Rabu, 23 JUNI 2021
TELAGA SARI sebuah waduk kecil di Kel. Telaga Sari, Kec. Balikpapan Kota, adalah pemekaran dari Kec. Balikpapan Tengah, kondisinya menimbulkan pertanyaan. Air yang tergenang di waduk itu, Tiba-tiba hilang tanpa menimbulkan jejak.
Kejadian itu, sehari setelah lebaran Idul Fitri 1442 H, tahun 2021. Hingga saat ini, waduk sebelumnya ramai tempat orang-orang mancing, hingga malam. Pemandangan itu, tak tampak lagi.
Tak jauh dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Balikpapan, bahkan tanpa batas antara kantor dan waduk.
Atas kejadian ini, pemkot Balikpapan, belum bersikap untuk mengambil langkah atas masalah waduk Telaga Sari. Padahal, ditahun 2006 lalu, waduk ini pernah menelan korban jiwa, akibat jebolnya jalan Kapten Piere Tendean, sekaligus sebagai tanggul waduk.
Waduk Telaga Sari bisa dikatakan berasa di tengah atau jantung kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Bila, terjadi sedimentasi pihak DPU (Dinas Pekerjaan Umum) sesekali bersihkan waduk memakai beko (exacavator).
Waduk ini, pernah kering bahkan tidak dalam. "Kami dulunya pernah pakai waduk itu main bola. Karena ada lapangan, ramai kami main bola di sana," kesan Kadir, warga Telaga Sari.
Sekira 2005 lalu, waduk ini bersih, sering dipakai main bola, Anak-anak sekitar.
Kisah seorang sahabat keberadaan waduk Telaga Sari, dulunya dijaman pembangunan kilang Pertamina, waduk dipakai sebagai penampungan minyak mentah pihak Belanda jaman itu.
"Dipakai sebagai penampungan minyak, karena penampungan kilng saat itu, belum memadai. Selanjutnya, waduk berfungsi sebagai tempat permandian noni-noni (cewek-cewek bangsa Benda)," ucap Ambo Aja, salah satu tokoh pemuda Balikpapan.
Bahkan dimasa kecilnya, waduk sempat dijadikan tempat hiburan dan pertunjukan ditahun 70an, tidak sedikit warga harus bayar karcis dikalahkan masuk menonton.
Sedikit sekali, cerita-cerita didapat dikalangan masyarakat Balikpapan, keberadaan waduk Telaga Sari. Apapun itu, waduk kini kehilangan fungsinya. Bahkan, dapat meresahkan warga, yang tinggal di sekitar waduk. Ada rasa was-was, atas hilangnya air waduk, tidak ada jejak atau bekas, jalur air.

Kondisi ini, menimbulkan banyak cerita, mulai dari nalar dan mistispun ada. Diantaranya, dua lubang didalam waduk salah satu penyebabnya, dulu berfungsi sebagai pintu air, dibuat orang Belanda, sebagai irigasi.
Sebagian mengatakan, sungai atau gubangan di bawah lapisan tanah juga menjadi salah satu asumsi warga, penyebab hilangnya air waduk.
Hal itu didasarkan, keberadaan beberapa sumur dalam di sekitar waduk, termasuk salah satu perusahaan air minum, juga limbahnya di buang di area waduk Telaga Sari.
Mistispun timbul, bahwa seorang perempuan penjaga waduk, juga penyebabnya. Bahkan, dulunya waduk dimasa itu, warga dan anak-anak, sering mandi-mandi di waduk. Tak sedikit diantara mereka meninggal tenggelam di waduk ini.
Kamipun, sedikit resah dan merasa tidak nyaman, tatkalah melihat waduk kering tanpa air. Keresahan itu timbul, disaat menyerup kopi disalah satu warung kopi, pasa di bibir waduk, belakang Kantor Dinas Pasar dekat Kantor Kelurahan Telaga Sari.
Kita berdoa, semoga hilangnya air waduk Telaga Sari, tidak menimbulkan bencana. Semua baik-baik saja, namun tidak boleh, lengah dan perlu waspada. (Ahmad Yani)