Oleh: Syarif Syamsul.
Kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari gedung-gedung yang menjulang, jalan yang semakin lebar, atau deretan penghargaan yang dipamerkan. Ukuran paling nyata justru terletak pada kemampuan pemerintah menghadirkan pelayanan dasar yang dapat diandalkan.
Di antara seluruh layanan itu, ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan yang tidak mengenal kompromi. Karena itu, ketika distribusi air PDAM kembali terganggu di Balikpapan, persoalannya melampaui urusan teknis.
Gangguan tersebut menyentuh langsung kehidupan masyarakat dan menjadi cermin kualitas tata kelola pelayanan publik. Baru pekan lalu, ribuan pelanggan harus bertahan tanpa aliran air selama tiga hari tiga malam.
Belum lama layanan kembali normal, hari ini gangguan serupa kembali terjadi. Bagi warga, keadaan ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan gangguan terhadap aktivitas yang paling mendasar.
Memasak, mencuci, mandi, hingga kebutuhan sanitasi bergantung pada satu hal yang sering dianggap sederhana: air yang mengalir dari keran. Kondisi tersebut terjadi pada saat kemampuan ekonomi masyarakat sedang mengalami tekanan.
Daya beli melemah, harga berbagai kebutuhan belum sepenuhnya stabil, sementara banyak keluarga berupaya menyesuaikan pengeluaran agar tetap bertahan. Ketika distribusi air terhenti, mereka dipaksa mengalokasikan biaya tambahan untuk membeli air bersih.
Beban itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, setiap pengeluaran di luar rencana memiliki konsekuensi yang nyata. Gangguan distribusi tentu dapat dijelaskan melalui berbagai faktor, mulai dari kerusakan jaringan hingga pekerjaan pemeliharaan.
Penjelasan tersebut penting sebagai bentuk keterbukaan kepada publik. Namun ukuran keberhasilan pelayanan tidak berhenti pada kemampuan menjelaskan penyebab masalah. Yang dinantikan masyarakat adalah sistem yang mampu meminimalkan gangguan, mempercepat pemulihan, dan memberikan kepastian bahwa kejadian serupa tidak menjadi pola yang terus berulang.
Di sinilah makna pelayanan publik sesungguhnya diuji. Kepercayaan masyarakat dibangun bukan ketika semuanya berjalan normal, melainkan ketika penyelenggara layanan mampu mengantisipasi persoalan, bertindak cepat saat terjadi gangguan, serta menunjukkan komitmen memperbaiki kelemahan yang ada. Balikpapan selama ini mengusung slogan "Balikpapan Nyaman Dihuni."
Slogan tersebut merupakan cita-cita yang layak diapresiasi. Namun sebuah slogan hanya akan memperoleh makna apabila tercermin dalam pengalaman sehari-hari masyarakat.
Kenyamanan tidak lahir dari narasi pembangunan semata, melainkan dari pelayanan yang hadir secara konsisten pada saat warga membutuhkannya. Air bersih termasuk layanan yang menentukan kualitas hidup masyarakat. Ketika distribusinya terganggu, dampaknya menjalar ke hampir seluruh aktivitas rumah tangga.
Karena itu, pembenahan tidak cukup dilakukan setiap kali masalah muncul. Yang lebih penting adalah memperkuat sistem pengelolaan, meningkatkan keandalan infrastruktur, memperbaiki pola pemeliharaan, dan membangun komunikasi yang terbuka sehingga masyarakat memperoleh kepastian, bukan sekadar informasi setelah gangguan terjadi.
Kritik terhadap pelayanan publik seharusnya dipandang sebagai bagian dari kontrol sosial yang sehat. Tujuannya bukan mencari pihak yang disalahkan, melainkan mendorong lahirnya pelayanan yang semakin profesional.
Sebab pelayanan publik bukan sekadar memenuhi target administrasi, tetapi memenuhi hak masyarakat yang telah mempercayakan pengelolaannya kepada negara melalui pemerintah daerah dan penyelenggara layanan. Pada akhirnya, warga Balikpapan tidak menuntut sesuatu yang berlebihan.
Mereka hanya menginginkan kepastian bahwa kebutuhan paling mendasar dapat terpenuhi tanpa dihantui gangguan yang datang dalam waktu berdekatan.
Sebab ketika keran masih kering sementara janji tentang kenyamanan terus mengalir, publik akan terus mempertanyakan seberapa jauh slogan itu benar-benar hidup dalam kenyataan, bukan sekadar menjadi rangkaian kata yang indah didengar.