Rabu, 9 September 2020
Mia Annisa ( Aktivis Dakwah & Penulis )
Susul menyusul berbagai pelecehan dan penghinaan terus-menerus dialamatkan kepada Islam. Belum sembuh luka kaum muslim terhadap perobekan halaman ayat Al-Quran.
Parahnya lagi, kitab suci itu diludahi oleh segerombolan manusia di Norwegia, Oslo beberapa waktu lalu saat unjuk rasa anti Islam yang datang dari kelompok SIAN untuk menolak Islamisasi di Norwegia.

Kebencian orang-orang kafir menumbuhkan benih-benih kebencian para ekstrimis. Majalah satir Charlie Hebdo misalnya kembali berulah menerbitkan ulang karikatur kanjeng Nabi Muhammad Saw yang digambarkan memakai sorban menyerupai bom yang lebih dulu diterbitkan oleh surat kabar Jerman tahun 2005. Tindakan biadab Charlie Hebdo tentu sangat melukai perasaan seluruh umat muslim di dunia.
Majalah satir itu sendiri beralasan penerbitan ulang karikatur nabi karena adanya permintaan sekaligus menandai dimulainya persidangan bagi terduga pembantu penyerangan terhadap kantor majalah tersebut pada 2015.
“Kami tidak akan pernah pasrah. Kami tidak akan pernah menyerah,” tulis editor Laurent Sourisseau dalam kutipan di halaman depan majalah yang akan dipublikasikan dalam versi cetak pada Rabu, waktu setempat, seperti dikutip Antara dari Reuters. (https://www.indozone.id/amp).
Nabi Muhammad Saw yang begitu dicintai oleh umatnya digambarkan seperti membawa bom merupakan sikap Islamphobia. Sebuah penyakit bawaan yang menempel di kepala para ekstrimis bahwa Islam seolah-olah agama teror.
Al-Quran dikatakan sebagai ayat-ayat setan dan mencintai peperangan. Nabi dideskripsikan sebagai seorang yang kasar, biadab, dan buta huruf. Status sosialnya rendah, bodoh, dan tamak kuasa.
Dipengaruhi sistem kehidupan masyarakat barat yang serba sekuler, kebebasan berekspresi lahir sebagai dalih menampilkan kartun-kartun Nabi Muhammad Saw. Inilah tameng yang digunakan para pembenci Islam baik dari kalangan orang Islam sendiri dan berada di luar Islam.
Selain untuk mendiskretditkan Islam tetapi juga menyerang kepribadian dan karakter Nabi Muhammad Saw. Keambiguan sikap penguasa baik dari dalam dan luar negeri terhadap berbagai pengulangan pelecehan Islam menunjukan bukti sistem yang diharapkan saat ini telah gagal memberikan jaminan keadilan dan kebebasan dalam beragama.
Mustahil mengandalkan sistem yang ada saat ini selama sekuler tetap dijadikan poros dalam sistem politik pemerintahan. Pelecehan dan penghinaan terhadap Islam dan Nabi akan terus ada.
Hari ini tampaknya pelecehan dan penghinaan yang dilakukan orang-orang kafir bisa ditolerir oleh dunia Barat sekalipun sangat melukai kaum Muslim. Atas nama kebebasan berekspresi barat bersembunyi dibalik nama HAM, menjunjung tinggi demokrasi dan makna toleransi yang salah kaprah. Bentuk kemunafikan mereka secara nyata.
Demokrasi telah memberikan panggung kepada orang-orang yang mendengki dan terus menyerang Islam sehingga sampai saat ini mereka masih bebas berkeliaran tanpa jeratan hukum.
Mereka dilindungi oleh berbagai peraturan dan orang-orang yang bersekongkol dengan mereka. Sudah sejak lama kebencian bala tentara kafir tak akan pernah berhenti melakukan penyerangan terhadap agama Islam.
Sebagaimana termaktub dalam (QS Ali Imran[3] : 118, "Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat.Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti."
Islam akan terus dihinakan selama tidak memiliki benteng yang kokoh dan kuat. Dulu Khilafah Utsmaniyah sanggup menghentikan rencana pementasan drama karya Voltaire yang akan menista kemuliaan Nabi saw. Saat itu Sultan Abdul Hamid II langsung mengultimatum Kerajaan Inggris yang bersikukuh tetap akan mengizinkan pementasan drama murahan tersebut. Sultan berkata, “Kalau begitu, saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!” Kerajaan Inggris pun ketakutan.
Pementasan itu dibatalkan. (https://mediaumat.news/buletin-kaffah) Tiada pelindungnya kaum muslim membuat gerombolan penyembah kapitalis liberal semakin menggila ditambah bungkamnya kaum muslim. Sudah sewajibnya kaum muslim tak tinggal diam sebab sikap diam kita sama artinya membiarkan kemungkaran kian merajalela.
Tentu sebagai kaum muslim tak ingin dikatakan seperti apa yang dikatakan oleh Imam asy-Syafii kepada orang yang diam saat agamanya dihina, "Siapa yang dibuat marah namun tidak marah maka ia adalah keledai". (HR al-Baihaqi). Na'uzdubillah.
Selayaknya menyuarakan agar para pehina dan pencela untuk diberikan hukuman yang pantas diberikan karena telah menyakiti kaum muslimin.
Harga yang pantas diberikan kepada mereka adalah memberikan hukuman mati, menurut kesepakatan para ulama dan para imam ahli fatwa, mulai dari generasi sahabat dan seterusnya.
Ibn Mundzir menyatakan, mayoritas ahli ilmu sepakat tentang sanksi bagi orang yang menghina Nabi saw. adalah hukuman mati. Ini merupakan pendapat Imam Malik, Imam al-Laits, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rahawih dan Imam as-Syafii (Lihat: Al-Qadhi Iyadh, Asy-Syifa bi Tarif Huquq al-Musthafa, hlm. 428). (https://mediaumat.news/buletin-kaffah).
Jelas sekali tidak ada kata maaf bagi mereka sekalipun mengatasnamakan seni dan kreasi. Daulah Khilafah akan melibas pihak-pihak yang menebar kebencian di tengah-tengah masyarakat hingga ke akar-akarnya. Wallahu'alam.
Editor: Ahmad Yani