Oleh: Ninis
Aktivis Muslimah Balikpapan
Balikpapan yang sebelumnya dijuluki salah satu kota ternyaman dan tersabar perlahan terbantahkan. Pasalnya, dibalik julukan itu menyimpan berbagai problem yang urung diselesaikan oleh pemerintah.
Beberapa waktu yang lalu, Aliansi Balikpapan Bergerak menggelar aksi demo menyoroti mulai krisis air bersih, antrean BBM, hingga pemadaman listrik bergilir yang masih sering terjadi.
Berbagai problem yang disoroti tidak hanya terkait pelayanan dasar yang minim perhatian, namun juga persoalan pembangunan di Kota Balikpapan.
Persoalan air bersih sejak lama menjadi problem di sebagian wilayah Balikpapan yang belum bisa mengakses air bersih, terlebih musim kemarau ini lebih panjang.
Masyarakat juga dipersulit karena harus antre panjang untuk mendapatkan BBM bersubsidi, padahal kilang minyak terbesar ada di Balikpapan.
Ditambah lagi dengan adanya pemadaman listrik beberapa bulan terakhir dengan alasan gangguan teknis yang tak kunjung selesai. Tak hanya itu, problem kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan berat masih kerap terjadi.
Termasuk lambannya pembangunan RSUD Sayang Ibu yang menjadi perhatian dalam evaluasi yang disampaikan oleh Aliansi Balikpapan Bergerak depan Kantor Wali Kota beberapa waktu yang lalu.
Menurut Koordinator Aliansi Balikpapan Bergerak, Susliadin, berbagai persoalan tersebut bukan isu baru.
Ia mengatakan, sejumlah persoalan telah berulang kali disampaikan melalui aksi dan evaluasi sejak 2024, tetapi masyarakat masih menunggu tindak lanjut yang dinilai konkret dan terukur dari pemerintah. (Inibalikpapan.com).
Meskipun pemerintah telah merespon persolan tersebut, sayangnya belum menyelesaikan apa yang menjadi akar masalahnya.
Lantas, apa yang menyebabkan krisis air, energi, listrik, terganggunya pelayanan masyarakat yang lain dan bagaimana Islam memandang?
Liberalisasi SDAE
Berbagai kesulitan mengakses kebutuhan dasar memang sangat dirasakan selama ini dan menjadi keresahan masyarakat di Balikpapan.
Kepedulian mahasiswa dalam aksi menuntut atas pelayanan dan pertanggungjawaban pemimpin atas berbagai problem saat ini patut dipresiasi.
Namun, kita harus memahami bahwa menuntut solusi praktis karena tidak akan efektif, selama tata kelola pemerintahan yang menghasilkan kebijakan untuk masyarakat dan sumber daya energi saat ini masih dikelola berdasarkan aturan kapitalis liberal.
Artinya, tidak berhenti hanya pada aksi tuntutan agar pemerintah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Pasalnya, kebijakan yang dibuat oleh penguasa selama ini belum membuahkan hasil dan terjaminnya pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Seyogyanya, masyarakat dan penguasa memiliki cara pandang yang sama dalam persoalan krisis listrik, air, bbm. Ketika memahami apa yang menjadi akar masalahnya akan mendapatkan solusi yang tepat.
Sebab, setiap sikap dan kebijakan penguasa akan berpengaruh pada masyarakat. Jika ditelisik lebih jauh yang menjadi akar masalah berbagai problem di negeri ini sebenarnya karena liberalisasi SDAE.
Menurut paradigma kapitalisme liberal, SDAE diserahkan pada mekanisme pasar dan swasta/asing. Alhasil, kini masyarakat kesulitan mengakses air, BBM, listrik karena dimonopoli swasta, sementara posisi negara hanya sebagai regulator bukan sebagai pengelola.
Negara meskipun menurut UUD 1945 sebagai pihak yang menguasai sumber daya alam dan energi, tapi bukan berarti boleh menyerahkannya pada swasta dari hulu hingga hilir. Padahal, menguasai dalam UUD 1945 dalam konteks mengelola saja dan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat. Tapi faktanya justru rakyat jauh dari sejahtera bahkan sulit mendapatkan haknya.
SDAE Milik Umat
Air, BBM, listrik termasuk kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi oleh negara. Untuk itu masyarakat harus cerdas dengan melihat akar persoalannya dengan benar. Sehingga dapat mengambil Islam sebagai solusi yang tepat. Ketika umat memiliki kesadaran Islam politik yang benar maka masyarakat akan menasehati penguasa dan menuntut solusi sistemik bukan lagi pragmatik.
Islam memandang SDAE diantaranya mencakup air, BBM, listrik adalah milik umat. Seharusnya dikelola negara sesuai dengan syariah dan menjalankan amanah meriayah rakyat memenuhi kebutuhan dasarnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal; padang gembala, air dan api (energi).” (HR. Abu Dawud).
Berbagai problem yang menimpa umat akibat kebijakan yang zholim tidak bisa dibiarkan, harus ada upaya dakwah kepada penguasa. Jika tidak kezholiman akan terus merajalela dan menyusahkan rakyat.
Bahkan salah satu keutamaan dakwah pada penguasa yang zholim. “Sebaik-baik jihad adalah perkataan adil (kebenaran) di hadapan penguasa yang zholim.” (HR. Abu Dawud).
Untuk itu, penerapan Islam kaffah menjadi urgen. Sebab, hanya dengan penerapan Islam kaffah yang bisa menerapkan aturan Allah dan memberikan keadilan bagi semua makhluk.
Terbukti sistem buatan manusia yang ada selama ini membuat kerusakan dan ketidakadilan. Lantas, hukum siapa yang lebih baik?
"Apakah hukum jahiliyah yang merek kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baikdaripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini agamanya? (QS. Al Ma’idah:50).” Wallahu A’llam.