
Jumat 21 November 2025
SANGATTA - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Peternakan (DTPHP) komitmen dorong pengembangan peternakan Non-Ruminansia atau hewan yang memiliki pencernaan sederhana termasuk Babi.
Pengembangan hewan non-ruminansia seperti babi dan unggas menjadi salah satu komitmen pemerintah dalam mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.

Tahun anggaran 2024, Pemkab Kutim mengalokasikan dana sebesar Rp2 miliar khusus untuk mendukung pengembangan peternakan babi. Dari total anggaran tersebut, Adapun Rp1 miliar difokuskan untuk pengadaan bibit babi yang disalurkan kepada kelompok peternak di empat kecamatan.
Keempat wilayah tersebut adalah Kecamatan Teluk Pandan, Rantau Pulung, Kaliorang, dan Busang, yang dinilai memiliki potensi cukup besar dalam pengembangan usaha ternak babi.
Plt Kepala Bidang Peternakan DTPHP Kutim, Sudarman, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan bibit ini dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kesiapan kelompok ternak penerima.
"Untuk tahap ini, jumlah bibit yang disalurkan masih ratusan ekor, belum sampai ribuan. Rata-rata bobotnya antara 12 hingga 15 kilogram per ekor,” ungkap Sudarman saat ditemui di kantornya.
Dia memaparkan, proses penyaluran tidak dilakukan sembarangan. Semua bantuan berawal dari usulan resmi yang diajukan oleh kelompok peternak.
Setelah seluruh persyaratan dipenuhi, tim dari DTPHP bersama perangkat desa dan pemerintah kecamatan akan memastikan distribusi bibit berjalan transparan dan tepat sasaran.
Menurutnya, program pengembangan peternakan babi bukanlah hal baru di Kutim. Beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah secara konsisten mendorong pengembangan sektor peternakan non-ruminansia, guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga.
"Bantuan bibit ini diharapkan tidak hanya menambah populasi ternak di Kutim, tetapi juga mampu menciptakan sumber penghasilan yang berkesinambungan bagi penerima. Dengan pengelolaan yang baik, bibit akan berkembang biak, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,”kata Sudarman.
Selain menyalurkan bantuan, DTPHP Kutim juga aktif memberikan pendampingan teknis kepada para peternak. Bentuk pendampingan ini mencakup pelatihan manajemen kandang, teknik pemberian pakan yang tepat, hingga strategi pencegahan penyakit yang dapat mengancam kesehatan ternak.
Sudarman menegaskan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada keseriusan peternak penerima bantuan. Para peternak harus merawat dengan sungguh-sungguh, karena siklus pertumbuhan babi yang relatif cepat dapat memberikan keuntungan ekonomi dalam waktu yang tidak terlalu lama.
"Kami ingin memastikan bahwa bibit yang diberikan benar-benar tumbuh optimal. Jika hasilnya baik, bukan hanya keluarga penerima yang diuntungkan, tetapi juga roda perekonomian lokal akan ikut bergerak,” harapnya.
Dalam pandangannya, sektor peternakan memiliki potensi besar untuk menjadi penopang ekonomi masyarakat pedesaan.
Dengan dukungan modal dan bibit yang tepat, peternak dapat mengembangkan usahanya hingga skala lebih besar, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan. (Adv/DiskominfoKutim/*)