Taksi Kayu, Riwayatmu Dulu, Balikpapan Tempo Dulu

Minggu, 12 September 2020

BALIKPAPAN-Sekira tahun 1970, Balikpapan masih jalan kita jumpai belum beraspal, hanya sebagian jalan di sepanjang jalan Jenderal Sudirman dari Pelabuhan Semayang hingga daerah Klandasan saja yang sudah beraspal.

Sebagian jalan umum seperti, di daerah Prapatan dan Gunung Sari, masih belum beraspal atau masih berupa jalan setapak. Bila diguyur hujan akan becek dan penuh genangan air.

Meski saat ini masih kita jumpai, tapi tak separah dulu. Salah satu, paling berkesan saat itu, alat transportasi. Tidak ada pilihan angkutan umum menjadi transportasi, kalah itu.

Warga Balikpapan mengenalnya, Taksi kayu, disebut begitu karena rangka itu, terbuat dari kayu.

Acapkali kali rodanya masuk kubangan, tak heran akan menimbulkan guncangan luar biasa. Bahkan, orang tidak menyebutnya taksi kayu, tapi dijuluki taksi jamban.

Bentuk taksi Jamban terbilang unik itu, kalau dizaman sekarang bentuknya kurang lebih mirip kijang kapsul. Kemampuan Taksi jamban bisa memuat lebih dari sepuluh penumpang karena kursi sengaja dibuat memanjang di samping dan semua penumpang akan duduk berhadapan.

Taksi Jamban kalah itu, tidak pernah sepi penumpang, sekali narik taksi akan penuh sesak, isinya mulai dari orang berada, pedagang, sayuran hingga ayam.

Mungkin karena dulu jarang kendaraan sehingga, menjadi angkutan favorit masyarakat, tidak seperti sekarang dimana lebih banyak taksi tapi sedikit penumpang.

Seorang kawan, menceritakan, panggilan akrabnya, Rin. Walau ia lupa waktunya, namun saat pertama kali kakinya menginjak, bumi Kaltim atau Balikpapan, pada tahun 1976, turun dari pesawat merpati. Keluar bandara naik Taksi kayu/jamban menuju desa Manggar.

"Dalam perjalanan taksi mogok sampai tiga kali tapi asyik juga, di jaman itu," kenang Rin.

Lain halnya, kawan satunya, Sri Eko menceritakan, saat naik Taksi Kayu, bayarnya masih Rp100,- (seratus perak, red). Turun terminal Rapak ganti LG ke SMPN 3, naik angkot LG 100. Rin mengingatnya, Taksi Kayu yang asyik, kalau mogok dislenger enggak bisa hidup. Hingga, menunggu satu, dua atau tiga, taksi lewat.

"Baru didorong dari belakang, pintunya, diikat pakai tali ban sepeda," urainya.

Sementara, Harli Lunandi, mengenang Taksi Kayu, Lampu retingnya kayak tanduk +/- 15 cm diletakkan disisi kiri/kanan menempel sebelah pintu samping depan.

"Kalau mau belok, di switch, tanduknya keluar sekaligus lampunya menyala," cerita Harli, dalam WA grupnya.

Satu lagi kata Harli, windshield/kaca depan, terbagi dua bagian dengan frame kayu, bisa diputar buka tutup, untuk angin masuk atau hujan.

"Menariknya, stang setirnya masih banyak yang disebelah kiri," tuturnya.

Ambo Aja, salah satu kawan menceritakan, saat Taksi Kayu, mesin dihidupkan, dengan engkol dulu. Harli kembali bercerita kalau, SPBU-nya juga antik. Dispenser-nya diengkol, jika mau mengeluarkan bensin.

Maklum zaman itu belum ada elektrik. Ada bejana/botol kaca besar dua. Bahkan, karoseri Taksi Kayu, dibuat di Pandansari.

"Tepatnya, belakang sekolah TK Manuntung, kalau dari Karang Anyar masuk, kemudian tikungan pertama ke kanan," jelasnya.

Ambo Aja, kalah itu, tinggal di Pandan Sari Dalam, dekat tikungan Karang Anyar dalam.

Diamini, Harli Lunandi, Karang Anyar Dalam, masih ada perumahan Pertamina dan Pos PoLantas di tengah simpang tiga dekat Sipo Pertamina.

"Iyalah......di Sipo dulu itu, sering antri orang mengambil beras pas di Pompa Bensin sekarang," ucapnya. "Saya mengalami taksi kayu itu, sejak tarifnya Rp25 (dua puluh lima perak, red)," urai Harli.

Ambo Aja, menikmati Taksi Kayu, Agak lumayan, pas kelas 1 SMA NEG. 1 Sengkang pindah ke Balikpapan, masuk SMAN 3 Balikpapan. Ikut saudara, tinggal di Pandan Sari.

"Dulu kalau mau nonton di Bioskop Ria Patra tinggal jalan kaki dari rumah," cerita Ambo Aja. 

Sementara, Harli Lunandi masih anak-anak kalah itu, saat menonton Bioskop hanya boleh Hari Minggu pagi.

"Gratis pakai kartu warna merah karena almarhum ayah waktu itu, karyawan Pertamina dan kami tinggal di Komp. Parikesit," bebernya.

Ambo Aja melanjutkan, sebelum pindah sekolah, waktu masih dibangku SMP, saat berlibur ke Balikpapan, naik kapal kayu lewat Pare Pare.

"Belum ada kapal Pelni saat itu, tidak lama kemudian, baru ada KM. Kambuna, KM. Kerinci, ( Mufida dan Atirah) KM. Tidar," kenangnya.

"Oh.....aku dulu banyak berteman sama anak Pertamina, biasa kumpul pas di atas Stadion Persora dekat Masjid, biasa juga dekat Panorama," kata Ambo Aja.

Ambo Aja membenarkan, keluarga Pertamina, saat Minggu pagi, gratis menonton Bioskop, di Banua Patra bawah.

"Sebelum dibesarkan jadi Masjid masih Langgar kayu dan berkolong. Dibawahnya masih kebun kangkung dan pisang. Persis di belakang gawang goal keeper Lapangan Persora," jelas Harli.

"Bujur...masih Langgar...berubah jadi masjid kan, sekira tahun 90 an," urai Ambo Aja.

Lain halnya, Budi Irawan berbagi cerita, Balikpapan zaman itu, merasakan jalan Karang Jati Tempoe Doeloe (tempo dulu, red). Konon banyak jamban di pinggir jalan.

"Diantaranya begitu, dan antara parit dan jalan itu rata, sehingga jalan bergelombang penuh pasir," jelas Budi.

Apa yang dirasakan kawan-kawan itu, juga dirasakan M. Adil, juga sempat merasakan naik taksi jamban, mobil Jeep Willis, diselinger dari depan, kalah dihidupkan mesin, itu antara tahun 1985-1988, dirinya menetap di Balikpapan.

"Bujur, kalau tahun 1985 masih ada sisa-sisa taksi jamban, tapi tinggal beberapa unit saja beroperasi. Khususnya, untuk angkutan sayur dari pasar Pandan Sari ke Pasar Baru atau ke Pasar Rapak, kalau itu saya masih dibangku kelas SMP," tandas Ambo Aja.

Penulis/Editor: Ahmad Yani