlebih dahulu, tetapi bagaimana mereka memanfaatkan bisa teknologi digital.
Kepala SMAN 4 Sidoarjo Dr. Imam Jawahir M.Pd berharap kegiatan panen raya hasil karya siswa ini bisa menginspirasi bagi para guru. Baik itu guru CGP ataupun yang belum.
Kurikulum Merdeka Pembajakan Potensi Generasi Muda Setelah kurikulum 13 (K-13) yang baru setengah jalan dan belum nampak hasilnya karena juga tak ada evaluasi, kurikulum pendidikan kita sudah berganti dengan kurikulum merdeka. Yang kemudian mensyaratkan ada sekolah penggerak sekaligus guru penggerak.
Jika mau jujur, kebijakan demi kebijakan yang diluncurkan pemerintah belum menyentuh persoalan besar pendidikan.
Angka anak putus sekolah kian tinggi, sarana dan prasarana sekolah yang tidak merata, kesejahteraan guru maupun calon guru yang seolah digantung, kenakalan remaja, perzinahan, bullying dan lain sebagainya.
Para guru yang sudah disibukkan dengan K-13 kini makin sibuk meramu Kurikulum merdeka, seinovatif mungkin agar siswa lebih berdaya. Kesibukan baru yang sejatinya melenceng dari upaya pembentukan karakter anak yang seharusnya.
Sasarannya anak paham iptek, guna menjadi entreupreuner. Seoalah hanya industri dan ekonomi tempat paling cocok bagi anak untuk masa depannya.
Imbangan pembelajarannya hanyalah Program Penguatan Profil Pemuda Pancasila, yang lagi-lagi arahannya adalah wirausaha. Dan seolah hanya ekonomi yang jadi persoalan generasi hari ini.
Fokus pembelajaran bukan lagi sebagai ilmuwan mumpuni yang menguasai ilmu agama, tsaqofah Islam ataupun keilmuan umum lainnya. Padahal generasi terdahulu kaum Muslim adalah polymath, orang yang menguasai lebih dari satu ilmu.
Sebut saja Al Kindi, lahir pada 801 di Kufah, Irak. Ia salah satu ilmuwan kebanggaan Islam, selain menulis bidang filsafat, Al-Kindi juga ahli dalam bidang metafisika, etika, logika dan psikologi, hingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, dan astrologi. Atau Al Razi, lahir di Kota Ray, Iran, pada 864 atau 865.
Ia adalah seorang pakar sains yang ahli dalam bidang kedokteran, filsafat, dan alkimia. Ia juga diakui luas sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah kedokteran, filsafat, dan tafsir.
Salah satu kontribusi Ar-Razi di bidang ilmu kedokteran adalah, ia menjadi orang pertama yang secara klinis membedakan antara cacar dan campak. Sepanjang hidupnya, ia telah menulis sekitar 200 manuskrip dari berbagai bidang keilmuan, termasuk astronomi dan tata bahasa.
Dan masih banyak lagi, sebagai ilmuwan, mereka berkontribusi terhadap kemaslahatan umat. Sebagai ahli agama, merekapun berada di garda terdepan mencerdaskan umat agar semakin berpegang teguh kepada Islam.
Kini, sejatinya persoalan umat tidak banyak berubah dengan ketika zaman para ilmuwan itu hidup. Hanya sarana dan prasarananya sebagai imbas teknologi yang terus berkembang.
Namun pelajar maupun mahasiswa kita tak lagi memiliki empati, bahkan tak tahu persoalan umat sejatinya yang mana. Hidup mereka dipenuhi dengan proses instan, penuh dengan tugas sekolah atau proyek yang tak memiliki linier dengan persoalan umat.
Bukankah mereka berada dalam lembaga pendidikan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik?
Secara menyeluruh, baik pemikiran maupun perilaku. Sejatinya ini adalah bentuk pembelokan dari persoalan umat yang sebenarnya, potensi guru dibajak hanya untuk memberikan materi merdeka belajar yang nir mendekat kepada Allah SWT sebagai upaya sadar diri posisi sebagai hamba.
Akhirnya, misi dan visi hidup generasi pun terbajak dengan upaya mengarahkan anak cerdas secara teknologi semata, tanpa pertimbangan aklak, akidah apalagi adab. Padahal, usia sekolah adalah usia emas memunculkan potensial pemuda sebagai pejuang agama dan negara.
Negara akan selamat jika berpegang teguh terhadap syariat dan syariat hanya bisa diterapkan jika ada kekuasaan negara. Generasi muda juga berpotensi menegakkan peradaban cemerlang dengan usia, tenaga dan pikiran mereka yang masih fresh.
Itu jika mereka hidup dan mendapatkan pendidikan dalam sistem Islam. Sebab, tujuan pendidikan dalam Islam adalah mencetak generasi yang berkepribadian Islam, baik pemikiran maupun perilaku berlandaskan kepada akidah Islam.
Sehingga mereka menjadi sosok yang paham betul apa tujuan hidup di dunia ini, yaitu menjadi hamba Allah yang dengan keilmuannya, berusaha menerapkan apa yang Allah perintahkan ataupun larang.
Dengan banyaknya output berkepribadian Islam, maka akan tercipta masyarakat Islam yang tak gentar beramat makruf nahi mungkar untuk ketinggian Islam.
Sejatinya, baratlah yang menyetting kondisi yang hari ini kita alami. Mereka menyusun program plus kurikulum untuk negeri-negeri Kaum Muslimin agar sibuk, tak punya gambaran yang benar tentang pengurusan Islam, dan pupus semangat perjuangan dan pembelaannya terhadap Islam.
Mereka tumbuh menjadi pribadi yang pragmatis, hedonis, dan tak mau berpikir berat. Mereka juga tumbuh menjadi pribadi yang egois, bahkan liberal akut. Segala sesuatu dilihat dari manfaat materi semata.
Mereka ciptakan pribadi baru yang lebih terbuka, permisif apologetik terhadap setiap serangan kafir barat kepada Islam, ironinya hari ini agen mereka adalah kaum Muslim sendiri. Dan persoalan umat yang kian pelik, sumbernya pun ada pada pendidikan yang buruk yang hanya berorientasi duniawi.
Islam Cetak Generasi Mustanir dan Peduli Umat Generasi hari ini dengan hasil ratifikasi kebijakan global oleh negara sengaja dijadikan bumper kegagalan Kapitalisme demokrasi menyelesaikan persoalan umat.
Segala daya upaya dikerahkan agar tujuan barat menguasai kaum Muslim tercapai, tak luput program belajar merdeka, guru penggerak dan apapun itu hari ini tak jauh dari upaya melanggengkan tujuan di atas.
Islam mewajibkan penyelenggaraan pendidikan ada dalam jaminan negara.
Baik dari sisi sarana dan prasarana, SDM maupun kurikulum. Tidak diperbolehkan kurikulum disusun atas selain akidah Islam.
Dalam hal ini negara juga memastikan pendidikan bisa dikenyam oleh seluruh rakyat, tak peduli statusnya apa, bahkan jika memungkinkan untuk sekolah bagi satu kaum yang nomaden.
Hal ini hanya bisa diterapkan jika sistem hari ini dicabut. Diganti dengan syariat. Allah swt berfirman dalam Qs Al-Baqarah ayat 1-2 yang artinya, “Alif lam mim.
Ini adalah kitab yang tidak ada keraguan sedikit pun padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."
Jika Alquran adalah petunjuk, maka wajib bagi yang mengimani untuk menerapkan secara keseluruhan, termasuk dalam pendidikan. Wallahu a’lam bish showab.