
Jumat 28 November 2025
SANGATTA - Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman kecewa terhadap kebijakan pasca tambang PT. Kaltim Prima Coal (KPC) yang hanya menyisakan lubang tambang, tanpa memberikan solusi, bernilai ekonomi bagi masyarakat Kutim.
"Saya kecewa melihat lahan-lahan eks tambang KPC yang begitu luas, tetapi tidak memberi nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Padahal, jika dikelola dengan benar, lahan itu bisa menjadi sumber penghidupan baru bagi warga," tegas Ardiansyah, di Sangatta.

Bupati Ardiansyah mengatakan, jangan sampai PT.KPC sebagai salah satu perusahaan terbesar yang ada di Kutai Timur cuman menguras sumber daya alam, tanpa memberikan kehidupan yang berkelanjutan di wilayah tuah bumi untung benua.
Ia jelaskan, beberapa lahan bekas pertambangan PT. KPC saat ini justru ditanami kebun sawit, yang pengelolaannya tidak memberikan dampak langsung kepada masyarakat sekitar.
Menurutnya, Jika perusahaan mau bekerja sama. Pemerintah daerah sangat terbuka untuk berdiskusi dan melakukan pengelolaan lahan bekas tambang melalui badan usaha milik desa (BUMNDes) maupun Koperasi Desa Merah Putih.
Bupati menilai, tanpa rencana berkelanjutan, daerah tambang akan menghadapi stagnasi ekonomi. Dari itu, dia meminta pihak PT. KPC untuk mencari solusi yang konkrit dalam memastikan lahan bekas tambang untuk digunakan dalam meningkatkan ekonomi lokal.
"Tambang harus menyisakan kehidupan, bukan lubang. Karena itu konsep ESG (Environment, Social, Governance) harus diterapkan nyata di lapangan," urai, Bupati Kutim.
Ardiansyah menerangkan, Kutai Timur harus bersiap melakukan pertumbuhan ekonomi hijau. Untuk itu, keberlanjutan pasca tambang tak boleh dimulai setelah tambang berhenti, melainkan sejak operasi masih berjalan. (Adv/DiskominfoKutim/*)