Kepemimpinan, Memuliakan atau Menghinakan?

Jumat, 25 September 2020

Oleh: Nazarudin

Itulah pertanyaan yang harus dijawab dengan jelas, tuntas, dan cerdas. Secara umum pemimpin itu dipilih dan kemudian diangkat adalah untuk menangani urusan bersama.

Bisa dikatakan bahwa ia mewakili dan menjadi tumpuan bagi yang dia pimpin dalam me-ri'ayah (mengurus, memelihara, melindungi, mengembangkan) berbagai kepentingan.

Karena itu seorang pemimpin mestinya dipilih sesuai dengan jenis dan cakupan kepentingan itu. Memilih ketua RT tentunya tidak bisa disamakan dengan memilih manajer perusahaan.

Karenanya, para pemilih mesti sadar lebih dahulu akan urusan-urusan yang memerlukan pemimpin. Memilih pemimpin tanpa menyesuaikan dengan jenis urusannya adalah bodoh dan ceroboh.

Bagaimana mungkin urusan sebuah negara diserahkan kepada seseorang yang kapasitasnya hanya mampu memimpin warga se-RT? Di sinilah keunggulan dakwah Islam yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Beliau lebih fokus kepada mendidik umat sebagai "calon rakyat" dan bukan mengkampanyekan dirinya sebagai pemimpin. Rakyat itu bagaikan ibu dan pemimpin adalah anak yang dilahirkan.

Rakyat yang baik akan melahirkan pemimpin yang baik. Terkait diri beliau, yang dipastikan adalah keimanan sebagai utusan Allah, pembawa pesan, pembawa ajaran Islam, bukan kampanye kepemimpinan. Sebelum beliau dibai'at menjadi kepala negara Madinah beliau hanya fokus kepada dakwah mendidik dan menyiapkan umat agar paham akan tugas kehidupannya.

Untuk itu hanya Islamlah yang beliau sampaikan, bukan warisan nenek moyang maupun ajaran impor dari Romawi, Yunani, dan Persia. Padahal itulah peradaban yang dominan saat itu. Hidup hanyalah untuk ibadah.

Itulah dasar ajaran Islam mengenai misi hidup manusia. Seluruh kepentingan harus direalisasi dalam kerangka ibadah. Ibadah itu semua bentuk ketaatan kepada Allah, ketaatan kepada syariah. Urusan apapun yang direalisasi dengan taat menerapkan syariah Allah adalah ibadah.

Tidak ada bedanya antara hubungan dengan Allah, urusan bermasyarakat, bernegara, atau bergaul dan berumah tangga. Kesempurnaan Islam sebagai agama universal untuk seluruh manusia juga mewajibkan dakwah.

Kesempurnaan misi hidup itu meniscayakan umat Islam membangun sebuah negara seperti yang dirintis oleh Rasulullah di Madinah. Sekembalinya Rasulullah ke hadhirat Allah negara ini dilanjutkan oleh para khalifah yang lurus (rasyidin).

Mereka menggantikan tugas kepemimpinan beliau, tapi tidak menggantikan tugas kenabian. Tidak ada nabi setelah beliau. Itulah sebabnya Islam menetapkan bahwa khalifah sebagai kepala negara hanya mempunyai 2 tugas yaitu menerapkan syariah di dalam negeri dan mendakwahkan Islam ke luar negeri.

Para pemimpin daerah di bawahnya juga bertugas mendukung fungsi-fungsi itu, terutama terkait penerapan syariah. Hari ini kita menyaksikan degradasi kesadaran dan pemikiran pada diri umat Islam.

Mereka memilih pemimpin tanpa tahu apa yang bakal dilakukan oleh memimpin itu, atau mereka tidak peduli dengan berbagai kebijakan yang bakal diterapkan, padahal semua itu akan menentukan kehidupan mereka.

Umat nyaris tidak peduli bahwa nyatanya hukum Islam diterlantarkan dan dilecehkan. Pada saat yang sama hukum peninggalan penjajah dan hukum arahan dari para kapitalislah yang diterapkan, tentu untuk kepentingan mereka sendiri, bukan untuk umat atau rakyat.

Sudah saatnya umat kembali kepada kapasitas dan kualitas yang Allah takdirkan untuk mereka.

"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian beramar makruf nahi munkar, dan kalian beriman kepada Allah." (Ali Imran 110).

Sudah saatnya umat Islam memiliki pilihan yang menggambarkan jati dirinya, memilih dengan kesadaran Islam. Tidak menjadi pemilih buta.

Tidak memberikan "cek kosong" kepada pemimpin. Umat hanya boleh memilih pemimpin yang akan menerapkan syariah Allah dan akan berdakwah menebarkan rahmat Allah.

Bukankah saat ini dunia telah kering dari solusi berbagai persoalan? Jika bukan Islam, apa yang mereka tunggu? Kehancuran? Umat juga wajib mengubah sikap mentalnya, berubah dari sikap inferior dan seolah "fakir" menjadi mental percaya diri karena "khairu ummah" dan penentu.

Calon pemimpinlah yang wajib menyesuaikan diri. Karena itu umat tidak boleh menjual diri dan suaranya dengan sangat murah, dengan semenisasi gang, karpet masjid, sembako, atau selembar dua lembar rupiah.

Itu adalah penghinaan dan pembodohan darii para kapitalis. Kotak kosong dan demokrasi janji kosong harus ditinggalkan.

Demokrasi hanya menghasilkan kerusakan yang kian hari kian parah. Umat Islam memiliki kemuliaan karena otak mereka bukan otak kosong.

Otak mereka penuh dengan ajaran Islam yang tinggi. Hati mereka penuh rahmat yang harus ditumpahkan ke segenap penjuru dunia.

Jiwa mereka adalah besutan Nabi yang agung, juga mewarisi jiwa khulafaurrasyidin, Shalahuddin al ayyubi, Muhammad Al Fatih, Imam Asy Syafii, syeikh Abdul Qadir Jaelani, dan ribuan manusia mulia lainnya.

Relakah kita menghinakan diri menerapkan demokrasi, menjadi pengikut Sokrates, Plato, John Locke, apalagi Karl Marx?

Relakah kita menukar kemuliaan dengan kehinaan?

Menukar agama yang diridhai Allah dengan kejahiliyahan?

Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Editor: Ahmad Yani