Wacana Strategis Ekonomi Hijau, Legislator Kutim Dorong Percepatan Transisi ke Agrobisnis Berkelanjutan

Minggu 16 November 2025

SANGATA – Sebuah wacana strategis pembangunan ekonomi jangka panjang kembali mencuat dari lembaga legislatif. Faizal Rachman, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur, secara tegas menyerukan perlunya perubahan paradigma pembangunan ekonomi daerah. Ia menegaskan bahwa masa depan Kutai Timur tidak boleh lagi bergantung pada sumber daya alam yang sifatnya terbatas dan tidak dapat diperbaharui.

Faisal Rachman anggota DPRD Kutim

Dalam paparannya, Faizal menjelaskan bahwa ketergantungan berlebihan pada sektor ekstraktif, seperti pertambangan, mengandung risiko jangka panjang yang serius bagi keberlanjutan pembangunan. Eksploitasi sumber daya alam yang tidak terbarukan lambat laun akan menghadapi tantangan akibat menipisnya cadangan dan fluktuasi harga komoditas global. Pernyataan ini menegaskan posisinya yang konsisten akan pentingnya mencari alternatif ekonomi di luar sektor tradisional yang selama ini menjadi andalan.

“Fokus kita bagai mana kutai timur kedepan itu tidak lagi bertumpuh pada sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui,” tegas Faizal.

Sebagai alternatif yang konkret, Faizal mengusulkan penguatan pada sektor-sektor ekonomi yang lebih berkelanjutan dan memiliki nilai tambah tinggi. Menurutnya, Kutai Timur perlu membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal yang dapat terus dikembangkan dan diperbaharui. Usulan ini sejalan dengan tren global yang mengedepankan prinsip-prinsip ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk generasi mendatang.

Ia menambahkan bahwa transformasi ekonomi ini harus diarahkan pada penguatan dua sektor utama yang saling berkaitan. Kedua sektor ini dinilai mampu menciptakan lapangan kerja yang luas dan menjaga stabilitas ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput. Penekanan pada penciptaan lapangan kerja ini menunjukkan kesadaran akan dampak sosial yang mungkin timbul jika terjadi perlambatan di sektor ekstraktif, sehingga diperlukan penyerapan tenaga kerja yang masif dari sektor baru.

“Tapi bagaimana caranya kutai timur bisa mandiri di bidang agribisnis dan agroindustri,” jelasnya lebih lanjut.

Pernyataan Faizal ini menggarisbawahi pentingnya pergeseran dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi yang berbasis produksi dan pengolahan. Agribisnis yang kuat akan menjamin ketersediaan bahan baku, sementara agroindustri akan meningkatkan nilai ekonomi dari produk-produk pertanian tersebut. Konsep ini pada dasarnya membangun sebuah rantai nilai (value chain) yang utuh, mulai dari hulu hingga hilir, yang diharapkan dapat mengoptimalkan potensi agraris yang dimiliki oleh Kabupaten Kutai Timur.

Dengan fokus pada agribisnis dan agroindustri, Kutai Timur diharapkan dapat membangun ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah melalui industri pengolahan. Langkah strategis ini dipandang sebagai solusi jangka panjang untuk menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada sektor tambang, dan membawa kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Kutai Timur. Harapan besar ini merefleksikan sebuah visi transformatif di mana kemandirian ekonomi dan keberlanjutan lingkungan menjadi dua pilar utama dalam menata masa depan daerah yang lebih sejahtera dan resilien. (adv/*)