Pendidikan Islam Membentuk Generasi Berkepribadian Islam

Senin, 24 OKTOBER 2022

Oleh : Siti Jubaidah, M.Pd

(Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda)

Penerapan kurikulum merdeka telah dilakukan di semua lembaga pendidikan formal di negeri ini termasuk di Kalimantan Timur termasuk berbagai program implementasinya.

SITI JUBAIDAH

Diantaranya oleh SMA 1 Balikpapan yang menggelar project penguatan karakter yang dirancang di Kurikulum Merdeka ini (Prokal.co).

Tema yang diusung sekilas kekinian dan sesuai dengan generasi Z sekarang. Para siswa gencar diaruskan untuk mewujudkan pendidikan karakter yang nampak tidak dibangun berbasis aqidah Islam.

Dikarenakan agama hanya dijadikan sebatas ibadah langsung kepada Allah SWT dan menghiasi individunya dengan akhlak terpuji saja.

Sedangkan dalam berbagai interaksi multi bidang dalam kehidupan dan bernegara justru diatur dengan aturan sekuler (bukan aturan Islam).

Pendidikan karakter seperti apakah yang seharusnya diwujudkan pada generasi dari sudut pandang Islam? Agar menjadi renungan bersama.

Dikarenakan sejatinya tujuan pendidikan mewujudkan generasi yang terbaik yang bertakwa pada Allah SWT dan bermanfaat untuk umat dan agamanya, bukan yang lain.

Generasi Terbaik Binaan Islam

Output generasi binaan Islam harusnya yang kita contoh seperti para sahabat Nabi dan generasi di masa pemerintahan Islam sekitar 13 abad lamanya Islam berkuasa.

Diantaranya tercatat Shallahudin al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Alkhawarijmi, dan banyak lagi yang menjadi sosok yang sering ditampilkan. Masih banyak lagi sosok lain yang bisa kita kenal lebih dekat mengenai kehidupan cemerlang pada masa muda mereka.

Imam Syafi’i, adalah seorang pemuda tangguh. Hidup sederhana dan berkekurangan secara finansial tidak membuat Imam Syafi’i gentar untuk terus belajar.

Terlahir sebagai yatim, pada usia dua tahun, ibunya membawanya dari Palestina ke Makkah. Pada usia tujuh tahun, beliau sudah menghafal Al-Qur’an dan pada usia 10 tahun sudah menghafal Kitab Hadits Al-Muwatha’ karya Imam Malik.

Menginjak usia 15 tahun, Imam Syafi’i sudah menguasai banyak ilmu pengetahuan yang membuat ulama besar Makkah. Pemuda tangguh lainnya adalah Imam Bukhari.

Meskipun tidak tinggal di Arabia, tetapi pemahaman dan wawasannya tentang hadis sangat luar biasa. Pada usia 18 tahun, ia sudah menulis buku penting berjudul At-Tarikh al-Kabir.

Beliau berguru pada 1.080 Ulama, mengembara selama 16 tahun demi mengumpulkan hadis sahih, mengelilingi sebagian Asia dan Afrika, menghafal ratusan ribu rawi dari yang kuat nan adil sampai yang lemah dan bermasalah.

Semua itu dengan visi yang sungguh-sungguh, yakni untuk Allah, Rasulullah, dan umat Muhammad. Sungguh sebuah perjuangan yang luar biasa dan usia yang berkah dan penuh manfaat.

Profil Pemuda Muslim Berkepribadian Islam, Bukan yang Lain

Mengoptimalkan peran pemuda adalah tanggung jawab bersama. Memiliki banyak pemuda berkualitas adalah harapan setiap bangsa.

Sebaliknya, menjadi musibah besar jika punya banyak pemuda, tetapi kurang atau tidak berkualitas. Profil pemuda Islam adalah pemuda yang berkepribadian Islam yaitu pemuda yang memiliki pola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah Islam. Islam menjadi dasar dan panduan dalam berpikir dan bertingkah lakunya.

Ia senantiasa terikat dan menerapkan aturan-aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupannya. Islam pun menjadi dasar aturan dalam berinteraksi dan menyelesaikan berbagai problem kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dengan Islam pula, pemuda menjadi pemimpin yang adil di tengah umat dan kreatif dan inovatif dalam perkembangan sains dan teknologi agar memudahkan mereka menjalankan ketaatan pada Allah SWT.

Maka profil pemuda muslim menjadi khas berbeda dengan yang lain. Al-Qur’an telah memberikan panduan profil ideal seorang pemuda muslim sebagai berikut: Pertama, harus ditanamkan dalam setiap diri adalah bahwa kita ini hamba Allah Taala.

Kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah digunakan tidak lain dalam rangka beribadah dan menyempurnakan ketaatan kepada-Nya (QS Adz-Dzariyat: 56).

Kedua, adanya tanggung jawab sebagai pemimpin yang bertakwa, juga pengelola dan pemakmur bumi, sehingga peran apa pun yang dipilihnya harus dalam rangka menyempurnakan ketaatan kepada-Nya (lihat QS Al-Baqarah: 30; Al-Furqan: 74).

Ketiga, menjaga diri agar senantiasa menjadi pribadi yang lurus, tangguh, kuat, dan berkualitas (lihat QS Ar-Rum; 30; An-Nisa: 9).

Keempat, menjadi sosok penegak amar makruf nahi mungkar kapan pun dan di mana pun ia berada (lihat QS Ali ‘Imran: 110).

Memiliki generasi kuat dan berkualitas adalah perintah agama. Untuk itu, ambillah peran dalam upaya merintis generasi untuk kegemilangan Islam serta ikut memperjuangkan tegaknya peradaban Islam.

Tidak hanya peran keluarga, guru, murid dan perangkat lainnya untuk mewujudkan generasi gemilang ini, tetapi perlu adanya peran negara dalam pengurusan pendidikan yang berlandaskan Islam untuk menghasilkan generasi cemerlang. Wallahu a’lam.[]