Generasi Qur'ani Modern Dalam kungkungan Kapitalisme

Minggu, 16 OKTOBER 2022

Oleh :Ekke Ummu Rezqy

Pemda Provinsi Jabar berkomitmen melahirkan generasi Qur’ani. Salah satunya dengan menggagas program Satu Desa Satu Hafidz (Sadesha).

“Jadi nanti generasi kita itu generasi penghafal Al-Qur’an, tapi ada yang menjadi dokter, gubernur hebat, rektor hebat, DPR hebat, yang memenuhi harapan kita semua,” Penuturan Bapak Ridwan Kamil, Gubernur Jabar Goal dakwah kepada generasi muda untuk melahirkan generasi Qur'ani yang modern, diartikan harus hafidz Qur'an sekaligus sukses dalam bidang profesi yang ditekuni.

Bagaimana tidak, kaum muslimin banyak yang menanggalkan identitas kemuliaan dan melupakan jati diri mereka. Kebanyakan dari mereka berorientasi pada kehidupan dunia barat. Sehingga, Islam seakan-akan menjadi agama yang asing dan ter-asing kan.

Ya seperti inilah generasi Qur'ani modern dalam kungkungan sistem Kapitalisme yang kian hari menjauhkan generasi dari ajaran syariat Islam, hafalan Qur'annya hanya dijadikan ajang perlombaan jauh dari pengamalan dalam semua aspek kehidupan.

Ada ungkapan dalam bahasa Arab, “Syubanu al-yaum rijalu al-ghaddi”, pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang. Oleh karenanya, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menyadari pentingnya melahirkan generasi cemerlang berkualitas pemimpin. Di masa lalu, banyak pemuda hebat, karena generasi sebelumnya adalah orang-orang hebat.Islam memberikan perhatian besar pada generasi muda ini.

Islam dengan penerapan Syariatnya yang sempurna dan menyeluruh mampu mencetak generasi tangguh yang akan melanjutkan peradaban Islam dengan ber-syakshiyah Islamiyah, yakni mereka yang menghiasi dirinya dengan kepribadian Islam.

Ketika berpikir, mereka menjadikan Islam sebagai landasan dan referensi sehingga memutuskan hukum segala sesuatu halal atau haram semata berdasarkan penilaian Islam.

Ketika memenuhi tuntutan naluri serta kebutuhan jasmaninya, mereka pun menstandarkannya dengan syariat Islam. Akan tampak dalam perilakunya yang senantiasa menyesuaikan tuntunan syariat.

Tentu itu tidak bisa lahir begitu saja, apalagi dalam kehidupan yang didominasi ideologi yang tidak bersenyawa dengan Islam. Terlaksananya pendidikan yang baik dan berkualitas ini membutuhkan kehadiran negara sebagai penanggung jawab.

Berdasarkan sabda Nabi ﷺ,  “Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR al-Bukhari).

Semuanya ini memang membutuhkan negara dengan sistemnya yang luar biasa. Sejarah keemasan yang melahirkan generasi unggul seperti ini pun hanya pernah terjadi dalam sistem Islam bukan sistem kapitalisme.  Wallaahu’alam bi ash-shawab.