Banjir Berulang, Upaya Pencegahan Diabaikan

Sabtu, 22 OKTOBER 2022

Oleh : Syarifah

 (Komunitas Lingkar Pena Ideologis Maros)

Bencana banjir kembali terjadi dan memakan korban jiwa. “Hujan lebat dan banjir yang terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya berakibat munculnya korban jiwa. Sebanyak tiga orang siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19, Jakarta Selatan meninggal usai tembok sekolah mereka rubuh diterjang banjir.” (Katadata.co.id).

Bukan hanya di Jakarta namun juga melanda Aceh utara, “Banjir yang melanda sebagian wilayah Aceh Utara sejak Selasa (4/10) terus meluas.

Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Abdul Muhari mengatakan hingga Kamis sore sebanyak 18.160 warga terpaksa mengungsi.” (Katadata.co.id)

Kondisi ini hampir selalu terulang setiap tahun namun upaya untuk mencegah dan mitigasi bencana seolah tidak terlalu diperhatikan secara serius oleh pemerintah.

Padahal BMKG sudah terus memberi peringatan jauh-jauh hari mengenai hal ini. Seperti yang dikutip dalam Liputan6.com, Jumat (7/10/2022) bahwa “Prakiraan Musim di mana terjadi peningkatan curah hujan sudah disampaikan sejak bulan Agustus yang lalu.

Kemudian tiap sepekan sebelum kejadian, dan diulang 2 hari hingga 1 hari sebelum kejadian. Dan akhirnya peringatan dini diberikan 3 jam hingga 30 menit sebelum kondisi ekstrem terjadi."

Namun alih-alih ada upaya mitigasi dan memperhatikan peringatan dari BMKG malah kebijakan penguasa justru hanya memperparah kerusakan alam hingga alam kehilangan daya dukung lingkungannya. Seperti penjelasan dari Dwikorita bahwa "Intensitas curah hujan sebagai faktor pemicu saja.

Kondisi lahan, saluran air dan kerusakan lahan dapat berpengaruh signifikan terhadap kejadian banjir.

Hal ini menunjukkan ketidakseriusan penguasa dalam mengurusi rakyatnya, khususnya dalam mitigasi bencana yang rutin terjadi. Kondisi ini adalah efek langsung dari penerapan sistem sekuler kapitalisme.

Sistem ini hanya mengutamakan keuntungan atau asas manfaat sehingga pembangunan dilakukan bersifat eksploitatif. Sistem ini juga yang melahirkan para pemimpin yang abai terhadap kepentingan rakyatnya.

Padahal upaya tersebut bisa dan mampu dilakukan oleh penguasa. Untuk itu rakyat atau umat membutuhkan pemimpin yang mau mengurusi rakyatnya. Pemimpin yang seperti ini hanya lahir dari system islam.

Sebab mindset pemimpin dalam islam adalah pengurus atau periayah. Rasulullah SAW bersabda bahwa “Imam adalah raa’in (penggembala) dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya”. (HR. Bukhari).

Dengan mindset tersebut pemimpin dalam pemerintahan islam akan bersungguh-sungguh dalam mengurusi rakyatnya karena tanggung jawabnya bukan hanya di dunia tapi juga diakhirat. Sistem islam akan optimal dalam mencegah penyebab banjir sehingga masyarakat akan terjaga dan terhindar dari banjir.

Adapun upayanya yakni ditinjau dari berbagai aspek, Ketika banjir terjadi karena curah hujan dan pengaruh musim maka akan memaksimalkan peran BMKG untuk memetakkan wilayah yang potensi bencana kemudian wilayah itu akan dipersiapkan sebagai wilayah siaga bencana guna untuk meminimalisir korban jiwa dan kerugian harta benda.

Namun, Ketika banjir disebabkan oleh factor yang bisa dilakukan upaya pencegahan seperti keterbatasan daya tampung tanah terhadap curah air maka akan membangun bendungan.

Ketika menengok sejarah dimasa lalu pada saat islam dijadikan aturan dalam kehidupan bernegara yang pernah tegak 1300 tahun.

Pada saat itu banyak bendungan yang dibangun kaum muslimin baik untuk keperluan mencegah banjir atau keperluan irigasi. Salah satunya adalah bendungan Guadalquivir di Kordoba yang diarsiteki oleh al-idrisi. Bahkan bendungan ini masih bisa digunakan hingga saat ini.

Upaya yang lain yakni rutinnya melakukan pengerukan di sungai yang dialiri air agar tidak terjadi pendangkalan. Melakukan pemetakan wilayah yang rawan banjir dan membuat kebijakan kepada masyarakat agar tidak membangun bangunan atau bermukim di wilayah tersebut.

Ketika hal seperti ini sudah semua kita lakukan seoptimal mungkin namun tetap terjadi banjir maka langkah selanjutnya adalah menurunkan divisi at Thawari kemaslahatan umat untuk menolong wilayah terdampak banjir yakni dilengkapi dengan peralatan canggih, pengetahuan tentang sar sehingga akan cepat mendapatkan pertolongan ketika terjadi bencana.

Juga menyediakan tenda, makanan, serta obat-obatan. Selain itu juga mengerahkan alim ulama untuk menguatkan keimanan kepada korban yang terkena bencana agar mereka tetap sabar, tabah, dan tawakkal kepada Allah dan mengambil pelajaran atas musibah yang menimpa. Wallahu a’lam bishshowwab…