Oleh: Syarif Syamsul.
Bukan karena mereka tidak tahu atau tidak mampu berpikir kritis. Bisa jadi, cara berpikir mereka sedang dipengaruhi oleh mekanisme pertahanan psikologis.
Psikolog sosial Dr. John T. Jost menjelaskan fenomena ini melalui konsep System Justification Theory.
Teori ini menerangkan bagaimana seseorang terdorong untuk membenarkan dan mempertahankan sistem, figur, atau kekuasaan yang sudah telanjur mereka dukung, bahkan ketika kenyataan menunjukkan adanya kesalahan
. Ketika seseorang sudah terlanjur menggantungkan harapan, kepercayaan, bahkan identitas dirinya kepada seorang pemimpin, mengakui bahwa pemimpin tersebut salah bukan lagi perkara sederhana.
Ada beban psikologis yang harus dihadapi: mengakui kesalahan berarti mengakui bahwa dirinya mungkin telah keliru memilih, keliru menilai, dan keliru menaruh harapan. Akibatnya, fakta mulai dicari-cari untuk disesuaikan dengan keyakinan.
Kesalahan dibela, kritik dianggap serangan, dan siapa pun yang menyampaikan kebenaran justru diposisikan sebagai lawan.
Inilah salah satu wajah System Justification: ketika kebutuhan mempertahankan keyakinan lebih kuat daripada keberanian menerima kenyataan. Padahal, pemimpin bukanlah sosok yang harus dibela dalam segala keadaan.
Jabatan bukan kesucian, kekuasaan bukan kebenaran, dan loyalitas bukan alasan untuk menutup mata. Mendukung pemimpin adalah hak.
Mengkritik kesalahannya adalah tanggung jawab. Jangan sampai kesetiaan kepada seorang figur membuat kita kehilangan keberanian untuk berpihak kepada kebenaran. Karena yang harus kita bela bukanlah pemimpin, melainkan prinsip, keadilan, dan kepentingan rakyat.