New Normal Life Untuk Siapa?

Kamis, 11 Juni 2020

Penulis: Siti Aisyah-Aktivis Muslimah Paser

Hingga saat ini wabah virus Corona semakin merebak di Indonesia. Terhitung pada tanggal 31 Mei kasus positif karena di Indonesia bertambah menjadi 26. 473.

Angka ini meningkat drastis sejalan dengan narasi yang baru-baru saja dikeluarkan pemerintah yakni new normal life. Hari-hari terakhir ini kalimat berdamai dengan karena selalu digembar-gemborkan di sosial media, para pejabat terus mengajak rakyat Indonesia agar bersiap menerima fakta yang ada bahwa kehidupan tak mungkin berjalan seperti semula mereka meminta rakyat agar hidup damai dengan wabah corona.

Lalu, apa definisi new normal sendiri? Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Bapak Wiku Adisasmito, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

"Secara sosial, kita pasti akan mengalami sesuatu bentuk new normal atau kita harus beradaptasi dengan beraktifitas, dan bekerja, dan tentunya harus mengurangi kontak fisik dengan orang lain, dan menghindari kerumunan, serta bekerja, bersekolah dari rumah," kata Bapak Wiku seperti dalam keterangan yang diterima Kompas.com.

Ia menerangkan, secara sosial disadari bahwa hal ini akan berpengaruh. Pasalnya, ada aturan yang disebutkan dalam protokol kesehatan untuk menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain.

Beberapa ahli dan pakar kesehatan dunia sudah memastikan kalau kemungkinan paling cepat bisa ditemukannya vaksin adalah pada tahun 2021.

Artinya, masyarakat harus menjalani kehidupan secara new normal sampai tahun depan, atau bahkan lebih. Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Dwi Wahyu Atmaji mengatakan skenario ini merupakan pedoman yang disiapkan agar PNS dapat bekerja optimal selama vaksin Corona belum ditemukan. Dia mengatakan waktu penerapan skenario kerja 'new normal' ini akan bergantung pada arahan dari Gugus Tugas Covid-19.

"Ya kita harus realistis saja bahwa Corona ini belum ada obat/vaksin, jadi harus tetap waspada," ujar Wahyu seperti dikutip dari detikcom, Minggu (24/5/2020).

Rupanya terdapat rahasia di balik kebijakan plinplan penguasa. Mereka minta rakyat berdiam, tapi bantuan kebutuhan dasar minim datang, bahkan tak dibagikan secara merata dibeberapa daerah, PSBB diberlakukan, tapi bandara dibebaskan.

Rumah ibadah minta dikosongkan, tapi mal-mal dibiarkan ramai. Kebijakan mudik pun tak serius ditegakkan hingga lalu lintas orang tak bisa dikendalikan.

Kebijakan penguasa semakin terlihat yakni memilih opsi angkat tangan. Karena melawan wabah ternyata butuh upaya yang tak ringan dan waktu yang berkepanjangan. Bisa dibayangkan, saat wabah tetap dianggap bencana, maka rakyat harus ada di bawah tanggung jawab mereka. Sementara semua sumber daya sudah nyaris tak ada.

Berkali-kali terlihat penguasa mengambil jalan pintas membebani rakyat dengan kebijakan-kebijakan yang tak pantas. Seperti baru-baru ini saja penguasa mengeluarkan kebijakan kenaikan BPJS ditengah pandemi, yang justru menimbulkan protes oleh rakyat.

Maka tak heran, jika bagi para penguasa, pernyataan “berdamai dengan corona” menjadi pilihan “terbaik” di tengah rasa putus asa atas ketidakmampuan memberi jalan keluar.

Dalihnya, wabah corona adalah wabah tak biasa. Dia merebak sejalan dengan pergerakan manusia.

Maka apa boleh buat, kita harus berdamai, bahkan bersahabat dengan corona. Rupa-rupanya, memutar roda perekonomian alias menormalisasi sistem ekonomi kapitalis-sekuler yang menurun, dipandang jauh lebih penting dibanding menyelamatkan nyawa rakyatnya.

Namun sudah bukan rahasia, bahwa gurita kapitalisme global memang berkepentingan membuat kesehatan masyarakat tak benar-benar terjaga. Bahkan ada yang curiga, di balik keputusan Lembaga Kesehatan Dunia WHO soal darurat kesehatan global akibat corona, ada kepentingan “Big Farma” dan “Big Money” yang menyetirnya.

Maka ketika wabah terbukti meluluhlantakkan perekonomian global di berbagai sektor lainnya, adalah niscaya bagi kekuatan “big money” mengambil keputusan yang lebih brutal: Mempropagandakan narasi new normal life dan membiarkan rakyat dunia “bekerja” menyambung nyawa. Karena apa pun dampaknya, toh artinya keuntungan buat mereka.

Mirisnya, sebagai negara pengekor, Indonesia dengan mudah ikut termakan propaganda. Narasi berdamai dengan corona seolah-olah menjadi satu-satunya pilihan.

Padahal sejatinya, narasi ini adalah sebuah jebakan. Agar rakyat tertutup mata, bahwa ada begitu banyak persoalan, yang berujung pada kerusakan sistem yang dijalankan, disertai hadirnya rezim ruwaibidhah yang tak berperasaan.

Namun wabah corona memang telah memberi kita banyak pelajaran. Salah satunya bahwa kekuasaan yang tak berbasis pada akidah Islam hanya akan melahirkan kerusakan.

Berbeda jauh dengan kekuasaan yang tegak di atas landasan iman. Kekuasaan Islam telah terbukti membawa kebaikan dan keberkahan bagi seluruh alam. Karena sistem hidup yang diterapkannya berasal dari Sang Maha Pencipta Kehidupan.

Kekuasaan Islam yang disebut sebagai Khilafah, senantiasa menempatkan urusan umat sebagai urusan utama. Harta, kehormatan, akal, dan nyawa rakyatnya dipandang begitu berharga.

Pencederaan terhadap salah satu di antaranya, dipandang sebagai pencederaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Karena semuanya adalah jaminan dari penegakan hukum syara’.

Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka.

Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.

Sudah saatnya umat kembali ke pangkuan sistem Islam. Yang negara dan penguasanya siap menjalankan amanah sebagai pengurus dan perisai umat dengan akidah dan syariat.

Hingga kehidupan akan kembali dilingkupi keberkahan dan kemuliaan. Wallahua'lam bis shawab  

Editor: Ahmad Yani