Pendapatan Merosot Sektor Pariwisatapun Digenjot

Sabtu, 27 NOPEMBER 2021

Rini Astutik

 Pemerhati Sosial

Potensi pariwisata di Propinsi Kalimantan Timur kembali dilirik oleh masyarakat dari luar negeri salah satunya Dubes Slovakia Chlebo yang menyebut, dirinya terpesona dengan keindahan Pulau Maratua Kabupaten Berau.

Hal ini disampaikan Sekprov Kaltim Muhammad Sa'bani ketika bertemu dengan Dubes Slovakia untuk RI saat launching rumah Adat Lamin Anjungan Kaltim di TMII Jakarta, Sabtu (13/11/2021) kemarin.

RINI ASTUTIK

Sa'bani menyebut negara luar tertarik untuk berinvestasi di Kaltim khususnya pariwisata. Ia berharap, para dubes negara sahabat yang hadir, khususnya Dubes Slovakia membawa para investor ke Kalimantan Timur. Salah satunya melakukan kunjungan wisata. https://kaltim.tribunnews.com/2021/11/14/bertemu-dubes-slovakia-di-jakarta-sekprov-kaltim-inginkan-kerjasama-bidang-pariwisata Disisi lain salah satu destinasi wisata di Kukar yang mendapat perhatian serius, yaitu Taman Gubang.

Destinasi wisata di kawasan danau di Desa Loa Ulung, Kecamatan Tenggarong Seberang, itu mengundang perhatian Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Sri Wahyuni.

Ditengah kemandirian dan kreativitas, destinasi wisata ini disebut memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Sehingga Pihaknya ingin berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) dalam mengembangkan pariwisata di Kaltim.

BI melihat potensi ekonominya juga memberikan pengembangan SDM di desa wisata. https://kaltim.prokal.co/read/news/392981-pembangunan-pariwisata-perlu-kolaborasi.html Sehingga pihak Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim melatih masyarakat mengembangkan produk pariwisata berbasis ekonomi masyarakat di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, mengingat tingginya pengunjung di pulau ini namun masih minim produk lokal yang bisa dijadikan kenangan.

"Pelatihan sudah berjalan dua tahun ini, sedangkan untuk pendampingannya dilakukan selama tiga tahun sehingga mereka bisa mandiri," ujar Kepala BI Perwakilan Provinsi Kaltim Tutuk SH Cahyono di Samarinda.

Pelatihan berbagai jenis keterampilan mengolah barang yang sebelumnya tidak berguna menjadi produk bernilai ini, harapannya adalah agar wisatawan yang berkunjung memperoleh kenang-kenangan berupa souvernir khas Maratua. https://kaltim.antaranews.com/berita/131441/bi-kaltim-latih-masyarakat-kembangkan-produk-pariwisata Dengan dalih menaikkan ekonomi dan pendapatan negara yang kian hari kian merosot, sehingga pemerintah Kaltim gencar mempromosikan destinasi pariwisata untuk berkolaborasi dengan pihak swasta khusunya pihak Asing, yang bertujuan untuk menjadikan sumber pendapatan daerah maupun negara menggantikan hasil tambang.

Tentunya hal ini sangat berbahaya ketika pengelolaan pariwisata berdasarkan sistem kapitalis. Dimana dalam sistem tersebut bersandarkan untung-rugi saja. Yang tidak melihat aspek bahayanya.

Begitu miris ketika Pemerintah terus berupaya melibatkan semua sektor untuk menunjang aspek pariwisata. Padahal, sibuknya pemerintah menggenjot pemasukan negara lewat pariwisata justru melupakan maraknya eksploitasi SDA oleh para kapitalis.

Maka, Industri pariwisata tidak akan membuat finansial negara menjadi kuat dan stabil sebab solusi ini hanya solusi tambal sulam. Demikianlah ancaman nyata dari sektor pariwisata yang merupakan gerbang liberalisasi. Sesungguhnya, liberalisasi tersebut adalah ruh kapitalisme yang menjajah bidang pariwisata.

Karenanya, merupakan hal yang keliru ketika pemerintah hanya berfokus pada sektor pariwisata sebagai solusi perbaikan ekonomi negara.

Seharusnya, jika negara menginginkan finansial ekonomi kuat, maka yang menjadi fokus pengelolaan adalah pada sektor strategis seperti SDA termasuk bidang lainnya yaitu pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan lain-lain tentu lebih berdaya dari pada sektor pariwisata.

Tentu saja, hal demikian tidak akan bisa dilakukan apabila negara ini masih berada dalam cengkraman sistem kapitalis. Karena sudut pandang dalam sistem tersebut adalah menjadikan materi berupa manfaat, pendapatan dan kesenangan sebagai tujuan utama digalakkannya pariwisata.

Maka, satu-satunya solusi untuk persoalan liberalisasi disektor pariwisata adalah dengan menerapkan Islam secara Kaffah. Sebab di dalam Islam, sektor pariwisata dikelola negara dengan tujuan dakwah dan propaganda. Bukan hanya sekedar menaikkan keuangan negara yang saat ini dalam situasi merosot.

Tak hanya itu, pariwisata juga bertujuan untuk membangun dan mengokohkan keimanan hamba-Nya sehingga rasa cinta yang sejati kepada Rabb-Nya semakin mendalam. Oleh karena itu, untuk bisa melepaskan diri dari penjajahan pariwisata dibutuhkan kesadaran, kemauan dan kekuatan yang bersifat ideologis dalam diri penyelenggara, negara dan masyarakat.

Caranya dengan mengembalikan penerapan ideologi yang berasal dari penguasa alam semesta sebagai jaminan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kedaulatan politik suatu negara.

Maka, sistem pemerintahan Islam dengan keagungannya menjadi alternatif tunggal yang sepadan untuk menghadapi penjajahan global kapitalisme. Wallahu a’lam bish shawab. (**)